Monday, March 6, 2017

LAPORAN FIELD STUDY IPA DI OBSERVATORIUM BOSSCHA DAN SUNDIAL PUSPA IPTEK BANDUNG

LAPORAN FIELD STUDY IPA
DI OBSERVATORIUM BOSSCHA DAN SUNDIAL PUSPA IPTEK
BANDUNG
Di susun guna memenuhi tugas karya ilmiah XII IPA





Di susun Oleh:
1.                  Devika Khairara Muna                                    ( 04  )
2.                  Emi Kurniawati                                                ( 07  )
3.                  Linatul Mas’udah                                 ( 16  )
4.                  Siti Nurrofikoh                                                ( 36  )
5.                  Ummu Waladatul Muakhiroh              ( 39  )


MADRASAH ALIYAH NEGERI KENDAL
TAHUN AJARAN 2011/2012

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah elimpakan rahmat, taufik, hidayah serta inayahNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini, tanpa suatu halangan apapun.
Sholawat serta salam senantiasa penulis haturkan kepada junjungn Nabi Agung Muhammad SAW, yang  selalu di nantikan safa’atnya kelak di hari akhir. Amin.
Ucapan terimakasih, penulis ucapkan kepada:
1.      Kepala Madrasah Aliyah Negeri Kendal, Bapak Drs. H. Kasnawi, M.Ag
2.      Wali kelas XI IPA 1, Ibu Hj. Siti Aminah, S.Pd
3.      Wali kelas XII IPA 1, Bapak H. A.H. Machrus, S.Pd
4.      Guru Pembimbing, Ibu Dra. Endang Widijarti Susatyo
5.      Dan semua pihak yang telah ikut serta dalam terwujudnya karya tulis ini.
Semoga karya tulis ini bermanfaat bagi semua orang.  Penulis  menyadari tidak ada sesuatu yang sempurna kecuali Allah SWT, oleh karena itu penulis meminta saran dan kritik yang menbangun untuk memperbaiki karya tulis ini agar menjadi lebih baik.




                                                                                                                                                                                                                                                              Penulis







DAFTAR ISI

                                                                                           Halaman
HALAMAN JUDUL ……………………………………………………..             i
HALAMAN PENGESAHAN…………………………………………….           ii
KATA PENGANTAR…………………………………………………….          iii
DAFTAR ISI … ………………………………………………………….            v
MOTTO DAN PERSEMBAHAN………………  ……………………….         vi
BAB I          :     PENDAHULUAN ………………………………….......           1
A.    Latar Belakang Observatorium Bossc..…………....               1
B.     Tujuan dan Manfaat…………………………............            3
1.      Tujuan…………………………………………….
2.       Manfaat………………………………………….
BAB II         :     ISI …………………………………………………….….          7
A.    OBSERVATORIUM BOSSCHA………………….…        7
1.  Latar Belakang Berdirinya..……………………....           7
2.  Data Observasi…………….…………………….…         8
3.  Fungsi Observatorium Bosscha……………………        10
4.  Teropong-Teropong di Observatorium Bosscha….          11
5.  Kegiatan Pengabdian Pada Masyarakat………….          12
B.     SUNDIAL PUSPA IPTEK ………..……………………   18
1.    Sundial Puspa Iptek……………………………..….       18
2.    Sejarah Jam Matahari (Sundial)….………………..         22
3.    Visi dan Misi…………………………………………
BAB III      :      PENUTUP……………………………………………………
A.    Kesimpulan………………………………………………
B.     Saran…………………………………………………….
C.     Kesan…………………………………………………….
D.    Pesan…………………………………………………….




HALAMAN PENGESAHAN
Laporan Karya Ilmiah Field Study di Observatorium Bosscha dan Sundial Puspa IPTEK Bandung ini telah di setujui dan di sahkan pada:
Hari                 :
Tanggal           :






Kepala MAN Kendal                                                              Pembimbing


Drs. H. Kasnawi, M. Ag                                                      Dra. Endang Widijiarti Susatyo









MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO :
Ø  Destiny is not matter of chance. It is a matter of choice. It is not a thing to be waited for. It is a thing to be a chieved
Ø  Character is who you are in the dark
Ø  If we stop trying that means, we are no better than a coward
Ø  If you want to be big, you have to thing big
Ø  Setiap orang yang berusaha dan bekerja keras, suatu saat pasti akan membuat kesalahan. Sedangkan mereka yang hanya duduk berdiam diri serta berpangku tangan tidak akan pernah berbuat salah
PERSEMBAHAN:
Karya tulis ini kami persembahkan kepada:
Ø  Bapak Drs. H. Kasnawi, M.Ag   selaku kepala sekolah.
Ø  Bapak H. A.H. Machrus, S.Pd , selaku wali kelas XII IPA 1
Ø  Ibu Hj. Siti Aminah, S. Pd, selaku wali kelas XI IPA 1
Ø  Bapak Ibu guru Madrasah Aliyah Negeri Kendal
Ø  Orangtua yang selalu kami sayangi
Ø  Sahabat  dan teman semuanya.





BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Dewasa ini, ilmu pengetahuan dan tekhnologi sudah berkembang dengan begitu sangat pesat. Sudah selayaknya kita mengikuti perkembangan-perkembangan yang muncul di dunia ini. Begitupun dengan ilmu Astronomi dan juga ilmu Fisika dan Kimia lainnya.
Pengetahuan tak hanya cukup di dapat dari buku maupun dari penjelasan guru. Tapi ilmu pengetahuan juga bisa di dapatkan dengan kita mengunjugi tempat-tempat yang mampu menjawab hal-hal yang tidak ada dalam teori.
Karena alasan itulah di laksanakan field study  ini, sebagai sarana untuk menambah ilmu pengetahuan dan memperluas wawasan secara langsung bagi siswa.Dengan demikian lulusan MAN Kendal diharapkan siap menjadi  sumber daya manusia yang handal dan terampil.



B.     TUJUAN DAN MANFAAT FIELD STUDY

1.      Tujuan Field Study
·         Mengembangkan ilmu yang di dapat dari sekolah.
·         Mengembangkan wawasan mengenai dunia IPTEK
·         Siswa dapat menerapkan ilmu yang di dapat


2.      Manfaat Field Study
·         Menambah wawasan bagi siswa
·         Menjadi acuan belajar bagi siswa
·         Memberi referensi tempat belajar yang menarik











BAB II
ISI

A.    OBSERVATORIUM BOSSCHA
1.      Latar Belakang Berdirinya
Sebagai tempat pengamatan (observasi) benda langit, obvervatorim bosscha berdiri dan berkembang seirin dengan perkembangan astronomi dan masyarakat Indonesia.
Sejak dahulu masyarakat Indonesia sudah mengamati langit sebagai bagian dari kebdayaan dan kebutuhan. Untuk kepentingan pertanian, petunjuk arah, perhitungan waktu dan ritual keagamaan. Penamaan berbagai rasi bintang, system penanggalan, dan ritual keagamaan, merupakan bukti kegiatan Atronomi Bangsa Insonesia masa lalu.
Jauh sebelum Observatorium Bosscha berdiri, kegiatan pengamatan dan penelitian langit selatan sudah dilakukan orang. Tercatat, Johan Mauritz Mohr, pendeta Belanda kelahiran Jerman, 3 abad silam, telah membangun observatorium pribadi di Batavia (Jakarta). Hasil pengamatan transit venus tahun 1761 dan 1769 oleh Mohr di publikasikan dalam philofophical transaction. Astronom Perancis, De Bougainville tahun 1769 juga melakukan pengamatan transit venus.
Tahun 1920 merupakan tahun yang istimewa bagi Observatiruim Bosscha. Karena ide pendirian “Stasiun Pengamatan Bintang” mulai bergulir dengan berdirinya Nederlandch Indische Sterrenkundige Vereeninging (Perhimpunan Ilmu Astronomi Hindia Belanda) yang di pelopori oleh Karel Albert Rudolf Bosscha. Tanggal 12 Septembet 1920 di adakan rapat pertama NISV di hotel Homman, Bandung yang memutuskan untuk membangun sebuah observatorium untuk memajukan ilmu astronomi di Hindia-Belanda. Sang pelopor NISV, Mr. Bosscha, berjanji untuk memberikan bantuan guna pembelian teropong yang sama modernnya dengan teropong besar kala itu. Maka persiapanpun dilakukan dengan penelitian kandidat tempat yang akan di jadikan lokasu pendirian observatorium.  Sementara itu, Mr. Bosscha dan Dr. Voute, tahun1921 berangkat ke Astaniawerk di Jerman untuk memesan “Meredian Circle” dan ke Carl Zeiss Jena untuk memesan “Double refraktor”.
Setelah melakukan penelitian, tempat yang dianggap cocok jatuh pada salah satu anak pegunungan Tangkuban Perahu, 15 Km ke utara dari pusat kota Bandung. Lokasi observatorium di samping udara yang sejuk, dan tenang ( cukup jauh dari keramaian kota, kala itu), pemandangan ke timur, barat, dan selatan yang lepas, memiliki ketinggian yang cukup baik (1300 dpl). Atas kebaikan kakak beradik Ursone, tanah yang memiliki 6 Ha itu di hibahkan untuk pembangunan observatorium. Tahun 1922 di mulai konstruksi penbangunan observatorim hingga tanggal 1 Januari 1923. Sebagian sudah rampung, dan kemudian diresmikan oleh Gubernur Jendral Mr. D. Fock. Dr. Voute diangkat sebagai direktur observatorium pertama. Tahun itu pula, Prof. Dr. Ir. H.G.Van de Sande memberikan hibah buku-buku untuk perpustakaan observatorium yang baru berdiri itu. Untuk menjaga buku0buku tersebut,  Kerkhoven membuat perpustakaan tahan api.
Setelah sekian lama menanti, akhirnya sang teleskop double refraktor tiba tanggal 10 Januari 1928. Rekfraktor dobel Zeiss berdiameter 60 cm, panjang 11 meter. Diturunkan dari kapal “Kertosono” milik Rotterdamsche Lloyd. Dua puluh tujuh buah peti kemas besar (isinya 30 ton) itu diangkut  oleh perusahaan kereta api negara (S.S.) secara gratis ke Bandung. Batlyon Genie A.D.  mengangkutnya (secara gratis pula) dari Bandung ke Lembang. Biro bangunan kerja K.A. (S.S.) di tugasi membuat bangunan beton berkubah dengan segala pemasangan instrument yang canggih (sophisticated).
Tanggal 17 Oktober 1951, NISV menyerahkan Observatorium Bosscha ke Pemerintah RI. Kemudian Observatorium Bosscha bergabung dengan Fakultas Ilmu Murni, Universitas Indonesia. Setelah Fakultas Teknik Universitas Indonesia di Bandung, memisahkan diri dengan membentuk Intitut Tekhnologi Bandung di tahun 1959, Observatorium Bosscha selain berfungsi sebagai lembaga penelitian dan juga menjadi sarana pendidikan formal Astronomi di Indonesia. Sarana pengamatan dan penelitian astronomi ini ikut mengantar dalam proses pembentukan sosok astronom senior Indonesia dan generasi astronom muda


