RESTRUKTURISASI DAN TAHAPAN MANAJEMEN KURIKULUM
MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Manajemen Kurikulum PAI dasar
Dosen Pengampu: Dr. Fahrurrozi, M.Ag.
Disusun oleh :
Emi Kurniawati 123311004
Iftitahul Hidayah 123311021
Puji
Rohmatun Choiroh 133311047
FAKULTAS ILMU
TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
WALISONGO
SEMARANG
2014
I.
PENDAHULUAN
Sejak tahun 1970 pemerintah telah
melakukan beberapa usaha pembaharuan
kurikulum, baik disekolah dasar maupun di tingkat sekolah menengah bahkan di
tingkat perguruan tinggi.
Perubahan dan pembaharuan suatu
kurikulum dapat dilakukan dengan berbagai cara mulai dari perubaha atau
pembaharuan, yang sifatnya fundamental atau konsepsional yang melandasi semua
aspek dari sistem kurikulum maupun perubahan pembaharuan yang sifatnya
penyempurnaan struktur kurikulum.
Usaha-usaha pembaharuan kurikulum di
negara kita antara lain pendirian sekolah pembangunan, proyek pembinaan
keterampilan, paket penulisan buku pelajaran, pengajaran modul, lesson plan,
up grading guru-guru, pendidikan guru berdasarkan kompetensi, sistem penilaian,
kurikulum muatan lokal.
Usaha-usaha diatas dilakukan dengan
maksud mencari suatu sistem pendidikan
atau suatu model kurikulum yang lebih tepat untuk memenuhi kebutuhan dan
tuntunan masyarakat yang senantiasa .berubah akibat perkembangan ilmu pengetahuan
dan tekhnologi.
Kurikulum sebagai alat untuk
mencapai tujuan, ternyata memegang peranan penting dalam suatu sistem
pendidikan, bila tujuan pendidikan sama-sama kita terima yakni: pembentukkan
manusia (yang sesuai dengan falsafah hidup bangsa) maka kurikulum sebagai alat
mencapai tujuan itu harus mampu mengantarkan anak didik melalui berbagai
kegiatannya menjadi manusia-manusia yang kita harapkan, yakni bertakwa, cerdas,
terampil, dan berbudi luhur, berilmu, bermoral, beramal.
Kurikulum tidak hanya dipandang
sebagai mata pelajaran yang harus diberikan kepada murid. Melainkan semua
aktifitas pendidikan yang kita rencananakan untuk dialami, diterima, dan
dilakukan oleh anak agar dapat mencapai tujuan pendidikan.
Oleh karena itiu perubahan dan
pembaharuan senatiasa dilakukian, mengingat kurikulum harus mengikuti
perkembangan dan kebutuhan masyarakat. Untuk iti dalam pembahasan makalah ini
akan dibahas tentang, tanggung jawab restrukturisasi kurikulum, apa saja
model-model restrukturisasi kurikulum, dan langkah-langkah restrukturisasi
kurikulum.
II.
RUMUSAN MASALAH
A.
Bagaimana
tanggung jawab restukturisasi kurikulum?
B.
Apa
model-model restrukturisasi kurikulum?
C.
Bagaimana
langkah-langkah restrukturisasi kurikulum?
III.
PEMBAHASAN
A.
Tanggung jawab restrukrisasi kurikulum
Dalam suatu sistem pendidikan, kurikulum itu sifatnya dinamis serta
harus selalu dilakukan perubahan dan pengembangan, agar dapat mengikuti
perkembangan dan tantangan zaman. Meskipun demikian, perubahan dan
pengembangannya harus dilakukan secara sistematis dan terararh, tidak asal
berubah. Perubahan dan pengembangan kurikulum tersebut harus memiliki visi dan
arah yang jelas, mau dibawa kemana sistem pendidikan nasional dengan kurikulum
tersebut.
Perlunya perubahan kuikulum juga karena adanya beberapa kelemahan
yang ditemukan dalam KTSP 2006 sebagai berikut (diadaptasi dari materi
sosialisasi kurikulum 2013).
