Monday, April 20, 2015

RESTRUKTURISASI DAN TAHAPAN MANAJEMEN KURIKULUM


RESTRUKTURISASI DAN TAHAPAN MANAJEMEN KURIKULUM

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah: Manajemen Kurikulum PAI dasar

Dosen Pengampu: Dr. Fahrurrozi, M.Ag.

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                                                     

 

 

 

 

 

 

Disusun oleh :

 

Emi Kurniawati                       123311004

Iftitahul Hidayah                    123311021

Puji Rohmatun Choiroh          133311047

 

 

 

 

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2014

 


       I.            PENDAHULUAN

Sejak tahun 1970 pemerintah telah melakukan  beberapa usaha pembaharuan kurikulum, baik disekolah dasar maupun di tingkat sekolah menengah bahkan di tingkat perguruan tinggi.

Perubahan dan pembaharuan suatu kurikulum dapat dilakukan dengan berbagai cara mulai dari perubaha atau pembaharuan, yang sifatnya fundamental atau konsepsional yang melandasi semua aspek dari sistem kurikulum maupun perubahan pembaharuan yang sifatnya penyempurnaan struktur kurikulum.

Usaha-usaha pembaharuan kurikulum di negara kita antara lain pendirian sekolah pembangunan, proyek pembinaan keterampilan, paket penulisan buku pelajaran, pengajaran modul, lesson plan, up grading guru-guru, pendidikan guru berdasarkan kompetensi, sistem penilaian, kurikulum muatan lokal.

Usaha-usaha diatas dilakukan dengan maksud  mencari suatu sistem pendidikan atau suatu model kurikulum yang lebih tepat untuk memenuhi kebutuhan dan tuntunan masyarakat yang senantiasa .berubah akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi.

Kurikulum sebagai alat untuk mencapai tujuan, ternyata memegang peranan penting dalam suatu sistem pendidikan, bila tujuan pendidikan sama-sama kita terima yakni: pembentukkan manusia (yang sesuai dengan falsafah hidup bangsa) maka kurikulum sebagai alat mencapai tujuan itu harus mampu mengantarkan anak didik melalui berbagai kegiatannya menjadi manusia-manusia yang kita harapkan, yakni bertakwa, cerdas, terampil, dan berbudi luhur, berilmu, bermoral, beramal.

Kurikulum tidak hanya dipandang sebagai mata pelajaran yang harus diberikan kepada murid. Melainkan semua aktifitas pendidikan yang kita rencananakan untuk dialami, diterima, dan dilakukan oleh anak agar dapat mencapai tujuan pendidikan.

Oleh karena itiu perubahan dan pembaharuan senatiasa dilakukian, mengingat kurikulum harus mengikuti perkembangan dan kebutuhan masyarakat. Untuk iti dalam pembahasan makalah ini akan dibahas tentang, tanggung jawab restrukturisasi kurikulum, apa saja model-model restrukturisasi kurikulum, dan langkah-langkah restrukturisasi kurikulum.

 

 

 

    II.            RUMUSAN MASALAH

A.    Bagaimana tanggung jawab restukturisasi kurikulum?

B.     Apa model-model restrukturisasi kurikulum?

C.     Bagaimana langkah-langkah restrukturisasi kurikulum?

 III.            PEMBAHASAN

A.    Tanggung jawab restrukrisasi kurikulum

Dalam suatu sistem pendidikan, kurikulum itu sifatnya dinamis serta harus selalu dilakukan perubahan dan pengembangan, agar dapat mengikuti perkembangan dan tantangan zaman. Meskipun demikian, perubahan dan pengembangannya harus dilakukan secara sistematis dan terararh, tidak asal berubah. Perubahan dan pengembangan kurikulum tersebut harus memiliki visi dan arah yang jelas, mau dibawa kemana sistem pendidikan nasional dengan kurikulum tersebut.

Perlunya perubahan kuikulum juga karena adanya beberapa kelemahan yang ditemukan dalam KTSP 2006 sebagai berikut (diadaptasi dari materi sosialisasi kurikulum 2013).

1.      Isi dan pesan-pesan kurikulum masih terlalu padat, yang ditunjukkan dengan banyaknya mata pelajaran dan banyak materi yang keluasaan dan kesukarannya melampui tingkat perkembanagn usia anak.