2.      Data Observatorium Bosscha
Observatorium Bosscha berlokasi pada 107037’ BT dan 6049’30” LS. Memiliki ketinggian 1300 m diatas permukaan laut dan 630 m diatas dataran tinggi Bandung.  Terhadap kota Bandung kearah utara sejauh 15 Km. Dalam keadaan normal kondisi cuaca temperature minimm malam hari 160 ( bulan Juni – Juli ) dan maksimum siang hari 230, kelembaban rata-rata 80% - 90%. Malam cerah untuk pengamatan astrometry 150 hari per tahun sedang untuk pengamatan fotometri lebih lemah dari itu.

3.      Fungsi Oservatorium Bosscha
PP 155 tahun 2000, Bab X Satuan Akademik pasal 44 ayat 6 menempatkan Observatorium Bosscha sebagai perangkat Penunjang Akademik di ITB. Penempatan sebagai perangkat penunjang akademik ini sejalan dengan visi Observatorium Bosscha secara aktif memberi konstribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan Astronomi dan astrofisika secara teoritik maupun observasional. Upaya kedepan adalah meningkatkan peran dan fungsi Observatorium Bosscha ITB sebagai Pusat Penelitian dan Pengembangan Astronomi dan Sains keantariksaan di Indonesia.
Penilitian  Astronomi dan Astrofisika melingkupi Struktur Alam Semesta,Struktur Galaksi,Fisika Binang dan Bintang Ganda,Tata Surya dan Sains Antariksa,secara teoristis maupun atas dasar pengamatan. Observatorium Bosscha menjadi sarana penunjang “pendidikan” bagi mahasiswa Departemen Astronomi dan Departemen lainnya di ITB untuk memperkenalkan suatu model profesi astronom dan institusi astronomi. Selain itu Observatorium Bosscha juga menjadi sarana pengajaran astronomi dan ilmu terpaut,bagi mahasiswa dan dengan beberapa lembaga pendidikan lainnya diluar ITB. Lingkup kegiatan kerja sama lintas institusi dalam bentuk pendidikan dan pelatihan merupakan peran serta Observatorium Bosscha untuk menumbuhkembangkan institusi dan masyarakat ilmiah di Indonesia.