1.
Isi
dan pesan-pesan kurikulum masih terlalu padat, yang ditunjukkan dengan
banyaknya mata pelajaran dan banyak materi yang keluasaan dan kesukarannya
melampui tingkat perkembanagn usia anak.
2.
Kurikulum
belum mengembangkan kompetensi secara utuh sesuai dengan visi, misi, dan tujuan
pendidikan nasional.
3.
Kompetensi
yang dikembangkan lebih didominasi oleh aspek pengetahuan, belum sepenuhnya
menggambarkan pribadi pesrta didik (pengetahuan, keterampilan, dan sikap)
4.
Berbagai
kompetensi yang diperlukan sesuai dengan perkembangan masyarakat, seperti
pendidikan karakter, kesadaran lingkungan, pendekatan dan metode pembelajaran
konstruktifistik, keseimbangan soft skills and hard skills, serta jiwa
kewirausahaan, belum terakomodasi di dalam kurikulum.
5.
Kurikulum
belum peka dan tanggap terhadap berbagai perubahan sosial yang terjadi pada
tingkat lokal, nasioanl maupun global.
6.
Standar
proses pembelajaran belum menggambarkan urutan pembelajaran yang rinci sehingga
membuka peluang penafsiran yang beraneka ragam dan berujung pada pembelajaran
yang berppusat pada guru.
7.
Penilaian
belum menggunakan standar penilaian berbasis kompetensi, serta belum tegas
memberikan layanan remediasi dan pengayaan secara berkala.
Disamping beberapa kelemahan sebagaimana dikemukakan diatas,
perubahan dan pengembangan kurikulum diperlukan karena adanya beberapa
kesenjangan kurikulum yang sedang berlaku
sekarang (pada KTSP). Sejalan dengan
perkembangan ilmu pengetahuan teknologi dan seni yang berlangsung cepat dalam
era global dewasa ini, dapat diidentifikasikan beberapa kesenjangan kurikulum
sebagai berikut.
|
KONDISI SAAT INI
|
KONDISI IDEAL
|
||
|
A. KOMPETENSI LULUSAN
|
A. KOMPETENSI LULUSAN
|
||
|
1
|
Belumsepenuhnyamenekankanpendidikankarakter
|
1
|
Berkaraktermulia
|
|
2
|
Belummenghasilkanketerampilansesuaikebutuhan
|
2
|
Keterampilan yang relevan
|
|
3
|
Pengetahuan-pengetahuanlepas
|
3
|
Pengetahuan-pengetahuanterkait
|
|
B. MATERI PEMBELAJARAN
|
B. MATERI PEMBELAJARAN
|
||
|
1
|
Belumrelevandengankompetensi yang dibutuhkan
|
1
|
relevandenganmateri yang dibutuhkan
|
|
2
|
Bebanbelajarterlakuberat
|
2
|
Materiesensial
|
|
3
|
Terlaluluas, kurangmendalam
|
3
|
Sesuaidengantingkatperkembanngananak
|
|
C. PROSES PEMBELAJARAN
|
C. PROSES PEMBELAJAR
|
||
|
1
|
Berpusatpada guru
|
1
|
Berpusatpada
|
|
2
|
Proses pembelajaranberorientasipadabukuteks
|
2
|
Sifatpembelajaran yang kontekstual
|
|
3
|
Bukutekshanyamemuatmateribahasan
|
3
|
Bukuteksmemuatmateridan proses pembelajaran,
sistempenilainsertakompetensi yang diharapkan
|
|
D. PENILAIAN
|
D. PENILAIAN
|
||
|
1
|
Menekankanaspekkognitif
|
1
|
Menekankanaspekkognitif, afektif,
psikomotoriksecaraproporsional
|
|
2
|
Tesmenjadicarapenilaian yang dominan
|
2
|
Penilaiantespadaportofoliosalingmelengkapi
|
|
E. PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
|
E. PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
|
||
|
1
|
Memenuhikompetensiprofesisaja
|
1
|
Memenuhikomptensiprofesi, pedagogi, sosial, dan
personal
|
|
2
|
Fokuspadaukurankinerja PTK
|
2
|
Motivasimengajar
|
|
F.