2.      Kurikulum belum mengembangkan kompetensi secara utuh sesuai dengan visi, misi, dan tujuan pendidikan nasional.

3.      Kompetensi yang dikembangkan lebih didominasi oleh aspek pengetahuan, belum sepenuhnya menggambarkan pribadi pesrta didik (pengetahuan, keterampilan, dan sikap)

4.      Berbagai kompetensi yang diperlukan sesuai dengan perkembangan masyarakat, seperti pendidikan karakter, kesadaran lingkungan, pendekatan dan metode pembelajaran konstruktifistik, keseimbangan soft skills and hard skills, serta jiwa kewirausahaan, belum terakomodasi di dalam kurikulum.

5.      Kurikulum belum peka dan tanggap terhadap berbagai perubahan sosial yang terjadi pada tingkat lokal, nasioanl maupun global.

6.      Standar proses pembelajaran belum menggambarkan urutan pembelajaran yang rinci sehingga membuka peluang penafsiran yang beraneka ragam dan berujung pada pembelajaran yang berppusat pada guru.

7.      Penilaian belum menggunakan standar penilaian berbasis kompetensi, serta belum tegas memberikan layanan remediasi dan pengayaan secara berkala.

Disamping beberapa kelemahan sebagaimana dikemukakan diatas, perubahan dan pengembangan kurikulum diperlukan karena adanya beberapa kesenjangan kurikulum yang sedang berlaku  sekarang (pada KTSP).  Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan teknologi dan seni yang berlangsung cepat dalam era global dewasa ini, dapat diidentifikasikan beberapa kesenjangan kurikulum sebagai berikut.

KONDISI SAAT INI
KONDISI IDEAL
A.    KOMPETENSI LULUSAN
A.    KOMPETENSI LULUSAN
1
Belumsepenuhnyamenekankanpendidikankarakter
1
Berkaraktermulia
2
Belummenghasilkanketerampilansesuaikebutuhan
2
Keterampilan yang relevan
3
Pengetahuan-pengetahuanlepas
3
Pengetahuan-pengetahuanterkait
 
B.     MATERI PEMBELAJARAN
 
B.     MATERI PEMBELAJARAN
1
Belumrelevandengankompetensi yang dibutuhkan
1
relevandenganmateri yang dibutuhkan
2
Bebanbelajarterlakuberat
2
Materiesensial
3
Terlaluluas, kurangmendalam
3
Sesuaidengantingkatperkembanngananak
 
C.     PROSES PEMBELAJARAN
 
C.     PROSES PEMBELAJAR
1
Berpusatpada guru
1
Berpusatpada
2
Proses pembelajaranberorientasipadabukuteks
2
Sifatpembelajaran yang kontekstual
3
Bukutekshanyamemuatmateribahasan
3
Bukuteksmemuatmateridan proses pembelajaran, sistempenilainsertakompetensi yang diharapkan
 
D.    PENILAIAN
 
D.    PENILAIAN
1
Menekankanaspekkognitif
1
Menekankanaspekkognitif, afektif, psikomotoriksecaraproporsional
2
Tesmenjadicarapenilaian yang dominan
2
Penilaiantespadaportofoliosalingmelengkapi
 
E.     PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
 
 
E.     PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
1
Memenuhikompetensiprofesisaja
1
Memenuhikomptensiprofesi, pedagogi, sosial, dan personal
2
Fokuspadaukurankinerja PTK
2
Motivasimengajar
 
F.      PENGELOLAAN KURIKULUM
 
F.      PENGELOLAAN KURIKULUM
1
Satuanpendidikanmempunyaipembebasandalampengelolaankurikulum
1
Pemerintahpusatdandaerahmemilikikendalikualitasdalampelaksanaankurikulum di tingkatsatuanpendidikan
2
Masihterdapatkecenderungansatuanpendidikanmenyusunkurikulumtanpamempertimbangkankiondisisatuanpendidikan, kebutuhanpesertadidik, danpotensidaerah
2
Satuanpendidikanmampumenyusunkurikulumdenganmempertimbangkankondisisatuanpendidikan, kebutuhanpesrtadidik, danpotensidaerah
3
Pemerintahhanyamenyiapkansampaistandarisimatapelajaran
3
Pemerintahmenyiapaknsemuakomponenkurikulumsampaibukuteksdanpedoman

