
LAPORAN FIELD STUDY IPA
DI OBSERVATORIUM BOSSCHA DAN SUNDIAL PUSPA IPTEK
BANDUNG
Di susun guna memenuhi tugas karya ilmiah XII IPA
Di susun
Oleh:
1.
Devika Khairara
Muna (
04 )
2.
Emi Kurniawati (
07 )
3.
Linatul Mas’udah ( 16 )
4.
Siti Nurrofikoh ( 36
)
5.
Ummu Waladatul
Muakhiroh ( 39 )
MADRASAH ALIYAH NEGERI KENDAL
TAHUN AJARAN 2011/2012
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah elimpakan
rahmat, taufik, hidayah serta inayahNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
karya ilmiah ini, tanpa suatu halangan apapun.
Sholawat serta salam senantiasa penulis haturkan kepada junjungn
Nabi Agung Muhammad SAW, yang selalu di
nantikan safa’atnya kelak di hari akhir. Amin.
Ucapan terimakasih, penulis ucapkan kepada:
1.
Kepala Madrasah Aliyah Negeri Kendal, Bapak Drs. H. Kasnawi, M.Ag
2.
Wali kelas XI IPA 1, Ibu Hj. Siti Aminah, S.Pd
3.
Wali kelas XII IPA 1, Bapak H. A.H. Machrus, S.Pd
4.
Guru Pembimbing, Ibu Dra. Endang Widijarti Susatyo
5.
Dan semua pihak yang telah ikut serta dalam terwujudnya karya tulis
ini.
Semoga karya tulis ini bermanfaat bagi semua orang. Penulis
menyadari tidak ada sesuatu yang sempurna kecuali Allah SWT, oleh karena
itu penulis meminta saran dan kritik yang menbangun untuk memperbaiki karya
tulis ini agar menjadi lebih baik.
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ……………………………………………………..
i
HALAMAN PENGESAHAN…………………………………………….
ii
KATA PENGANTAR……………………………………………………. iii
DAFTAR ISI … ………………………………………………………….
v
MOTTO DAN PERSEMBAHAN……………… ……………………….
vi
BAB I : PENDAHULUAN ………………………………….......
1
A.
Latar
Belakang Observatorium Bossc..………….... 1
B.
Tujuan dan
Manfaat…………………………............ 3
1.
Tujuan…………………………………………….
2.
Manfaat………………………………………….
BAB II : ISI …………………………………………………….….
7
A.
OBSERVATORIUM
BOSSCHA………………….… 7
1. Latar Belakang Berdirinya..…………………….... 7
2. Data Observasi…………….…………………….… 8
3. Fungsi Observatorium Bosscha…………………… 10
4. Teropong-Teropong di Observatorium Bosscha…. 11
5. Kegiatan Pengabdian Pada Masyarakat…………. 12
B.
SUNDIAL
PUSPA IPTEK ………..…………………… 18
1.
Sundial
Puspa Iptek……………………………..…. 18
2.
Sejarah
Jam Matahari (Sundial)….……………….. 22
3.
Visi dan
Misi…………………………………………
BAB III :
PENUTUP……………………………………………………
A.
Kesimpulan………………………………………………
B.
Saran…………………………………………………….
C.
Kesan…………………………………………………….
D.
Pesan…………………………………………………….
HALAMAN
PENGESAHAN
Laporan Karya Ilmiah Field Study di Observatorium Bosscha dan
Sundial Puspa IPTEK Bandung ini telah di setujui dan di sahkan pada:
Hari :
Tanggal :
Kepala MAN Kendal Pembimbing
Drs. H. Kasnawi, M. Ag Dra. Endang Widijiarti
Susatyo
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
MOTTO :
Ø Destiny is not
matter of chance. It is a matter of choice. It is not a thing to be waited for.
It is a thing to be a chieved
Ø Character is
who you are in the dark
Ø If we stop
trying that means, we are no better than a coward
Ø If you want to
be big, you have to thing big
Ø Setiap orang
yang berusaha dan bekerja keras, suatu saat pasti akan membuat kesalahan.
Sedangkan mereka yang hanya duduk berdiam diri serta berpangku tangan tidak
akan pernah berbuat salah
PERSEMBAHAN:
Karya tulis ini kami persembahkan kepada:
Ø Bapak Drs. H.
Kasnawi, M.Ag selaku kepala sekolah.
Ø Bapak H. A.H.
Machrus, S.Pd , selaku wali kelas XII IPA 1
Ø Ibu Hj. Siti
Aminah, S. Pd, selaku wali kelas XI IPA 1
Ø Bapak Ibu guru
Madrasah Aliyah Negeri Kendal
Ø Orangtua yang
selalu kami sayangi
Ø Sahabat dan teman semuanya.
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Dewasa ini,
ilmu pengetahuan dan tekhnologi sudah berkembang dengan begitu sangat pesat.
Sudah selayaknya kita mengikuti perkembangan-perkembangan yang muncul di dunia
ini. Begitupun dengan ilmu Astronomi dan juga ilmu Fisika dan Kimia lainnya.