PENGELOLAAN KURIKULUM
|
F. PENGELOLAAN KURIKULUM
|
||
|
1
|
Satuanpendidikanmempunyaipembebasandalampengelolaankurikulum
|
1
|
Pemerintahpusatdandaerahmemilikikendalikualitasdalampelaksanaankurikulum
di tingkatsatuanpendidikan
|
|
2
|
Masihterdapatkecenderungansatuanpendidikanmenyusunkurikulumtanpamempertimbangkankiondisisatuanpendidikan,
kebutuhanpesertadidik, danpotensidaerah
|
2
|
Satuanpendidikanmampumenyusunkurikulumdenganmempertimbangkankondisisatuanpendidikan,
kebutuhanpesrtadidik, danpotensidaerah
|
|
3
|
Pemerintahhanyamenyiapkansampaistandarisimatapelajaran
|
3
|
Pemerintahmenyiapaknsemuakomponenkurikulumsampaibukuteksdanpedoman
|
Dalam kerangka inilah perlunya pengembangan kurikulum 2013, untuk
menghadapi berbagai masalah dan
tantangan masa depan yang semakin lama semakin rumit dan kompleks. Berbagai
tantangan masa depan tersebut antara lain berkaitan dengan globalisasi dan
pasar bebas, masalh lingkungan hidup, pesatnya kemajuan teknologi informasi,
konvergensi ilmu dan teknologi, ekonomi berbasis pengetahuan, kebangkitan industri
kreatif dan budaya, pergeseran kekuatan ekonomi dunia, pengaruh dan imbas
teknosains, mutu, investasi dan transformasi pada sector pendidikan.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, kurikulum harus mampu
membekali pesrta didik dengan berbagai kompetensi. Kompetensi yang diperlukan
di masa depn sesuai dengan perkembangan global antara lain: kemampuan
berkomunikasi, kemampuan berfikir jernih dan kritis, kemampuan mempertimbangkan
segi moral suatu permasalahan, kemampuan menjadi warga Negara yang bertanggung
jawab, kemampuan mencoba untuk mengerti dan toleran terhadap pandangan yang
berbeda, kemampuan hidup dalam masyarakat yang mengglobal, memiliki minat luas
dalam kehidupan, memiliki kesiapan untuk bekerja, memiliki kecerdasan sesuai
dengan bakat/minatnya, dan memiliki rasa tanggung jawab terhadap lingkungan[1].
B.
Model-model Restrukturisasi Kurikulum
Menurut Robert S. Zais dalam bukunya “curriculum: principles and
Foundation” mengemukakan delapan model pengembangan kurikulum.Secara
singkat, model-model tersebut diantaranya :
1. The Administrative Model
Model Administratif diistilahkan juga model garis staf atau top
down, dari atas ke bawah.
Pengembangan kurikulum ini dilaksanakan
sebagai berikut :
a.
Atasan
membentuk tim yang terdiri atas para pejabat teras yang berwenang (pengawas
pendidikan, kepsek, dan pengajar inti).
b.
Tim
merencanakan konsep rumusan tujuan umum dan rumusan falsafah yang diikuti.
c.
Dibentuk
beberapa kelompok kerja yang anggotanya terdiri atas para spesialis kurikulum
dan staf pengajar yang bertugas untuk merumuskan tujuan khusus, GBPP, dan
kegiatan belajar.
d.
Hasil
kerja direvisi oleh tim atas dasar pengalaman atau hasil dari try out.
e.