v Observatorium Bosscha sebagai pusat peneltian dan pengembangan keilmuan Astronomi di Indonesia sangat beralasan mengingat adanya fasilitas pendukung berupa teleskop optic,kepustakaan yang mutakhir dan informasi perkembangan Astrnomi dam space science dari berbagai observatorium didunia. Selain itu juga dilengkapi dengan internet dan komputer sehingga dapat berkomunikasi dengan dunia luae
v Staf yang berdedikasi menghidupi kegiatan peneitian Astronomi di Observatorium Bosscha ITB dapat bersinambung. Keberadaan Observatorium Bossca dengan kinerja, upaya bersinambung dan aktif secara historis yang panjang juga merupakan bagian dari ‘kemudahan” dalam mengakses informasi Astronomi yang mutakhir dan ‘kemudahan” pergaulan dalam dunia International seperti keanggotaan dalam IAU( International Astronomical Union). Kemudahan mengakses informasi itu mendukung kegiatan kerjasama penelitian,penelitian pasca sarjana ,menunjang perkuliahan yang up to date dan sekaligus juga meningkatkan kualitas informasi publikterhadap perkembangan pengetahuan yang mutakhir.
Sarana yang tersedia serta performance.persistence dan upaya aktif merupakan aset untuk merintis kerjasama dengan manca Negara maupun dalam negri. Melalui  proses-proses kegiatan ilmiah dalam jangka panjangnya Observatorium Bosscha berkontribusi dalam pembentukan masyarakat ilmiah di Indonesia.
v Kelangsungan dan pengembangan Observatorium Bosscha bergantung pada upaya mendukung dan mempertahankan kegiatan penelitian dan pengembangan Astronomi oleh kelompok penelti Observatorium Bosscha agar dapat menghasilkan lebih banyak publikasi ilmiah yang berkualitas. Publikasi ilmiah itu dapat dimanfaatkan untuk pertukaran informasi dengan observatorium dunia dan sekaligus menjadi modal unuk memperoleh dukungan dan pengakuan internasional dalam memajukan Astronomi di Indonesia. Upaya-upaya agar Observatorium Bosscha tetap menjadi wadah aktif kelompok peneliti yang ingin maju dan memajukan serta mengembangkan bidang astronomi dan astrofisia dan ilmu yang bertautan masih memerlukan pemikiran yang lebih dalam. Upaya penggalangan dana bagi pengembangan astronomi yang masih lemah bertautan dengan upaya peningkatan komirmen, efesiensi dan kualitas produktivitas kelompok peneliti.

4.      Teropong-teropong di Observatorium Bosscha
Ø  Double Refraktor Zeiss
Teleskop Zeiss beserta kubahnya merupakan sumbangan dari K.A.R. Bosscha, dan dimaksudkan pertama kali untuk penelitian bintang ganda. Teleskop ini mulai beroperasi tahun 1928.
Instrument utama ini, telah digunakan untuk beragam peneliian astronomi, antara lain:
a.     Pengamatan astrometry (untuk memperoleh informasi posisi benda langit yang akurat dalam orde sepersepuluh detik bujur) untuk penelitian orbit bintang Ganda visual. Hingga saat ini terdapat koleksi sekitar 10000 data pengamatan bintang ‘ganda visual’ yang diperoleh melalui teleskop Zeiss.
b.    Pengamatan astrometry untuk penelitian gerak diri bintang dalam gugus bntang.
c.     Pengamatan astrometry untuk keperluan pengukuran paralaks bintang untuk penelitian jarak dan system kegandaan dari bintang0bintang yan berpasangan.
d.    Imaging, pengamatan citra detail komet terang, kawah permukaan bulan, oposisi planet Mars, Saturnus, dan Jupiter.
Teleskop ini terdiri dari dua teleskop utama dan satu teleskop finder (pencari). Diameter lensa teropong pencari adalah 40 cm, dengan diameter medan pandang 1,50 atau sekitar 3 kali diameter cirta bulan purnama. Medan pandang langit yang luas, memudahkan untuk mengidentifikasi bintang yang hendak diseidiki, membandingan citra bintang di langit dalam medan teleskop dengan peta bintang.
                                            

Ø  Teleskop Bamberg
Teropong Bamberg dapat dipergunakan untuk pengukuran fotometri gerhana bintang, misalnya pengamatan kurva cahaya bintan ganda Capricorni. Selain itu juga pengamatan permukaan bulan dan saat ini di sedang dipersiapkan untuk pengamatan bintik matahari. Teropong Bamberg juga sering dipergunakan untuk pendidikan public, melihat cira kawah bulan, melihat cirta bintang ganda visual, melihat citra planet dan benda langit lainnya secara langsung melalui okuler teropong.

Ø  Teleskop Schmidt-Bimasakti
Teropong Bimasakti mempunyai system optic Schmidt oleh karenanya sering disebut teropong Schmidt. Teropong ini mempunyai diameter lensa koreksi 51 cm, diameter cermin 71 cm dan focus 127 cm. perbandingan antara panjang focus terhadap diameter lensa koreksi atau f-ratio telatif paling kecil diantara teleskop-teleskop yang ada di Observatorium Bosscha, yaiut 127/51.

Ø  Goto
Teleskop ini memiliki diameter cermin 45 cm, panjang focus 1,8 meter pada cermin utama (bentuk parabola) dan 5,4 meter pada cermin kedua (bentuk hiperbola).
Teleskop ini berjenis reflector Cassegrain dilengkapi dengan system computer ini diprodusi oleh perusahaan optic Goto-Jepang. Pada tahun 1990 teropong ini di lengkapi kamera CCD bantuan dari Schlumberger.

Ø  Unitron
Teropong Unitron adalah teropong reflaktor. Lensa onyektifnya berdiameter 102 mm dan panjang focus teropong 1500 mm. di lihat dari ukuran teropongnya, teropng Unitron sangat tepat untuk pemotretan bulan dan atahri dengan film 35 mm. teropong ini relative ringan, sehingga dapat di pergnakan untuk keperluan ekspedisi pengamatan gerhana matahari atau gerhana bulan.