                                                                                                                

Dalam kerangka inilah perlunya pengembangan kurikulum 2013, untuk menghadapi  berbagai masalah dan tantangan masa depan yang semakin lama semakin rumit dan kompleks. Berbagai tantangan masa depan tersebut antara lain berkaitan dengan globalisasi dan pasar bebas, masalh lingkungan hidup, pesatnya kemajuan teknologi informasi, konvergensi ilmu dan teknologi, ekonomi berbasis pengetahuan, kebangkitan industri kreatif dan budaya, pergeseran kekuatan ekonomi dunia, pengaruh dan imbas teknosains, mutu, investasi dan transformasi pada sector pendidikan.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, kurikulum harus mampu membekali pesrta didik dengan berbagai kompetensi. Kompetensi yang diperlukan di masa depn sesuai dengan perkembangan global antara lain: kemampuan berkomunikasi, kemampuan berfikir jernih dan kritis, kemampuan mempertimbangkan segi moral suatu permasalahan, kemampuan menjadi warga Negara yang bertanggung jawab, kemampuan mencoba untuk mengerti dan toleran terhadap pandangan yang berbeda, kemampuan hidup dalam masyarakat yang mengglobal, memiliki minat luas dalam kehidupan, memiliki kesiapan untuk bekerja, memiliki kecerdasan sesuai dengan bakat/minatnya, dan memiliki rasa tanggung jawab terhadap lingkungan[1].

B.     Model-model Restrukturisasi Kurikulum

Menurut Robert S. Zais dalam bukunya “curriculum: principles and Foundation” mengemukakan delapan model pengembangan kurikulum.Secara singkat, model-model tersebut diantaranya :

1.      The Administrative Model

          Model Administratif diistilahkan juga model garis staf atau top down, dari atas ke bawah.

Pengembangan kurikulum  ini dilaksanakan sebagai berikut :

a.       Atasan membentuk tim yang terdiri atas para pejabat teras yang berwenang (pengawas pendidikan, kepsek, dan pengajar inti).

b.      Tim merencanakan konsep rumusan tujuan umum dan rumusan falsafah yang diikuti.

c.       Dibentuk beberapa kelompok kerja yang anggotanya terdiri atas para spesialis kurikulum dan staf pengajar yang bertugas untuk merumuskan tujuan khusus, GBPP, dan kegiatan belajar.

d.      Hasil kerja direvisi oleh tim atas dasar pengalaman atau hasil dari try out.

e.       Setelah try out yanng dilakukan oleh kepala sekolah, dan telah direvisi seperlunya, baru kurikulum tersebut diimplementasikan.[2]

      Dalam pelaksanaan kurikulum tersebut, selama tahun-tahun permulaan diperlukan pula adanya kegiatan  monitoring, pengamatan dan pengawasan serta bimbingan dan pelaksanannya. Setelah berjalan beberapa saat perlu dilakukan evaluasi, untuk menilai baik validitas komponen-komponennya, prosedur pelaksanaan maupun keberhasilannya. Penilaian menyeluruh dapat dilakukan oleh tim khusus sekolah yang bersangkutan. Hasil penilaian tersebut merupakan umpan balik, baik instansi pendidikan di tingkat pusat, daerah maupun sekolah.[3]

2.      The Grass-Roots Model

          Inisiatif pengembangan kurikulum dalam model ini berada di tangan guru-guru sebagai pelaksanan kurikulum di sekolah, baik yang bersumber dari satu sekolah maupun dari beberapa sekolah sekaligus. Model ini di dasarkan pada dua pandangan pokok, yaitu : pertama, implementasi kurikulum akan lebih berhasil apabila guru-guru sebagai pelaksana sudah dari sejak semula terlibat secara lamgsung dalam pengembangan kurikulum. Kedua, pengembangan kurikulum bukan hanya melibatkan personel yang profesional (guru) saja, tetapi juga siswa, orang tua, dan anggota masyarakat. Dalam kegiatan pengembangan kurikulum demikian, kerja sama dengan orang tua murid dan masyarakat sangatlah penting. Kerja sama diantara guru dengan sendirinya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari model ini.