Setelah
try out yanng dilakukan oleh kepala sekolah, dan telah direvisi
seperlunya, baru kurikulum tersebut diimplementasikan.[2]
Dalam pelaksanaan kurikulum tersebut,
selama tahun-tahun permulaan diperlukan pula adanya kegiatan monitoring, pengamatan dan pengawasan serta bimbingan dan pelaksanannya. Setelah berjalan beberapa
saat perlu dilakukan evaluasi, untuk menilai baik validitas
komponen-komponennya, prosedur pelaksanaan maupun keberhasilannya. Penilaian
menyeluruh dapat dilakukan oleh tim khusus sekolah yang bersangkutan. Hasil
penilaian tersebut merupakan umpan balik, baik instansi pendidikan di tingkat
pusat, daerah maupun sekolah.[3]
2.
The
Grass-Roots Model
Inisiatif pengembangan kurikulum dalam model ini berada di tangan
guru-guru sebagai pelaksanan kurikulum di sekolah, baik yang bersumber dari
satu sekolah maupun dari beberapa sekolah sekaligus. Model ini di dasarkan pada
dua pandangan pokok, yaitu : pertama, implementasi kurikulum akan lebih
berhasil apabila guru-guru sebagai pelaksana sudah dari sejak semula terlibat
secara lamgsung dalam pengembangan kurikulum. Kedua, pengembangan
kurikulum bukan hanya melibatkan personel yang profesional (guru) saja, tetapi
juga siswa, orang tua, dan anggota masyarakat. Dalam kegiatan pengembangan
kurikulum demikian, kerja sama dengan orang tua murid dan masyarakat sangatlah
penting. Kerja sama diantara guru dengan sendirinya merupakan bagian yang tak
terpisahkan dari model ini.
Model grass-roots
didasarkan atas empat prinsip, yaitu :
a)
Kurikulum
akan bertambah baik, jika kemampuan profesional guru bertambah baik.
b)
Kompetensi
guru akan bertambah baik, jika guru terlibat secara pribadi didalam merevisi
kurikulum.
c)
Jika
guru terlibat dalam merumuskan tujuan yang ingin dicapai, menyeleksi,
mendefinisikan dan memecahkan masalah, mengevaluasi hasil, maka hasil
pengembangan kurikulum akan lebih bermakna.
d)
Hendaknya
diantara guru-guru terjadi kontak langsung sehingga mereka dapat saling
memahami dan mencapai suatu konsensus tentang prinsip-prinsip dasar, tujuan dan
rencan.[4]
3.
The Demonstration Model
Model ini dikembangkan untuk
memperkenalkan suatu inovasi kurikulum dalam skala kecil. Dalam pelaksanaannya,
model ini menuntut sejumlah guru dalam suatu sekolah untuk mengorganisasikan
dirinya dalam memperbarui kurikulum. Menurut Smith, Stanley dan Shores, model
demonstrasi terdiri atas dua bentuk, yaitu :
a.
Dalam
bentuk pertama yang cenderung bersifat formal
b.
Dalam
bentuk kedua dianggap kurang formal dibandingkan dengan bentuk pertama karena guru-guru yang merasa
kurang puas dengan kurikulum yang ada membuat eksperimen di dalam area
tertentu..
4.
Bauchamp’s System Model
Model ini dikembangkan oleh G. A. Beauchamp (1964).
Langkah-langkahnya sebagai berikut :
a.
Suatu
gagasan pengembangan kurikulum yang telah dilaksanakan dikelas, di perpustakaan
sekolah, disebarluaskan di sekolah-sekolah di dearah tertentu baik skala
regional maupun nasional yang disebut arena.
b.
Membentuk
tim pengembang yang terdiri atas ahli kurikulum, para ekspert, staf
pengajar, petugas bimbingan, dan nara sumber lain.
c.
Tim
menyusun tugas pengajaran, materi dan pelaksanaan proses belajar mengajar.
Untuk tugas tersebut perlu dibentuk : dewan kurikulum sebagai koordinator yang
bertugas juga bertugas sebagai penilai pelaksanaan kurikulum, memilih materi
pelajaran baru, menentukan berbagai kriteria untuk memilih kurikulum mana yang
akan dipakai, dan menulis secara menyeluruh mengenai kurikulum yang akan
dikembangkan.
d.