Pengetahuan tak
hanya cukup di dapat dari buku maupun dari penjelasan guru. Tapi ilmu
pengetahuan juga bisa di dapatkan dengan kita mengunjugi tempat-tempat yang
mampu menjawab hal-hal yang tidak ada dalam teori.
Karena alasan
itulah di laksanakan field study ini,
sebagai sarana untuk menambah ilmu pengetahuan dan memperluas wawasan secara
langsung bagi siswa.Dengan demikian lulusan MAN Kendal diharapkan siap menjadi sumber daya manusia yang handal dan terampil.
B.
TUJUAN DAN MANFAAT FIELD STUDY
1.
Tujuan Field Study
·
Mengembangkan ilmu yang di dapat dari sekolah.
·
Mengembangkan wawasan mengenai dunia IPTEK
·
Siswa dapat menerapkan ilmu yang di dapat
2.
Manfaat Field Study
·
Menambah wawasan bagi siswa
·
Menjadi acuan belajar bagi siswa
·
Memberi referensi tempat belajar yang menarik
BAB
II
ISI
A.
OBSERVATORIUM BOSSCHA
1.
Latar Belakang Berdirinya
Sebagai tempat pengamatan (observasi) benda langit, obvervatorim
bosscha berdiri dan berkembang seirin dengan perkembangan astronomi dan
masyarakat Indonesia.
Sejak dahulu masyarakat Indonesia sudah mengamati langit sebagai
bagian dari kebdayaan dan kebutuhan. Untuk kepentingan pertanian, petunjuk
arah, perhitungan waktu dan ritual keagamaan. Penamaan berbagai rasi bintang,
system penanggalan, dan ritual keagamaan, merupakan bukti kegiatan Atronomi
Bangsa Insonesia masa lalu.
Jauh sebelum Observatorium Bosscha berdiri, kegiatan pengamatan dan
penelitian langit selatan sudah dilakukan orang. Tercatat, Johan Mauritz Mohr,
pendeta Belanda kelahiran Jerman, 3 abad silam, telah membangun observatorium
pribadi di Batavia (Jakarta). Hasil pengamatan transit venus tahun 1761 dan
1769 oleh Mohr di publikasikan dalam philofophical transaction. Astronom
Perancis, De Bougainville tahun 1769 juga melakukan pengamatan transit
venus.
Tahun 1920
merupakan tahun yang istimewa bagi Observatiruim Bosscha. Karena ide pendirian
“Stasiun Pengamatan Bintang” mulai bergulir dengan berdirinya Nederlandch
Indische Sterrenkundige Vereeninging (Perhimpunan Ilmu Astronomi Hindia
Belanda) yang di pelopori oleh Karel Albert Rudolf Bosscha. Tanggal 12 Septembet
1920 di adakan rapat pertama NISV di hotel Homman, Bandung yang memutuskan
untuk membangun sebuah observatorium untuk memajukan ilmu astronomi di
Hindia-Belanda. Sang pelopor NISV, Mr. Bosscha, berjanji untuk memberikan
bantuan guna pembelian teropong yang sama modernnya dengan teropong besar kala
itu. Maka persiapanpun dilakukan dengan penelitian kandidat tempat yang akan di
jadikan lokasu pendirian observatorium.
Sementara itu, Mr. Bosscha dan Dr. Voute, tahun1921 berangkat ke Astaniawerk
di Jerman untuk memesan “Meredian Circle” dan ke Carl Zeiss Jena untuk
memesan “Double refraktor”.
Setelah
melakukan penelitian, tempat yang dianggap cocok jatuh pada salah satu anak
pegunungan Tangkuban Perahu, 15 Km ke utara dari pusat kota Bandung. Lokasi
observatorium di samping udara yang sejuk, dan tenang ( cukup jauh dari
keramaian kota, kala itu), pemandangan ke timur, barat, dan selatan yang lepas,
memiliki ketinggian yang cukup baik (1300 dpl). Atas kebaikan kakak beradik Ursone,
tanah yang memiliki 6 Ha itu di hibahkan untuk pembangunan observatorium. Tahun
1922 di mulai konstruksi penbangunan observatorim hingga tanggal 1 Januari
1923. Sebagian sudah rampung, dan kemudian diresmikan oleh Gubernur Jendral Mr.
D. Fock. Dr. Voute diangkat sebagai direktur observatorium pertama. Tahun itu
pula, Prof. Dr. Ir. H.G.Van de Sande memberikan hibah buku-buku untuk
perpustakaan observatorium yang baru berdiri itu. Untuk menjaga buku0buku
tersebut, Kerkhoven membuat perpustakaan
tahan api.