5.      Kegiatan Pengabdian pada Masyarakat
Kegiatan pengabdian pada masyarakat merupakan sumbangsih ilmu pengetahuan dari Observatorium Bosscha kepada masyarakat. Kegiatan itu secara umum merupakanbagian dalam Astronomy for Non-Astronomers.

Kegiatan-kegiatan tersebut antara lain:
Á    Kegiatan penerimaan kunjngan siang dan malam yang memperoeh dukungan pendanaan dari LPM ITB. Upaya pendanaan dari sponsor dan pemerintah sebagai bgian kegiatan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Á    Pertemuan Klub Penggemar Astronomi dan Astrophilatelis yang di sponsori oleh PT. POS Indonesia telah berlangsung pada dua kegiatan, yaitu bulan Januari 2001 dan bulan Juli 2001.
Á    Mengembangkan dan memberdayakan tim perpuatakaan menjadi unit layanan informasi yang up to date. Kelompok ini juga mengkompilasi informasi karya-karya staf serta membantu dalam penlisan buku astronomi. Kompilasi karya-karya staf dan perencanaan sistematis penulisan yang popular maupun teknis diharaokan akan memicu terbitnya karya-karya buku astronomi untuk public.
Á    Sehubungan dengan peningkatan kualitas layanan public, perlu sarana display presentasi lewat animasi computer, infocus dan CD astronomi.
Á    Pelatihan Hisab-Rukyat, yang di ikuti 20 peserta dari Negara MABIMS yang di sponsori oleh Depag RI selama buan Juli-Agustus 2000.