Menjelskan
kurikulum yang ada di sekolah.
e.
Mengevaluasi
kurikulum yang berlaku.[5]
5.
Taba’s Inverted Model
Model terbalik ini
dikembangkan oleh Hilda Taba atas data induktif yang disebut model terbalik,
karena biasanya pengembangan kurikulum didahului oleh konsep-konsep yang datangnnya
dari atas secara deduktif.
Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut :
a.
Mendiagnosis
kebutuhan, merumuskan tujuan, menentukan materi, menentukan penilaian,
memerhatikan antara luas dan dalamnnya bahan, kemudian disusunlah suatu unit
kurikulum.
b.
Mengadakan
try out
c.
Mengadakan
revisi atas dasar try out
d.
Menyusun
kerangka kerja teori
e.
Mengemukan
adanya kurikulum baru yang akan didesiminasikan. [6]
6.
Roger’s Interpersonal Relations Model
Kurikulum yang dikembangakan hendaknya dapat mengembangkan
inndividu secara fleksibel terhadap perubahan-perubahan dengan cara melatih
diri berkomunikasi interpersonal.
Langkah-langkahnya :
a.
Diadakan
kelompok untuk dapat mengadakan hubungan interpersonal ditempat yang tidak
sibuk.
b.
Kurang
lebih dalam satu minggu para peserta mengadakan saling tukar pengalaman,
dibawah pimpinan staf pengajar.
c.
Kemudian
diadakan pertemuan dengan masyarakat yang lebih luas lagi dalam satu sekolah,
sehingga hubungan intarpersonal akan lebih sempurna. Yaitu hubungan antar guru
dengan guru, guru dengan peserta didik, peserta didik dengan peserta didik
dalam suasana yang akrab.
d.
Selanjutnya
pertemuan mengikutsertakan dengan anggota yang lebih luas lagi, yaitu dengan
mengikutsertakan para pegawai administrasi dan orang tua peserta didik. Dalam situasi yang demikian diharapkan
masing-masing person akan saling menghayati, dan lebih akrab, sehingga
memudahkan pemecahan problem sekolah yang dihadapi.
7.
The Systemic Action-Research Model
Model ini berasal dari
seorang psikolog Carl Rogers. Dia
berasumsi bahwa “kurikulum diperlukan dalam rangka mengembangkan individu yang terbuka,
luwes dan adaptif terhadap situasi perubahan.”[7]
Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut :
a.
Dirasa
adanya problem proses belajar mengajar di sekolah yang perlu diteliti.
b.
Mencari
sebab-sebab terjadinya problem dan sekaligus dicari pemecahannya. Kemudian
menentukan putusan apa yangn perlu diambil sehubungan dengan masalah yang
timbul tersebut.
c.
Melaksanakan
putusan yang telah diambil.[8]
8.
Emerging
Technical Model
Perkembangan bidang
teknologi dan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai efisiensi dan efektivitas
dalam bisnis, juga mempengaruhi perkembangan model-model kurikulum. tumbuh
kecenderungan-kecenderungan baru yang didasarkan atas hal itu, diantaranya :
a.
The
Analysis Model, menekankan
penguasaan perilaku atau kemampuan. Suatu perilaku atau kemampuan yang
kompleks.
b.
The System Analysis Model, berasal
dari gerakan efisiensi bisnis. Langkah pertama dari model ini adalah menentukan
spesifikasi perangkat hasil belajar yang harus dikuasi siswa. Langkah kedua
adalah menyusun instrumen untuk menilai katercapaian hasil belajar tersebut.
Langkah ketiga, mengidentifikasi tahap-tahap ketercapaian hasil serta perkiraan
biaya yang diperlukan. Langkah keempat, membandingkan biaya dan keuntungan dari
beberapa program pendidikan.
C.