Setelah sekian
lama menanti, akhirnya sang teleskop double refraktor tiba tanggal 10 Januari
1928. Rekfraktor dobel Zeiss berdiameter 60 cm, panjang 11 meter. Diturunkan
dari kapal “Kertosono” milik Rotterdamsche Lloyd. Dua puluh tujuh buah
peti kemas besar (isinya 30 ton) itu diangkut
oleh perusahaan kereta api negara (S.S.) secara gratis ke Bandung. Batlyon
Genie A.D. mengangkutnya (secara
gratis pula) dari Bandung ke Lembang. Biro bangunan kerja K.A. (S.S.) di tugasi
membuat bangunan beton berkubah dengan segala pemasangan instrument yang
canggih (sophisticated).
Tanggal 17
Oktober 1951, NISV menyerahkan Observatorium Bosscha ke Pemerintah RI. Kemudian
Observatorium Bosscha bergabung dengan Fakultas Ilmu Murni, Universitas
Indonesia. Setelah Fakultas Teknik Universitas Indonesia di Bandung, memisahkan
diri dengan membentuk Intitut Tekhnologi Bandung di tahun 1959, Observatorium
Bosscha selain berfungsi sebagai lembaga penelitian dan juga menjadi sarana
pendidikan formal Astronomi di Indonesia. Sarana pengamatan dan penelitian
astronomi ini ikut mengantar dalam proses pembentukan sosok astronom senior
Indonesia dan generasi astronom muda
2.
Data Observatorium Bosscha
Observatorium Bosscha berlokasi pada 107037’
BT dan 6049’30” LS. Memiliki ketinggian 1300 m
diatas permukaan laut dan 630 m diatas dataran tinggi Bandung. Terhadap kota Bandung kearah utara sejauh 15
Km. Dalam keadaan normal kondisi cuaca temperature minimm malam hari 160
( bulan Juni – Juli ) dan maksimum siang hari 230, kelembaban
rata-rata 80% - 90%. Malam cerah untuk pengamatan astrometry 150 hari per tahun
sedang untuk pengamatan fotometri lebih lemah dari itu.

3.
Fungsi Oservatorium Bosscha
PP 155 tahun 2000, Bab X Satuan Akademik pasal 44 ayat 6
menempatkan Observatorium Bosscha sebagai perangkat Penunjang Akademik
di ITB. Penempatan sebagai perangkat penunjang akademik ini sejalan dengan visi
Observatorium Bosscha secara aktif memberi konstribusi pada pengembangan ilmu
pengetahuan Astronomi dan astrofisika secara teoritik maupun observasional.
Upaya kedepan adalah meningkatkan peran dan fungsi Observatorium Bosscha ITB
sebagai Pusat Penelitian dan Pengembangan Astronomi dan Sains keantariksaan di
Indonesia.
Penilitian Astronomi dan
Astrofisika melingkupi Struktur Alam Semesta,Struktur Galaksi,Fisika Binang dan
Bintang Ganda,Tata Surya dan Sains Antariksa,secara teoristis maupun atas dasar
pengamatan. Observatorium Bosscha menjadi sarana penunjang “pendidikan” bagi
mahasiswa Departemen Astronomi dan Departemen lainnya di ITB untuk
memperkenalkan suatu model profesi astronom dan institusi astronomi. Selain itu
Observatorium Bosscha juga menjadi sarana pengajaran astronomi dan ilmu
terpaut,bagi mahasiswa dan dengan beberapa lembaga pendidikan lainnya diluar
ITB. Lingkup kegiatan kerja sama lintas institusi dalam bentuk pendidikan dan
pelatihan merupakan peran serta Observatorium Bosscha untuk menumbuhkembangkan
institusi dan masyarakat ilmiah di Indonesia.
v Observatorium
Bosscha sebagai pusat peneltian dan pengembangan keilmuan Astronomi di
Indonesia sangat beralasan mengingat adanya fasilitas pendukung berupa teleskop
optic,kepustakaan yang mutakhir dan informasi perkembangan Astrnomi dam space
science dari berbagai observatorium didunia. Selain itu juga dilengkapi dengan
internet dan komputer sehingga dapat berkomunikasi dengan dunia luae
v Staf yang
berdedikasi menghidupi kegiatan peneitian Astronomi di Observatorium Bosscha
ITB dapat bersinambung. Keberadaan Observatorium Bossca dengan kinerja, upaya
bersinambung dan aktif secara historis yang panjang juga merupakan bagian dari
‘kemudahan” dalam mengakses informasi Astronomi yang mutakhir dan ‘kemudahan”
pergaulan dalam dunia International seperti keanggotaan dalam IAU(
International Astronomical Union). Kemudahan mengakses informasi itu mendukung
kegiatan kerjasama penelitian,penelitian pasca sarjana ,menunjang perkuliahan
yang up to date dan sekaligus juga meningkatkan kualitas informasi
publikterhadap perkembangan pengetahuan yang mutakhir.
Sarana
yang tersedia serta performance.persistence dan upaya aktif merupakan
aset untuk merintis kerjasama dengan manca Negara maupun dalam negri.