          Model grass-roots didasarkan atas empat prinsip, yaitu :

a)      Kurikulum akan bertambah baik, jika kemampuan profesional guru bertambah baik.

b)      Kompetensi guru akan bertambah baik, jika guru terlibat secara pribadi didalam merevisi kurikulum.

c)      Jika guru terlibat dalam merumuskan tujuan yang ingin dicapai, menyeleksi, mendefinisikan dan memecahkan masalah, mengevaluasi hasil, maka hasil pengembangan kurikulum akan lebih bermakna.

d)     Hendaknya diantara guru-guru terjadi kontak langsung sehingga mereka dapat saling memahami dan mencapai suatu konsensus tentang prinsip-prinsip dasar, tujuan dan rencan.[4]

3.      The Demonstration Model

      Model ini dikembangkan untuk memperkenalkan suatu inovasi kurikulum dalam skala kecil. Dalam pelaksanaannya, model ini menuntut sejumlah guru dalam suatu sekolah untuk mengorganisasikan dirinya dalam memperbarui kurikulum. Menurut Smith, Stanley dan Shores, model demonstrasi terdiri atas dua bentuk, yaitu :

a.       Dalam bentuk pertama yang cenderung bersifat formal

b.      Dalam bentuk kedua dianggap kurang formal dibandingkan dengan  bentuk pertama karena guru-guru yang merasa kurang puas dengan kurikulum yang ada membuat eksperimen di dalam area tertentu..

4.      Bauchamp’s System Model

      Model ini dikembangkan oleh G. A. Beauchamp (1964). Langkah-langkahnya sebagai berikut :

a.       Suatu gagasan pengembangan kurikulum yang telah dilaksanakan dikelas, di perpustakaan sekolah, disebarluaskan di sekolah-sekolah di dearah tertentu baik skala regional  maupun nasional yang disebut arena.

b.      Membentuk tim pengembang yang terdiri atas ahli kurikulum, para ekspert, staf pengajar, petugas bimbingan, dan nara sumber lain.

c.       Tim menyusun tugas pengajaran, materi dan pelaksanaan proses belajar mengajar. Untuk tugas tersebut perlu dibentuk : dewan kurikulum sebagai koordinator yang bertugas juga bertugas sebagai penilai pelaksanaan kurikulum, memilih materi pelajaran baru, menentukan berbagai kriteria untuk memilih kurikulum mana yang akan dipakai, dan menulis secara menyeluruh mengenai kurikulum yang akan dikembangkan.

d.      Menjelskan kurikulum yang ada di sekolah.

e.       Mengevaluasi kurikulum yang berlaku.[5]

5.      Taba’s Inverted Model

      Model terbalik ini dikembangkan oleh Hilda Taba atas data induktif yang disebut model terbalik, karena biasanya pengembangan kurikulum didahului oleh konsep-konsep yang datangnnya dari atas secara deduktif.

Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut :

a.       Mendiagnosis kebutuhan, merumuskan tujuan, menentukan materi, menentukan penilaian, memerhatikan antara luas dan dalamnnya bahan, kemudian disusunlah suatu unit kurikulum.

b.      Mengadakan try out

c.       Mengadakan revisi atas dasar try out

d.      Menyusun kerangka kerja teori

e.       Mengemukan adanya kurikulum baru yang akan didesiminasikan. [6]

6.      Roger’s Interpersonal Relations Model

          Kurikulum yang dikembangakan hendaknya dapat mengembangkan inndividu secara fleksibel terhadap perubahan-perubahan dengan cara melatih diri berkomunikasi interpersonal.

Langkah-langkahnya :       

a.       Diadakan kelompok untuk dapat mengadakan hubungan interpersonal ditempat yang tidak sibuk.

b.      Kurang lebih dalam satu minggu para peserta mengadakan saling tukar pengalaman, dibawah pimpinan staf pengajar.

c.       Kemudian diadakan pertemuan dengan masyarakat yang lebih luas lagi dalam satu sekolah, sehingga hubungan intarpersonal akan lebih sempurna. Yaitu hubungan antar guru dengan guru, guru dengan peserta didik, peserta didik dengan peserta didik dalam suasana yang akrab.

d.      Selanjutnya pertemuan mengikutsertakan dengan anggota yang lebih luas lagi, yaitu dengan mengikutsertakan para pegawai administrasi dan orang tua peserta didik.  Dalam situasi yang demikian diharapkan masing-masing person akan saling menghayati, dan lebih akrab, sehingga memudahkan pemecahan problem sekolah yang dihadapi.