Langkah-langkah restrukturisasi kurikulum
Pada umumnya ada sepuluh langkah yang harus ditempuh dalam
melakukan pembaharuan kurikulum, antara lain:
1.
Mengenal
atau mengidentifikasi kebutuhan perubahan kurikulum
Artinya menilai ada tidaknya masalah-masalah pokok yang harus
dilakukan perubahan. Oleh karena itu perlu dilakukan penilaian dan pengukuran
pendahuluan terhadap kurikulum yangsedang berjalan.
Penilaian dan pengukuran pada hakikatnya adalah melihat perbedaan
yang dapat di ukur, antara hasil yang dicapai dengan hasil yang di inginkan.
Dengan kata lain melihat kesenjangan secara kuantitatif dan kualitatif antara
apa seharusnya dengan apa adanya.
Faktor
dalam perubahan kurikulum meliputi:
a.
Perubahan
dalam aspirasi masyarakat
b.
Perubahan
dalam teori belajar mengajar
c.
Perubahan-perubahan
yang terjadi dalam prinsip dan falsafah pendidikan
d.
Perubahan
dalam teori komunikasi
e.
Perkembangn-perkembangan
baru dalam ilmu pengetahuan dan tekhnologi
Gagasan mengadakan perubahan kurikulum bisa datang dari berbagai
sumber, antara lain:
a.
Tingkat
atas, dalam pengertian dari kalangan pejabat pemerintah, pejabat pendidikan,
dll
b.
Bersumber
dari bawah, artinya berasal dari tenaga-tenaga pelaksanaan kurikulum, seperti
guru, kepala sekolah, dan tenaga lainnya
c.
Dari
instansi-instansi baik pemerintah maupaun swasta misalnya pabrik, perusahaaan
industri, dan lembaga lainnya
d.
Dari
hasil-hasil penelitian bidang pendidikan, psikologi. Sosiologi, dan ilmu-ilmu
perilaku lain yang berhubungan dengan pendidikan kurikulum.
2.
Mobilisasi
suatu perubahan kurikulum
Setelah ditemukan masalah pokok yang menjadi garapan perubahan
kurikulum, barulah dipikirkan wadah yang akan mengorganisasi perubahan
tersebut, wadah semacam ini bisa berupa badan atau komite yang bisa bekerja
secara rutin. Pimpinan dan anggota badan akan lebih berhasil bila mereka yang
mempunyai kekuasaan administratif dalam bidang pendidikan.
3.
Studi
tentang masalah dan kebutuhan masyarakat
Dalam mengembangkan suatu kurikulum, dibeberapa negara sering
mengadakan analisis terhadap sektor-sektor masyarakat, baik masalahnya maupun
kebutuhannya.Beberapa aspek yang perlu dianalisis dan teliti untuk keperluan
pembaharuan kurikulum antara lain:
Potensial sosial ekonomi, sistem nilai-nilai (sosial, moral) yang
berlaku. Masalah dan kebutuhan masyarakat, lapangan pekerjaan (job
analisys), masalah-masalah sosial seperti ketegangan atau konflik sosial, pengangguran.
Di samping itu terdapat juga penelitian terhadap situasi yang dihadapi
senantiasa berubah-ubah dari masa kemasa seperti pernah dikemukakan oleh
stratmeyer.
4.
Studi
tentang karakteristik dan kebutuhan anak didik
Pada hakikatnya kurikulum itu untuk anak atau melayani kepentingan
anak didik. Dalam pengertian menyediakansegala program belajar, kegiatan
belajar dan pengalaman belajar untuk mengembangkan potensi anak dibawah
tanggung jawab sekolah. Oleh karena itu sewajarnya tentang studi tentang perkembangan,
pertumbuhan, bakat, minat kesanggupan, kebutuhan anak dijadikan dasar dalam
perubahan kurikulum. Perhatian banyak ditujukan kepada anak, agar anak yang
harus menyesuaikan diri dengan mata pelajaran tetapi sebaliknya mata pelajaran
yang harus disesuaiakan dengan anak. Tuntunan ini mendorong untuk mengadakan
studi yang mendalam tentang hakikat anak.