B.     SUNDIAL PUSPA  IPTEK
1.          Sundial Puspa IPTEK

Arsitektur adalah bagian dari seni. Ketika seni sastra ditransfer ke dalam arsitektur melalui metafora dan analogi, maka hasil dari penggabungan antara seni (sastra, musik, tari) dan arsitektur (sebagai seni bangunan) adalah “puisi yang beku” yaitu bangunan itu sendiri.
Arsitektur merupakan sebuah kata-kata yang diwujudkan dalam bentuk desain nyata yang dapat dilihat, dipegang, dan dirasakan. Sebagai contohnya yaitu kata ‘jam matahari’, adalah frasa yang berarti jam yang bergantung atau melibatkan matahari. Seorang artis, seniman, maupun arsitek mampu membayangkan jam matahari dengan interpretasi mereka masing-masing terhadap kata ‘jam matahari’ tersebut. Namun, dalam arsitektur, kata-kata itu bukan hanya untuk sekadar direnungi dan dipikirkan. Dalam arsitektur, kata-kata itu perlu diterjemahkan dalam bentuk yang nyata menjadi sebuah bangunan.
Sundial (jam matahari) di Kota Baru Parahyangan merupakan jam matahari terbesar yang ada di dunia. Setelah melewati gerbang masuk Kota Baru Parahyangan, sundial ini adalah bangunan pertama yang muncul dan menyambut orang-orang yang baru datang ataupun akan pergi.
Pertama kali melewati bangunan ini dengan berkendaraan, tidak akan ada orang yang dapat menyadari bahwa bangunan ini adalah jam matahari raksasa. Untuk masuk ke dalam bangunan hanya disediakan satu titik jalur akses sehingga pada kali pertama, pengunjung akan dibuat bingung mencari-cari pintu masuknya. Untuk para pengunjung yang membawa kendaraan, akan lebih dibuat bingung lagi untuk mencari tempat parkir karena tidak tersedia sama sekali fasilitas parkir di sekitar bundaran jam matahari. Hal itulah yang akan dialami oleh para pengunjung yang baru pertama kali datang ke Puspa Iptek ini yaitu kebingungan.
Pada kenyataannya, sudah ada fasilitas parkir yang disediakan untuk para pengunjung. Fasilitas ini berjarak kurang lebih 500 meter dari bangunan sundial, lebih dekat kepada gerbang masuk. Namun, desain antara bangunan dengan tempat parkirnya tidak didesain dengan baik sehingga tidak ada integrasi antar keduanya. Inilah yang menjadi penyebab kebingungan para pengunjung di saat pertamanya. Dari area parkir ini, ada dua jalur yang dapat dipilih sebagai akses menuju bangunan Puspa Iptek. Akses pertama adalah melalui trotoar di pinggir jalan utama, sedangkan akses kedua menghubungkan area parkir langsung menuju bangunan. Seharusnya, para pengunjung dianjurkan untuk memilih akses kedua yang lansung menuju bangunan. Namun, pada kenyataannya, pengunjung masih banyak yang lebih menggunakan akses satu dibandingkan akses dua karena alasan kenyamanan dan keamanan. Dari segi visual, jalur akses yang langsung menuju ke bangunan sundial kurang memiliki daya tarik visual untuk menarik minat pengunjung agar melewatinya. Selain itu, akses langsung ini hanyalah berupa jalan setapak yang di sebelah kanan dan kirinya terdapat padang rumput. Karena tempatnya yang juga agak tertutup, turut mempengaruhi psikologis keamanan bagi pengunjung. Berbeda dengan akses yang melalui trotoar persis di samping jalan utama, secara psikologis pengunjung akan lebih merasa aman untuk berjalan di sini. Namun, meskipun dua jalur ini berbeda, keduanya tetap bertemu di titik yang sama yaitu di sebrang jalan menuju Puspa Iptek.
Sebuah kekurangan dari segi lansekap ditemukan ketika rombongan pengunjung akan menyebrangi jalan menuju bangunan. Sang arsitek tidak merancang jalur penyebrangan dengan desain yang baik. Atau dengan kata lain, sang arsitek tidak mengutamakan kepentingan dan keselamatan pejalan kaki dibandingkan kepentingan dan keselamatan pengendara kendaraan. Kekurangan dari segi desain inilah yang akhirnya membutuhkan penyelesaian-penyelesaian dari segi manajemen. Oleh karena itu, pihak manajemen menyediakan jasa penjaga untuk menyebrangkan orang-orang.
Gerbang penyambutan pada bangunan Puspa Iptek ini dirancang dengan baik. Bentuk gerbang seperti huruf ‘V’ yang terbuka ke arah luar menciptakan kesan welcoming bagi para pengunjungnya. Selain itu jam papan yang berwarna biru terlihat kontras dengan background gerbang berwarna kuning sehingga membuat papan jam itu menjadi fokus visual dan point of interest. Sebelum masuk ke dalam gerbang, pengunjung akan dapat menemukan beberapa furnitur lansekap secara papan pengumuman, batu peresmian, dan lain sebagainya.
Elemen lansekap baik hardscape maupun softscape yang diolah di sekitar gerbang masuk Sundial Puspa Iptek Science Center cukup banyak. Material yang digunakan pun sangat beragam. Sehabis menyebrangi jalan, pengunjung akan menginjakkan kakinya di lantai beton. Setelah berjalan beberapa langkah, material beton itu akan digantikan dengan paving block, sampai pada akhirnya pada material keramik lalu menuju ke dalam bangunan. Dalam penataan lansekap, sang perancang harus seimbang dan integral dalam memikirkan desain dari segala sudut pandang. Selain memikirkan pola perletakan material hardscape, perlu juga dipikirkan mengenai penggunaan material softscape-nya seperti jenis tanaman, jumlah tanaman, perletakan tanaman, dan lain sebagainya.
Seperti yang sudah disebutkan sebelum, jam matahari akan benar-benar terlihat seperti jam apabila dilihat dari atas (helikopter, foto satelit, dll). Namun jika dilihat apa adanya dari sudut pandang mata manusia, bangunan ini tidak akan terlihat seperti jam matahari. Untuk memenuhi tujuan agar bangunan sundial ini tampak seperti jam matahari raksasa apabila dilihat dari atas, maka konsekuensinya adalah penataan lansekap sekecil apapun akan mempengaruhi tampak udara bangunan ini. Oleh karena itu, yang perlu diketahui bersama yaitu lansekap bangunan sundial ini adalah satu kesatuan dan saling mempengaruhi satu lain.
Penyusunan tanaman berdaun merah dan hijau yang berselang-seling itu bukan tanpa arti, melainkan untuk mengejar tampak yang diinginkan. Begitu pula lahan yang dilapisi semen dan hanya dicat biru serta ditambahkan beberapa tulisan tidak lain tidak bukan adalah untuk menciptakan jam matahari terbesar yang sempurna.