7.      The Systemic Action-Research Model

      Model ini berasal dari seorang psikolog  Carl Rogers. Dia berasumsi bahwa “kurikulum diperlukan dalam rangka mengembangkan individu yang terbuka, luwes dan adaptif terhadap situasi perubahan.”[7]

Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut :

a.       Dirasa adanya problem proses belajar mengajar di sekolah yang perlu diteliti.

b.      Mencari sebab-sebab terjadinya problem dan sekaligus dicari pemecahannya. Kemudian menentukan putusan apa yangn perlu diambil sehubungan dengan masalah yang timbul tersebut.

c.       Melaksanakan putusan yang telah diambil.[8]

8.      Emerging Technical Model

      Perkembangan bidang teknologi dan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai efisiensi dan efektivitas dalam bisnis, juga mempengaruhi perkembangan model-model kurikulum. tumbuh kecenderungan-kecenderungan baru yang didasarkan atas hal itu, diantaranya :

a.       The Analysis Model, menekankan penguasaan perilaku atau kemampuan. Suatu perilaku atau kemampuan yang kompleks.

b.      The System Analysis Model, berasal dari gerakan efisiensi bisnis. Langkah pertama dari model ini adalah menentukan spesifikasi perangkat hasil belajar yang harus dikuasi siswa. Langkah kedua adalah menyusun instrumen untuk menilai katercapaian hasil belajar tersebut. Langkah ketiga, mengidentifikasi tahap-tahap ketercapaian hasil serta perkiraan biaya yang diperlukan. Langkah keempat, membandingkan biaya dan keuntungan dari beberapa program pendidikan.

c.       The Computer-Based Model, suatu model pengembangan kurikulum dengan memanfaatkan komputer.[9]

C.    Langkah-langkah restrukturisasi kurikulum

Pada umumnya ada sepuluh langkah yang harus ditempuh dalam melakukan pembaharuan kurikulum, antara lain:

1.      Mengenal atau mengidentifikasi kebutuhan perubahan kurikulum

Artinya menilai ada tidaknya masalah-masalah pokok yang harus dilakukan perubahan. Oleh karena itu perlu dilakukan penilaian dan pengukuran pendahuluan terhadap kurikulum yangsedang berjalan.

Penilaian dan pengukuran pada hakikatnya adalah melihat perbedaan yang dapat di ukur, antara hasil yang dicapai dengan hasil yang di inginkan. Dengan kata lain melihat kesenjangan secara kuantitatif dan kualitatif antara apa seharusnya dengan apa adanya.

Faktor dalam perubahan kurikulum meliputi:

a.       Perubahan dalam aspirasi masyarakat

b.      Perubahan dalam teori belajar mengajar

c.       Perubahan-perubahan yang terjadi dalam prinsip dan falsafah pendidikan

d.      Perubahan dalam teori komunikasi

e.       Perkembangn-perkembangan baru dalam ilmu pengetahuan dan tekhnologi

Gagasan mengadakan perubahan kurikulum bisa datang dari berbagai sumber, antara lain:

a.       Tingkat atas, dalam pengertian dari kalangan pejabat pemerintah, pejabat pendidikan, dll

b.      Bersumber dari bawah, artinya berasal dari tenaga-tenaga pelaksanaan kurikulum, seperti guru, kepala sekolah, dan tenaga lainnya

c.       Dari instansi-instansi baik pemerintah maupaun swasta misalnya pabrik, perusahaaan industri, dan lembaga lainnya

d.      Dari hasil-hasil penelitian bidang pendidikan, psikologi. Sosiologi, dan ilmu-ilmu perilaku lain yang berhubungan dengan pendidikan kurikulum.

2.      Mobilisasi suatu perubahan kurikulum

Setelah ditemukan masalah pokok yang menjadi garapan perubahan kurikulum, barulah dipikirkan wadah yang akan mengorganisasi perubahan tersebut, wadah semacam ini bisa berupa badan atau komite yang bisa bekerja secara rutin. Pimpinan dan anggota badan akan lebih berhasil bila mereka yang mempunyai kekuasaan administratif dalam bidang pendidikan.