5.
Formulasi
tujuan pendidikan
Perumusan tujuan pendidikan merupakan langkah pertama, yang
sangat menentukan dalam proses perubahan
kurikulum. Formulasi tujuan pendidikan secara umum bersifat filosofis, sosiologis,
dan psikologis.
Kriteria
pokok dalam merencanakan pengorganisasian pengalaman belajar, anatara lain:
a.
Tujuan
harus didasarkaan pada tiga macam studi, yakni; studi tentang kebutuhan sosial,
karakteristik siswa, dan studi tentang isi mata pelajaran
b.
Tujuan
harus membimbing kearah pemilihan isis kurikulum
c.
Komponen-komponen
hendaknaya dinyatakan dengan jelas sehingga mudah dijabarkan.
6.
Menetapkan
aktivitas belajar dan mata pelajaran
Setelah merumuskan tujuan pendidikan, langkah berikutnya memilih
dan menerapkan aktivitas belajar dan pemilihan mata-mata pelajaran yang serasi
dengan tujuan, hal ini merupakan tugas berat dan memerulkan penghayatan yang
tinggi terhadap nilai-nilai ilmu pengetahuan. Kesesuaian mata pelajaran dan
aktivitas belajar yang diperlukan, hanya dapat ditentukan dalam hubungannya
dengan kebutuhan, keadaan lingkungan.
Setiap mata pelajaran yang dipilih perlu mengandung aspek-aspek
pengetahuan, sikap, dan ketrampilan yang berkenaan dengan makna yang terkandung
dalam tujuan pendidikan.
Beberapa kriteria dalam memilih aktivitas belajar dan jenis mata
pelajaran, antara lain:
a.
Mata
pelajaran harus berorientasi dan mendukung tercapainya tujuan pendidikan
b.
Pengalman
belajar hendaknya sesuai dengan minat dan kebutuhan anak
c.
Pengalaman
belajar hendaknya mencakup berbagai aspek kegiatan belajar
d.
Memberi
kesempatan pada anak mempraktekkan hal-hal yang telah dipelajarinya
e.
Mata
pelajaran yang dipilih harus berorientasi akademis, praktis, dan sesuai dengan
perkembangan anak
f.
Mata
pelajaran yang dipilih berguna dan berhubungan dengan nilai-nilai dan
kepentingan masyarakat
g.
Mata
pelajaran dan aktivitas belajar mendorong minat dan pembentukan sikap anak
7.
Mengorganisasi
pengalaman belajar dan perencanaan unit-unit mata pelajaran
Dalam mengorganisasi pengalaman belajar harus terlebih dahulu
mengenal pola-pola organisasi kurikulum. Yang mana harus ada modifikasinya
antara yang satu dengan yang lainnya.
8.
Pengujian
kurikulum yang diperbaharui
Kurikulum yang telah diperbaharui sebelum dilaksanakan perlu
dicobakan terlebih dahulu agar mencapai hasil yang optimal. Dalam proses uji
coba selalu dianalisis, diamati, untuk diadakan revisi. Uji coba dikatakan
berhasil apbila dengan kurikulum tersebut tujuan pendidikan dapat dicapai
sesuai dengan harapan perubahan.
9.
Pelaksanaan
kurikulum baru
Kurikulum baru yang telah disusun, direvisi, dan telah diuji
cobakan, hendaknya diterapkan dengan mengerahkan seloruh pendapat masyarakat
agar menerima ide-ide pembahrauan pada kurikulum tersebut.Para pendidik sebagai
pelaksana kerikulum hendaknya dipersiapkan terlebih dahulu melalui penataan
agar mereka siap melaksanakannya
Disamping itu juga harus ada supervisior untuk menangani tingkat
kemampuan dalam pembinaan kurikulum yang akan ditetapkan
10.
Evaluasi
dan revisi berikutnya
Evaluasi dan pengembanga kurikulum selanjutnya tetap dilakukan
melalui monitoring yang terencana, terpola, dan terprogram.