Dibalik alasan-alasan tersebut untuk mengejar bentuk dan esetetika, ada satu hal yang juga tidak boleh dilupakan dalam perancangan yaitu aspek sistem utilitas bangunan. Titik tekan yang lebih disoroti di sini adalah sistem drainase air bersih, air kotor, dan air hujan. Seorang arsitek yang hanya mengejar bentuk dan estetika biasanya tidak terlalu memikirkan tentang sistem utilitas. Tanpa sistem utilitas yang mendukung suatu bangunan ibarat tubuh manusia yang hidup tanpa bantuan sistem pembuluh darah.
Sundial Puspa Iptek Science Center ini meskipun memiliki tujuan untuk mengejar bentuk dan estetika, namun juga mampu mendesain sistem utilitasnya secara apik dan bersinergi dengan sistem bangunan. Saluran air hujannya didesain di antara tanaman-tanaman hias yang mengelilingi sundial. Saluran ini terlihat menyatu dengan sistem bangunan sebagai bagian dari estetika desain. Di sekeliling bangunan juga terdapat lubang-lubang drainase yang terintegrasi sebagai satu kesatuan bangunan. Tidak seperti bangunan yang mengejar bentuk namun memikirkan utilitasnya belakangan lalu meletakannya di sembarang tempat asalkan tersembunyi.
Di sekitar lahan bangunan, tidak ada pohon jenis peneduh atau pohon-pohon sejenis palem yang tinggi. Elemen softscape yang digunakan mayoritas adalah tanaman perdu atau semak. Hal tersebut sungguh wajar mengingat bahwa bangunan jam matahari tersebut mengandalkan bayangan bangunan yang jatuh ke bidang akibat sinar matahari. Oleh karena itu, pohon-pohon tinggi ataupun sejenis peneduh yang rindang dapat menggangu sistem kerja bangunan ini. Selain itu, para pengunjung sepertinya diharapkan tidak berjalan-jalan di sekeliling pagar luar bangunan. Hal ini disimpulkan dari tidak adanya trotoar yang disediakan untuk para pejalan kaki. Pohon-pohon tinggi dan trotoar hanya tersedia di sebrang lahan bangunan sundial. Sayangnya, pohon yang digunakan adalah jenis palem sehingga tidak cukup untuk menciptakan kenyaman termal bagi orang-orang yang beraktivitas di bawahnya terutama ketika siang hari yang terik.
Selain pengolahan hardscape di sekeliling bangunan, hardscape jalan utama pun juga diolah dengan baik. Hal itu terlihat dari detail transisi antara jalan utama menuju ke trotoar yang didahului dengan saluran drainase, canstein, rerumputan, pepohonan, barulah akhirnya paving block untuk tempat pejalan kaki. Pemilihan perkerasan di sekitar bangunan sundial ini juga tidak menggunakan aspal, melainkan menggunakan paving block. Beberapa meter menuju gerbang masuk barulah materialnya menggunakan aspal. Dengan menggunakan material paving block, setidaknya menjadi sedikit usaha untuk mengurangi pemakaian perkerasan jalan dan menambah luas lahan yang dapat menyerap air.
Sundial ini adalah bangunan komersial sehingga pada malam hari tidak banyak digunakan. Pada malam hari bangunan ini hanya menggunakan lampu penerangan secukupnya sekadar untuk memberikan tanda bahwa di tempat tersebut terdapat bangunan. Ada beberapa buah lampu sorot juga yang digunakan untuk menyinari bagian-bagian tertentu pada bangunan. Lampu penerangan yang dipakai adalah lampu yang berwarna kuning. Lampu ini saat disorotkan ke bangunan sundial menciptakan efek yang dramatis dan eksotik. Sebagai penerangan jalan utama, di beberapa pohon palem juga di pasang lampu penerangan yang berwarna kuning.
Secara umum, bangunan sundial ini sangat unik. Bangunan ini adalah bentuk metafora yang diwujudkan ke dalam bentuk bangunan. Meskipun penulis tidak berkesempatan masuk ke dalam bangunan untuk mengeksplorasi lebih jauh, namun dengan menilai tampak bangunan dari luar, rasanya bagian dalam bangunan tersebut masih menyimpan banyak kejutan.
(Sundial Puspa Iptek tampak depan)
2.    Sejarah Jam Matahari ( Sundial )
Sebelum di temukan jam modern, dulu penentuan wakt dilakukan dengan menandai bayangan sesuatu benda atau lubang jendela pada dinding tempat bayangan itu jatuh. Bayanga itu berasal dari matahari atau bulan. Dari cara itu akhirnya di tekan pola pergerakan matahari yang kemudian mengilhami munculnya sundial.
Sampau sekaran memang belum titemukan secara pasti kapan jam matahari mulai ada. Namun menurut referensi dalam beberapa leafet di Puspa Iptek dikatakan, penunjuk waktu itu berkembang di antara kebudayaan Babilonia, Yunani, Mesir, dan Romawi. Sundial di sebut-sebut juga berkembang di Negara Timur Jauh seerti China dan Jepang.
Meski sejarahnya tidak beitu banyak diketahui, masing-masing kebudayaan memiliki bentuk sendiri-sendiri yang khas, bergantung atas perkembangan astronomi dan matematika di Negara bersangkutan. Hal itu sekaligus juga menunjukan perbedaan periode sejarah yang saling memengaruhi.
Jam matahari tertua yang pernah ditemukan berasal dari Yunani. Penunjuk waktu tersebut berbentuk sirkuler dengan penanda ditengah yang ditemukan oleh Chaldean Berosis (340 SM). Sementara beberapa artefak jam matahari yang lain ditemukan di Italia. Diantaranya di Tivoli (1746), Castel Nuovo (1751), Rigano (1751), dan Pompei (1762). Sementara di tahun 1728, seorang astronom bernana Jantar Mantar juga menemukan jam matahari kuno dengan gnomon 30 meter di kota Jaipur, India.
Jam Matahari kemudian banyak dibangun dan digunakan sebagai landmark atau elemen penanda pada taan di kampus-kampus ternama seperti Cambridge tahun 1642.
Sebagai peranti penunjuk waktu, sundial memiliki  beberapa jenis. Ada yang di sebut sundial horosontal, vertikao, ekuatorial dan meridian. Sementara yang ada di sundial adalah jenis sundial horizontal pertama di Indonesia sekaligus terbesar. Itulah mengapa kemudian batangan besi atau gnomonnya panjang merebah. Bukan tegak berdiri.
Meski ada beberapa jenis, namun yang lebh banyak ditemui adalah jam matahari yang vertical dan horosontal. Di luar itu semua, yang jelas sundial tetap saja mengandalkan sinar matahari sebahai syarat utamanya. Baru kemudian diperhitungan dengan bayan-bayang nomon yang jatuh pada bidang dial untuk memunculkan waktu semu local.
                     