3.      Studi tentang masalah dan kebutuhan masyarakat

Dalam mengembangkan suatu kurikulum, dibeberapa negara sering mengadakan analisis terhadap sektor-sektor masyarakat, baik masalahnya maupun kebutuhannya.Beberapa aspek yang perlu dianalisis dan teliti untuk keperluan pembaharuan kurikulum antara lain:

Potensial sosial ekonomi, sistem nilai-nilai (sosial, moral) yang berlaku. Masalah dan kebutuhan masyarakat, lapangan pekerjaan (job analisys), masalah-masalah sosial seperti ketegangan atau konflik sosial, pengangguran. Di samping itu terdapat juga penelitian terhadap situasi yang dihadapi senantiasa berubah-ubah dari masa kemasa seperti pernah dikemukakan oleh stratmeyer.

4.      Studi tentang karakteristik dan kebutuhan anak didik

Pada hakikatnya kurikulum itu untuk anak atau melayani kepentingan anak didik. Dalam pengertian menyediakansegala program belajar, kegiatan belajar dan pengalaman belajar untuk mengembangkan potensi anak dibawah tanggung jawab sekolah. Oleh karena itu sewajarnya tentang studi tentang perkembangan, pertumbuhan, bakat, minat kesanggupan, kebutuhan anak dijadikan dasar dalam perubahan kurikulum. Perhatian banyak ditujukan kepada anak, agar anak yang harus menyesuaikan diri dengan mata pelajaran tetapi sebaliknya mata pelajaran yang harus disesuaiakan dengan anak. Tuntunan ini mendorong untuk mengadakan studi yang mendalam tentang hakikat anak.

5.      Formulasi tujuan pendidikan

Perumusan tujuan pendidikan merupakan langkah pertama, yang sangat  menentukan dalam proses perubahan kurikulum. Formulasi tujuan pendidikan secara umum bersifat filosofis, sosiologis, dan psikologis.

Kriteria pokok dalam merencanakan pengorganisasian pengalaman belajar, anatara lain:

a.       Tujuan harus didasarkaan pada tiga macam studi, yakni; studi tentang kebutuhan sosial, karakteristik siswa, dan studi tentang isi mata pelajaran

b.      Tujuan harus membimbing kearah pemilihan isis kurikulum

c.       Komponen-komponen hendaknaya dinyatakan dengan jelas sehingga mudah dijabarkan.

6.      Menetapkan aktivitas belajar dan mata pelajaran

Setelah merumuskan tujuan pendidikan, langkah berikutnya memilih dan menerapkan aktivitas belajar dan pemilihan mata-mata pelajaran yang serasi dengan tujuan, hal ini merupakan tugas berat dan memerulkan penghayatan yang tinggi terhadap nilai-nilai ilmu pengetahuan. Kesesuaian mata pelajaran dan aktivitas belajar yang diperlukan, hanya dapat ditentukan dalam hubungannya dengan kebutuhan, keadaan lingkungan.

Setiap mata pelajaran yang dipilih perlu mengandung aspek-aspek pengetahuan, sikap, dan ketrampilan yang berkenaan dengan makna yang terkandung dalam tujuan pendidikan.

Beberapa kriteria dalam memilih aktivitas belajar dan jenis mata pelajaran, antara lain:

a.       Mata pelajaran harus berorientasi dan mendukung tercapainya tujuan pendidikan

b.      Pengalman belajar hendaknya sesuai dengan minat dan kebutuhan anak

c.       Pengalaman belajar hendaknya mencakup berbagai aspek kegiatan belajar

d.      Memberi kesempatan pada anak mempraktekkan hal-hal yang telah dipelajarinya

e.       Mata pelajaran yang dipilih harus berorientasi akademis, praktis, dan sesuai dengan perkembangan anak

f.       Mata pelajaran yang dipilih berguna dan berhubungan dengan nilai-nilai dan kepentingan masyarakat

g.      Mata pelajaran dan aktivitas belajar mendorong minat dan pembentukan sikap anak

7.      Mengorganisasi pengalaman belajar dan perencanaan unit-unit mata pelajaran

Dalam mengorganisasi pengalaman belajar harus terlebih dahulu mengenal pola-pola organisasi kurikulum. Yang mana harus ada modifikasinya antara yang satu dengan yang lainnya.