Dalam
evaluasi ini ditempuh dengan dua cara, yakni:
a.
Penilaian
formatif, yakni penilaian yang dilakukan pada saat berlangsungnya pelaksanaan
kurikulum
b.
Penilaian
sumatif, yakni penilaian yang dilakukan setelah selesainya pelaksanaan
kurikulum. [10]
IV.
KESIMPULAN
Dalam suatu sistem pendidikan,
kurikulum itu sifatnya dinamis serta harus selalu dilakukan perubahan dan
pengembangan, agar dapat mengikuti perkembangan dan tantangan zaman. Meskipun
demikian, perubahan dan pengembangannya harus dilakukan secara sistematis dan
terararh, tidak asal berubah. Perubahan dan pengembangan kurikulum tersebut harus
memiliki visi dan arah yang jelas, mau dibawa kemana sistem pendidikan nasional
dengan kurikulum tersebut.
Model-model restrukturisasi
kurikulum adalah sebagai berikut:
1. The Administrative Model
2. The The Demonstration Model
3. Grass-Roots Model
4. Bauchamp’s System Model
5. Taba’s Inverted Model
6. Roger’s Interpersonal Relations
Model
7. The Systemic Action-Research Model
8. Emerging Technical Model
Langkah-langkah restrukturisasi kurikulum adalah sebagai berikut:
1.
Mengenal
atau mengidentifikasi kebutuhan perubahan kurikulum
2.
Mobilisasi
suatu perubahan kurikulum
3.
Studi
tentang masalah dan kebutuhan masyarakat
4.
Studi
tentang karakteristik dan kebutuhan anak didik
5.
Formulasi
tujuan pendidika
6.
Menetapkan
aktivitas belajar dan mata pelajaran
V.
PENUTUP
Demikianlah makalah
yang dapat kami paparkan.
Dan kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih
banyak kekurangan. Untuk itu, saran dan kritik serta bimbingan dan arahan dari
teman-teman dan bapak dosen selalu kami harapkan. Dan akhirnya, kami hanya
berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Zainal, 2012, Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum,
Bandung : PT Remaja Rosdakarya,
Dakir, 2010, Perencanaan dan Pengembangan
Kurikulum, Jakarta : Rineka Cipta.
Syaodih Sukmadinata,
Nana , 2010, Pengembangan
Kurikulum Teori dan Praktek, Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Sudjana, Nana , 1996, Pembinaan dan
Pengembangan Kurikulim di sekolah, Bandung: Sinar Baru Algensindo
Mulyasa, 2013, Pengembangan Dan Implementasi Kurikulum,
Bandung: PT REMAJA ROSDA KARYA.
[1]Mulyasa, pengembangan dan
implementasi kurikulum, (Bandung: PT REMAJA ROSDA KARYA, 2013), hlm. 59
[2]Dakir, Perencanaan
dan Pengembangan Kurikulum, (Jakarta : Rineka Cipta, 2010), hlm. 105.
[3] Nana Syaodih
Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, (Bandung : PT
Remaja Rosdakarya, 2010), hlm. 162.
[4] Zainal Arifin, Konsep dan Model
Pengembangan Kurikulum, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2012), hlm. 139.
[5]Dakir, Perencanaan
dan Pengembangan Kurikulum, (Jakarta : Rineka Cipta, 2010), hlm. 106-107.
[6]Dakir, Perencanaan
dan Pengembangan Kurikulum, hlm. 107.
[7]Zainal Arifin, Konsep
dan Model Pengembangan Kurikulum, hlm.
142.
[8]Dakir, Perencanaan
dan Pengembangan Kurikulum, hlm. 108.
[9]Nana Syaodih
Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, hlm. 170.
[10]
Nana Sudjana, Pembinaan
dan Pengembangan Kurikulim di sekolah, (Bandung: Sinar Baru Algensindo,
1996), hal 148-150
No comments:
Post a Comment