                   
                   
(Alat-alat peraga di Sundial Puspa Iptek)



3.    Visi  dan Misi Sundial Puspa Iptek
Misi Pertama adalah Misi Pendidikan, yang merupakan urat nadi proyek ini, pengembangan institusi formal mulai dari Taman Kanak-kanak hingga Universitas akan didukung oleh pengembangan sarana Pendidikan Non Formal yang tersebar diseantero proyek ini. Mengapa Misi pendidikan ini kami kedepankan, adalah dua pertimbangan utama yang melandasinya, yaitu:
Pertama, Pendidikan merupakan salah satu faktor terpenting dalam perkembangan kehidupan manusia, manusia memerlukan suatu proses pendidikan didalam memenuhi kebutuhan hidupnya untuk dapat berkembang dan hidup lebih sejahtera.
Kedua, Pendidikan juga menentukan keberhasilan suatu bangsa dan negara, dimana perlu sekali pembinaan terhadap perkembangan pendidikan untuk menjadikan Sumber Daya Manusia suatu bangsa dan negara tersebut dapat berkompetisi pada era globalisasi kini dan mendatang

Misi Kedua adalah Penggalian Budaya Sunda
Pada tahun 1996, bersama Grup Kota Kembang yang dimotori oleh Alm. Bp Haryoto Kunto,di lakukan studi mengenai Sosial Budaya Daerah Padalarng dan sekitarnya

Misi Ketiga adalah misi kompetisi global. Yang mana kami memulainya dengan pengembangan suatu kawasan terpadu yang di sebut sebagai ‘International Park’, dimana kawasan tersebut akan menampung fungsi perkotaan yang ditujukan untuk menarik investasi asing ke Kabupaten Bandung dan Propinsi Jawa Barat. Bale Pare adalah proyek pertama yang sedang dimulai pembangunannya.






BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Setelah melaksanakan field study di Bandung, penyusun dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut:
Ø  Di Observatorium Bosscha, penulis dapat mengetahui berbagai macam alat astronomi. Mulai dari teropong yang berukuran kecil sampai dengan teropong yang berukuran besar dan memiliki tingkat kerumitan yang tinggi. Selain itu penulis juga dapat mengetahui cara kerja dari teropong. Salah satunya yaitu teropong refraktor zeiss dan teropong matahari.
Ø  Di Observatorium Bosscha, penulis juga di sajikan video mengenai tata surya jagad raya.
Ø  Di Sundial Puspa Iptek, penulis dapat mengetahui berbagai macam alat yang berhubungan dengan ilmu terapan, seperti fisika, kimia dan matematika. Selain itu penulis juga bisa mempraktekkan langsung alat-alat yang ada di Sundial Puspa Iptek.

B.     SARAN
Setelah mengikuti field study, banyak pengetahuan dan pengalaman baru yang penulis dapatkan. Di sini penulis akan menyampaikan beberapa saran tentang pelaksanaan field study agar pelaksanaan field study periode yang akan datang bisa lebih baik.
Pengaturan waktu yang kurang baik pada pelaksanaan menjadi ganjalan tersendiri. Keterbatasan waktu berpengaruh pada kurangnya percobaan dan eksperimen yang akan dilakukan bagi penulis dan peserta field study yang lain. Oleh karena itu penulis berharap agar field study yang akan datang, pengaturan waktu lebih di perhatikan.
Selain itu pada pelaksanaan field study, kurang adanya tutor atau guru pengampu yang mendampingi, juga menjadi hambatan peserta dalam melaksanakan percobaan-percobaan.
Lebih dari itu, pelaksanaan field study periode ini cukup memuaskan dan mengesankan bagi penulis.

C.    KESAN
Meskipun terasa lelah dengan perjalanan yang jauh dan menghabiskan banyak waktu, namun rasa lelah tersebut seolah terbayar lunas dengan pemandangan indah Tangkuban Perahu. Di lanjutkan lagi dengan ketakjuban penulis pada teropong-teropong yang ada di Observatorium Bosscha. Dan juga alat-alat percobaan yang ada di Sundial Puspa Iptek yang menjawab rasa penasaran ketika mendapat pelajaran di sekolah. Dan di akhiri dengan wisata belanja di Cibaduyut.

D.    PESAN
Semoga field study yang akan datang bisa lebih menyenangkan dan dapat mendatangi tempat yang lebih banyak mengandung pengetahuan dan mendidik.