Melalui proses-proses kegiatan ilmiah
dalam jangka panjangnya Observatorium Bosscha berkontribusi dalam pembentukan
masyarakat ilmiah di Indonesia.
v Kelangsungan
dan pengembangan Observatorium Bosscha bergantung pada upaya mendukung dan
mempertahankan kegiatan penelitian dan pengembangan Astronomi oleh kelompok
penelti Observatorium Bosscha agar dapat menghasilkan lebih banyak publikasi
ilmiah yang berkualitas. Publikasi ilmiah itu dapat dimanfaatkan untuk
pertukaran informasi dengan observatorium dunia dan sekaligus menjadi modal
unuk memperoleh dukungan dan pengakuan internasional dalam memajukan Astronomi
di Indonesia. Upaya-upaya agar Observatorium Bosscha tetap menjadi wadah aktif
kelompok peneliti yang ingin maju dan memajukan serta mengembangkan bidang
astronomi dan astrofisia dan ilmu yang bertautan masih memerlukan pemikiran
yang lebih dalam. Upaya penggalangan dana bagi pengembangan astronomi yang
masih lemah bertautan dengan upaya peningkatan komirmen, efesiensi dan kualitas
produktivitas kelompok peneliti.
4.
Teropong-teropong di Observatorium Bosscha
Ø
Double Refraktor Zeiss
Teleskop Zeiss beserta kubahnya merupakan sumbangan dari K.A.R.
Bosscha, dan dimaksudkan pertama kali untuk penelitian bintang ganda. Teleskop
ini mulai beroperasi tahun 1928.
Instrument utama ini, telah digunakan untuk beragam peneliian
astronomi, antara lain:
a.
Pengamatan astrometry (untuk memperoleh informasi posisi benda langit
yang akurat dalam orde sepersepuluh detik bujur) untuk penelitian orbit bintang
Ganda visual. Hingga saat ini terdapat koleksi sekitar 10000 data pengamatan
bintang ‘ganda visual’ yang diperoleh melalui teleskop Zeiss.
b.
Pengamatan astrometry untuk penelitian gerak diri bintang dalam
gugus bntang.
c.
Pengamatan astrometry untuk keperluan pengukuran paralaks bintang
untuk penelitian jarak dan system kegandaan dari bintang0bintang yan
berpasangan.
d.
Imaging, pengamatan citra detail komet terang, kawah permukaan bulan,
oposisi planet Mars, Saturnus, dan Jupiter.
Teleskop ini
terdiri dari dua teleskop utama dan satu teleskop finder (pencari). Diameter
lensa teropong pencari adalah 40 cm, dengan diameter medan pandang 1,50
atau sekitar 3 kali diameter cirta bulan purnama. Medan pandang langit yang
luas, memudahkan untuk mengidentifikasi bintang yang hendak diseidiki,
membandingan citra bintang di langit dalam medan teleskop dengan peta bintang.
Ø Teleskop
Bamberg
Teropong Bamberg dapat dipergunakan untuk pengukuran fotometri
gerhana bintang, misalnya pengamatan kurva cahaya bintan ganda Capricorni.
Selain itu juga pengamatan permukaan bulan dan saat ini di sedang dipersiapkan
untuk pengamatan bintik matahari. Teropong Bamberg juga sering dipergunakan
untuk pendidikan public, melihat cira kawah bulan, melihat cirta bintang ganda
visual, melihat citra planet dan benda langit lainnya secara langsung melalui
okuler teropong.
Ø
Teleskop Schmidt-Bimasakti
Teropong Bimasakti mempunyai system optic Schmidt oleh karenanya
sering disebut teropong Schmidt. Teropong ini mempunyai diameter lensa koreksi
51 cm, diameter cermin 71 cm dan focus 127 cm. perbandingan antara panjang
focus terhadap diameter lensa koreksi atau f-ratio telatif paling kecil
diantara teleskop-teleskop yang ada di Observatorium Bosscha, yaiut 127/51.
Ø
Goto
Teleskop ini memiliki diameter cermin 45 cm, panjang focus 1,8
meter pada cermin utama (bentuk parabola) dan 5,4 meter pada cermin kedua
(bentuk hiperbola).
Teleskop ini berjenis reflector Cassegrain dilengkapi dengan system
computer ini diprodusi oleh perusahaan optic Goto-Jepang. Pada tahun 1990
teropong ini di lengkapi kamera CCD bantuan dari Schlumberger.
Ø
Unitron
Teropong Unitron adalah teropong reflaktor. Lensa onyektifnya
berdiameter 102 mm dan panjang focus teropong 1500 mm. di lihat dari ukuran
teropongnya, teropng Unitron sangat tepat untuk pemotretan bulan dan atahri
dengan film 35 mm. teropong ini relative ringan, sehingga dapat di pergnakan
untuk keperluan ekspedisi pengamatan gerhana matahari atau gerhana bulan.
5.