8.      Pengujian kurikulum yang diperbaharui

Kurikulum yang telah diperbaharui sebelum dilaksanakan perlu dicobakan terlebih dahulu agar mencapai hasil yang optimal. Dalam proses uji coba selalu dianalisis, diamati, untuk diadakan revisi. Uji coba dikatakan berhasil apbila dengan kurikulum tersebut tujuan pendidikan dapat dicapai sesuai dengan harapan perubahan.

9.      Pelaksanaan kurikulum baru

Kurikulum baru yang telah disusun, direvisi, dan telah diuji cobakan, hendaknya diterapkan dengan mengerahkan seloruh pendapat masyarakat agar menerima ide-ide pembahrauan pada kurikulum tersebut.Para pendidik sebagai pelaksana kerikulum hendaknya dipersiapkan terlebih dahulu melalui penataan agar mereka siap melaksanakannya

Disamping itu juga harus ada supervisior untuk menangani tingkat kemampuan dalam pembinaan kurikulum yang akan ditetapkan

10.  Evaluasi dan revisi berikutnya

Evaluasi dan pengembanga kurikulum selanjutnya tetap dilakukan melalui monitoring yang terencana, terpola, dan terprogram.

Dalam evaluasi ini ditempuh dengan dua cara, yakni:

a.       Penilaian formatif, yakni penilaian yang dilakukan pada saat berlangsungnya pelaksanaan kurikulum

b.      Penilaian sumatif, yakni penilaian yang dilakukan setelah selesainya pelaksanaan kurikulum. [10]

 

 IV.            KESIMPULAN

Dalam suatu sistem pendidikan, kurikulum itu sifatnya dinamis serta harus selalu dilakukan perubahan dan pengembangan, agar dapat mengikuti perkembangan dan tantangan zaman. Meskipun demikian, perubahan dan pengembangannya harus dilakukan secara sistematis dan terararh, tidak asal berubah. Perubahan dan pengembangan kurikulum tersebut harus memiliki visi dan arah yang jelas, mau dibawa kemana sistem pendidikan nasional dengan kurikulum tersebut.

Model-model restrukturisasi kurikulum adalah sebagai berikut:

1.      The Administrative Model

2.      The The Demonstration Model

3.      Grass-Roots Model

4.      Bauchamp’s System Model

5.      Taba’s Inverted Model

6.      Roger’s Interpersonal Relations Model

7.      The Systemic Action-Research Model

8.      Emerging Technical Model

 

Langkah-langkah restrukturisasi kurikulum adalah sebagai berikut:

1.      Mengenal atau mengidentifikasi kebutuhan perubahan kurikulum

2.      Mobilisasi suatu perubahan kurikulum

3.      Studi tentang masalah dan kebutuhan masyarakat

4.      Studi tentang karakteristik dan kebutuhan anak didik

5.      Formulasi tujuan pendidika

6.      Menetapkan aktivitas belajar dan mata pelajaran

 

 

 

 

 

    V.            PENUTUP

Demikianlah makalah yang dapat kami paparkan. Dan kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan. Untuk itu, saran dan kritik serta bimbingan dan arahan dari teman-teman dan bapak dosen selalu kami harapkan. Dan akhirnya, kami hanya berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Zainal, 2012,  Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum, Bandung : PT Remaja Rosdakarya,

Dakir,  2010, Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum, Jakarta : Rineka Cipta.

Syaodih Sukmadinata, Nana , 2010, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

 Sudjana, Nana , 1996, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulim di sekolah, Bandung: Sinar Baru Algensindo

Mulyasa, 2013, Pengembangan Dan Implementasi Kurikulum, Bandung: PT REMAJA ROSDA KARYA.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                          



[1]Mulyasa, pengembangan dan implementasi kurikulum, (Bandung: PT REMAJA ROSDA KARYA, 2013), hlm. 59
[2]Dakir, Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum, (Jakarta : Rineka Cipta,  2010), hlm. 105.
[3] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2010), hlm. 162.
[4]  Zainal Arifin, Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2012), hlm.  139.
[5]Dakir, Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum, (Jakarta : Rineka Cipta,  2010), hlm. 106-107.
[6]Dakir, Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum, hlm. 107.
[7]Zainal Arifin, Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum, hlm.  142.
[8]Dakir, Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum, hlm. 108.
[9]Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, hlm. 170.
[10] Nana Sudjana, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulim di sekolah, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1996), hal 148-150

No comments:

Post a Comment