Kegiatan Pengabdian pada Masyarakat
Kegiatan
pengabdian pada masyarakat merupakan sumbangsih ilmu pengetahuan dari
Observatorium Bosscha kepada masyarakat. Kegiatan itu secara umum
merupakanbagian dalam Astronomy for Non-Astronomers.
Kegiatan-kegiatan
tersebut antara lain:
Á
Kegiatan penerimaan kunjngan siang dan malam yang memperoeh dukungan
pendanaan dari LPM ITB. Upaya pendanaan dari sponsor dan pemerintah sebagai
bgian kegiatan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Á
Pertemuan Klub Penggemar Astronomi dan Astrophilatelis yang di
sponsori oleh PT. POS Indonesia telah berlangsung pada dua kegiatan, yaitu
bulan Januari 2001 dan bulan Juli 2001.
Á
Mengembangkan dan memberdayakan tim perpuatakaan menjadi unit
layanan informasi yang up to date. Kelompok ini juga mengkompilasi informasi
karya-karya staf serta membantu dalam penlisan buku astronomi. Kompilasi
karya-karya staf dan perencanaan sistematis penulisan yang popular maupun
teknis diharaokan akan memicu terbitnya karya-karya buku astronomi untuk
public.
Á
Sehubungan dengan peningkatan kualitas layanan public, perlu sarana
display presentasi lewat animasi computer, infocus dan CD astronomi.
Á
Pelatihan Hisab-Rukyat, yang di ikuti 20 peserta dari Negara MABIMS
yang di sponsori oleh Depag RI selama buan Juli-Agustus 2000.
B.
SUNDIAL PUSPA IPTEK
1.
Sundial Puspa IPTEK
Arsitektur adalah bagian dari seni. Ketika seni sastra ditransfer
ke dalam arsitektur melalui metafora dan analogi, maka hasil dari penggabungan
antara seni (sastra, musik, tari) dan arsitektur (sebagai seni bangunan) adalah
“puisi yang beku” yaitu bangunan itu sendiri.
Arsitektur merupakan sebuah kata-kata yang
diwujudkan dalam bentuk desain nyata yang dapat dilihat, dipegang, dan
dirasakan. Sebagai contohnya yaitu kata ‘jam matahari’, adalah frasa yang
berarti jam yang bergantung atau melibatkan matahari. Seorang artis, seniman, maupun
arsitek mampu membayangkan jam matahari dengan interpretasi mereka
masing-masing terhadap kata ‘jam matahari’ tersebut. Namun, dalam arsitektur,
kata-kata itu bukan hanya untuk sekadar direnungi dan dipikirkan. Dalam
arsitektur, kata-kata itu perlu diterjemahkan dalam bentuk yang nyata menjadi
sebuah bangunan.
Sundial (jam matahari) di Kota Baru Parahyangan
merupakan jam matahari terbesar yang ada di dunia. Setelah melewati gerbang
masuk Kota Baru Parahyangan, sundial ini adalah bangunan pertama yang muncul
dan menyambut orang-orang yang baru datang ataupun akan pergi.
Pertama kali melewati bangunan ini dengan
berkendaraan, tidak akan ada orang yang dapat menyadari bahwa bangunan ini
adalah jam matahari raksasa. Untuk masuk ke dalam bangunan hanya disediakan
satu titik jalur akses sehingga pada kali pertama, pengunjung akan dibuat
bingung mencari-cari pintu masuknya. Untuk para pengunjung yang membawa
kendaraan, akan lebih dibuat bingung lagi untuk mencari tempat parkir karena
tidak tersedia sama sekali fasilitas parkir di sekitar bundaran jam matahari.
Hal itulah yang akan dialami oleh para pengunjung yang baru pertama kali datang
ke Puspa Iptek ini yaitu kebingungan.
Pada kenyataannya, sudah ada fasilitas parkir
yang disediakan untuk para pengunjung. Fasilitas ini berjarak kurang lebih 500
meter dari bangunan sundial, lebih dekat kepada gerbang masuk. Namun, desain
antara bangunan dengan tempat parkirnya tidak didesain dengan baik sehingga
tidak ada integrasi antar keduanya. Inilah yang menjadi penyebab kebingungan
para pengunjung di saat pertamanya. Dari area parkir ini, ada dua jalur yang
dapat dipilih sebagai akses menuju bangunan Puspa Iptek. Akses pertama adalah
melalui trotoar di pinggir jalan utama, sedangkan akses kedua menghubungkan
area parkir langsung menuju bangunan. Seharusnya, para pengunjung dianjurkan
untuk memilih akses kedua yang lansung menuju bangunan. Namun, pada
kenyataannya, pengunjung masih banyak yang lebih menggunakan akses satu
dibandingkan akses dua karena alasan kenyamanan dan keamanan. Dari segi visual,
jalur akses yang langsung menuju ke bangunan sundial kurang memiliki daya tarik
visual untuk menarik minat pengunjung agar melewatinya. Selain itu, akses
langsung ini hanyalah berupa jalan setapak yang di sebelah kanan dan kirinya
terdapat padang rumput. Karena tempatnya yang juga agak tertutup, turut
mempengaruhi psikologis keamanan bagi pengunjung. Berbeda dengan akses yang
melalui trotoar persis di samping jalan utama, secara psikologis pengunjung
akan lebih merasa aman untuk berjalan di sini. Namun, meskipun dua jalur ini
berbeda, keduanya tetap bertemu di titik yang sama yaitu di sebrang jalan
menuju Puspa Iptek.
Sebuah kekurangan dari segi lansekap ditemukan
ketika rombongan pengunjung akan menyebrangi jalan menuju bangunan. Sang
arsitek tidak merancang jalur penyebrangan dengan desain yang baik. Atau dengan
kata lain, sang arsitek tidak mengutamakan kepentingan dan keselamatan pejalan
kaki dibandingkan kepentingan dan keselamatan pengendara kendaraan. Kekurangan
dari segi desain inilah yang akhirnya membutuhkan penyelesaian-penyelesaian
dari segi manajemen. Oleh karena itu, pihak manajemen menyediakan jasa penjaga
untuk menyebrangkan orang-orang.
Gerbang penyambutan pada bangunan Puspa Iptek
ini dirancang dengan baik. Bentuk gerbang seperti huruf ‘V’ yang terbuka ke
arah luar menciptakan kesan welcoming bagi para pengunjungnya. Selain itu jam
papan yang berwarna biru terlihat kontras dengan background gerbang berwarna
kuning sehingga membuat papan jam itu menjadi fokus visual dan point of
interest. Sebelum masuk ke dalam gerbang, pengunjung akan dapat menemukan
beberapa furnitur lansekap secara papan pengumuman, batu peresmian, dan lain
sebagainya.
Elemen lansekap baik hardscape maupun softscape
yang diolah di sekitar gerbang masuk Sundial Puspa Iptek Science Center cukup
banyak. Material yang digunakan pun sangat beragam. Sehabis menyebrangi jalan,
pengunjung akan menginjakkan kakinya di lantai beton. Setelah berjalan beberapa
langkah, material beton itu akan digantikan dengan paving block, sampai pada
akhirnya pada material keramik lalu menuju ke dalam bangunan. Dalam penataan
lansekap, sang perancang harus seimbang dan integral dalam memikirkan desain
dari segala sudut pandang. Selain memikirkan pola perletakan material hardscape,
perlu juga dipikirkan mengenai penggunaan material softscape-nya seperti jenis
tanaman, jumlah tanaman, perletakan tanaman, dan lain sebagainya.
Seperti yang sudah disebutkan sebelum, jam
matahari akan benar-benar terlihat seperti jam apabila dilihat dari atas
(helikopter, foto satelit, dll). Namun jika dilihat apa adanya dari sudut
pandang mata manusia, bangunan ini tidak akan terlihat seperti jam matahari.
Untuk memenuhi tujuan agar bangunan sundial ini tampak seperti jam matahari
raksasa apabila dilihat dari atas, maka konsekuensinya adalah penataan lansekap
sekecil apapun akan mempengaruhi tampak udara bangunan ini. Oleh karena itu,
yang perlu diketahui bersama yaitu lansekap bangunan sundial ini adalah satu
kesatuan dan saling mempengaruhi satu lain.
Penyusunan tanaman berdaun merah dan hijau yang
berselang-seling itu bukan tanpa arti, melainkan untuk mengejar tampak yang
diinginkan. Begitu pula lahan yang dilapisi semen dan hanya dicat biru serta
ditambahkan beberapa tulisan tidak lain tidak bukan adalah untuk menciptakan
jam matahari terbesar yang sempurna.
Dibalik alasan-alasan tersebut untuk mengejar
bentuk dan esetetika, ada satu hal yang juga tidak boleh dilupakan dalam
perancangan yaitu aspek sistem utilitas bangunan. Titik tekan yang lebih disoroti
di sini adalah sistem drainase air bersih, air kotor, dan air hujan. Seorang
arsitek yang hanya mengejar bentuk dan estetika biasanya tidak terlalu
memikirkan tentang sistem utilitas. Tanpa sistem utilitas yang mendukung suatu
bangunan ibarat tubuh manusia yang hidup tanpa bantuan sistem pembuluh darah.
Sundial Puspa Iptek Science Center ini meskipun
memiliki tujuan untuk mengejar bentuk dan estetika, namun juga mampu mendesain
sistem utilitasnya secara apik dan bersinergi dengan sistem bangunan. Saluran
air hujannya didesain di antara tanaman-tanaman hias yang mengelilingi sundial.
Saluran ini terlihat menyatu dengan sistem bangunan sebagai bagian dari
estetika desain. Di sekeliling bangunan juga terdapat lubang-lubang drainase
yang terintegrasi sebagai satu kesatuan bangunan. Tidak seperti bangunan yang
mengejar bentuk namun memikirkan utilitasnya belakangan lalu meletakannya di
sembarang tempat asalkan tersembunyi.
Di sekitar lahan bangunan, tidak ada pohon
jenis peneduh atau pohon-pohon sejenis palem yang tinggi. Elemen softscape yang
digunakan mayoritas adalah tanaman perdu atau semak. Hal tersebut sungguh wajar
mengingat bahwa bangunan jam matahari tersebut mengandalkan bayangan bangunan
yang jatuh ke bidang akibat sinar matahari. Oleh karena itu, pohon-pohon tinggi
ataupun sejenis peneduh yang rindang dapat menggangu sistem kerja bangunan ini.
Selain itu, para pengunjung sepertinya diharapkan tidak berjalan-jalan di
sekeliling pagar luar bangunan. Hal ini disimpulkan dari tidak adanya trotoar yang
disediakan untuk para pejalan kaki. Pohon-pohon tinggi dan trotoar hanya
tersedia di sebrang lahan bangunan sundial. Sayangnya, pohon yang digunakan
adalah jenis palem sehingga tidak cukup untuk menciptakan kenyaman termal bagi
orang-orang yang beraktivitas di bawahnya terutama ketika siang hari yang
terik.
Selain pengolahan hardscape di sekeliling
bangunan, hardscape jalan utama pun juga diolah dengan baik. Hal itu terlihat
dari detail transisi antara jalan utama menuju ke trotoar yang didahului dengan
saluran drainase, canstein, rerumputan, pepohonan, barulah akhirnya paving
block untuk tempat pejalan kaki. Pemilihan perkerasan di sekitar bangunan
sundial ini juga tidak menggunakan aspal, melainkan menggunakan paving block.
Beberapa meter menuju gerbang masuk barulah materialnya menggunakan aspal.
Dengan menggunakan material paving block, setidaknya menjadi sedikit usaha
untuk mengurangi pemakaian perkerasan jalan dan menambah luas lahan yang dapat
menyerap air.
Sundial ini adalah bangunan komersial sehingga
pada malam hari tidak banyak digunakan. Pada malam hari bangunan ini hanya
menggunakan lampu penerangan secukupnya sekadar untuk memberikan tanda bahwa di
tempat tersebut terdapat bangunan. Ada beberapa buah lampu sorot juga yang
digunakan untuk menyinari bagian-bagian tertentu pada bangunan. Lampu
penerangan yang dipakai adalah lampu yang berwarna kuning. Lampu ini saat
disorotkan ke bangunan sundial menciptakan efek yang dramatis dan eksotik.
Sebagai penerangan jalan utama, di beberapa pohon palem juga di pasang lampu
penerangan yang berwarna kuning.
Secara umum, bangunan sundial ini sangat unik.
Bangunan ini adalah bentuk metafora yang diwujudkan ke dalam bentuk bangunan.
Meskipun penulis tidak berkesempatan masuk ke dalam bangunan untuk mengeksplorasi
lebih jauh, namun dengan menilai tampak bangunan dari luar, rasanya bagian
dalam bangunan tersebut masih menyimpan banyak kejutan.

(Sundial
Puspa Iptek tampak depan)
2.
Sejarah Jam Matahari ( Sundial )
Sebelum
di temukan jam modern, dulu penentuan wakt dilakukan dengan menandai bayangan
sesuatu benda atau lubang jendela pada dinding tempat bayangan itu jatuh.
Bayanga itu berasal dari matahari atau bulan. Dari cara itu akhirnya di tekan
pola pergerakan matahari yang kemudian mengilhami munculnya sundial.
Sampau
sekaran memang belum titemukan secara pasti kapan jam matahari mulai ada. Namun
menurut referensi dalam beberapa leafet di Puspa Iptek dikatakan, penunjuk
waktu itu berkembang di antara kebudayaan Babilonia, Yunani, Mesir, dan Romawi.
Sundial di sebut-sebut juga berkembang di Negara Timur Jauh seerti China dan
Jepang.
Meski
sejarahnya tidak beitu banyak diketahui, masing-masing kebudayaan memiliki
bentuk sendiri-sendiri yang khas, bergantung atas perkembangan astronomi dan
matematika di Negara bersangkutan. Hal itu sekaligus juga menunjukan perbedaan
periode sejarah yang saling memengaruhi.
Jam
matahari tertua yang pernah ditemukan berasal dari Yunani. Penunjuk waktu
tersebut berbentuk sirkuler dengan penanda ditengah yang ditemukan oleh
Chaldean Berosis (340 SM). Sementara beberapa artefak jam matahari yang lain
ditemukan di Italia. Diantaranya di Tivoli (1746), Castel Nuovo (1751), Rigano
(1751), dan Pompei (1762). Sementara di tahun 1728, seorang astronom bernana
Jantar Mantar juga menemukan jam matahari kuno dengan gnomon 30 meter di kota
Jaipur, India.
Jam
Matahari kemudian banyak dibangun dan digunakan sebagai landmark atau elemen
penanda pada taan di kampus-kampus ternama seperti Cambridge tahun 1642.
Sebagai
peranti penunjuk waktu, sundial memiliki
beberapa jenis. Ada yang di sebut sundial horosontal, vertikao,
ekuatorial dan meridian. Sementara yang ada di sundial adalah jenis sundial
horizontal pertama di Indonesia sekaligus terbesar. Itulah mengapa kemudian
batangan besi atau gnomonnya panjang merebah. Bukan tegak berdiri.
Meski
ada beberapa jenis, namun yang lebh banyak ditemui adalah jam matahari yang
vertical dan horosontal. Di luar itu semua, yang jelas sundial tetap saja
mengandalkan sinar matahari sebahai syarat utamanya. Baru kemudian
diperhitungan dengan bayan-bayang nomon yang jatuh pada bidang dial untuk
memunculkan waktu semu local.


(Alat-alat peraga di Sundial Puspa Iptek)
3.
Visi dan Misi Sundial Puspa
Iptek
Misi
Pertama adalah Misi Pendidikan, yang merupakan urat nadi proyek ini,
pengembangan institusi formal mulai dari Taman Kanak-kanak hingga Universitas
akan didukung oleh pengembangan sarana Pendidikan Non Formal yang tersebar
diseantero proyek ini. Mengapa Misi pendidikan ini kami kedepankan, adalah dua
pertimbangan utama yang melandasinya, yaitu:
Pertama,
Pendidikan merupakan salah satu faktor terpenting dalam perkembangan kehidupan
manusia, manusia memerlukan suatu proses pendidikan didalam memenuhi kebutuhan
hidupnya untuk dapat berkembang dan hidup lebih sejahtera.
Kedua,
Pendidikan juga menentukan keberhasilan suatu bangsa dan negara, dimana perlu
sekali pembinaan terhadap perkembangan pendidikan untuk menjadikan Sumber Daya
Manusia suatu bangsa dan negara tersebut dapat berkompetisi pada era
globalisasi kini dan mendatang
Misi
Kedua adalah Penggalian Budaya Sunda
Pada tahun 1996, bersama Grup Kota Kembang yang dimotori oleh Alm. Bp Haryoto Kunto,di lakukan studi mengenai Sosial Budaya Daerah Padalarng dan sekitarnya
Pada tahun 1996, bersama Grup Kota Kembang yang dimotori oleh Alm. Bp Haryoto Kunto,di lakukan studi mengenai Sosial Budaya Daerah Padalarng dan sekitarnya
Misi
Ketiga adalah misi kompetisi global. Yang mana kami memulainya dengan pengembangan
suatu kawasan terpadu yang di sebut sebagai ‘International Park’, dimana
kawasan tersebut akan menampung fungsi perkotaan yang ditujukan untuk menarik
investasi asing ke Kabupaten Bandung dan Propinsi Jawa Barat. Bale Pare adalah
proyek pertama yang sedang dimulai pembangunannya.
BAB
III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Setelah melaksanakan field study di
Bandung, penyusun dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut:
Ø
Di Observatorium Bosscha, penulis dapat
mengetahui berbagai macam alat astronomi. Mulai dari teropong yang berukuran
kecil sampai dengan teropong yang berukuran besar dan memiliki tingkat
kerumitan yang tinggi. Selain itu penulis juga dapat mengetahui cara kerja dari
teropong. Salah satunya yaitu teropong refraktor zeiss dan teropong matahari.
Ø
Di Observatorium Bosscha, penulis juga di
sajikan video mengenai tata surya jagad raya.
Ø
Di Sundial Puspa Iptek, penulis dapat
mengetahui berbagai macam alat yang berhubungan dengan ilmu terapan, seperti
fisika, kimia dan matematika. Selain itu penulis juga bisa mempraktekkan
langsung alat-alat yang ada di Sundial Puspa Iptek.
B.
SARAN
Setelah
mengikuti field study, banyak pengetahuan dan pengalaman baru yang penulis
dapatkan. Di sini penulis akan menyampaikan beberapa saran tentang pelaksanaan
field study agar pelaksanaan field study periode yang akan datang bisa lebih
baik.
Pengaturan
waktu yang kurang baik pada pelaksanaan menjadi ganjalan tersendiri.
Keterbatasan waktu berpengaruh pada kurangnya percobaan dan eksperimen yang
akan dilakukan bagi penulis dan peserta field study yang lain. Oleh karena itu
penulis berharap agar field study yang akan datang, pengaturan waktu lebih di
perhatikan.
Selain itu
pada pelaksanaan field study, kurang adanya tutor atau guru pengampu yang
mendampingi, juga menjadi hambatan peserta dalam melaksanakan
percobaan-percobaan.
Lebih dari
itu, pelaksanaan field study periode ini cukup memuaskan dan mengesankan bagi
penulis.
C.
KESAN
Meskipun
terasa lelah dengan perjalanan yang jauh dan menghabiskan banyak waktu, namun
rasa lelah tersebut seolah terbayar lunas dengan pemandangan indah Tangkuban
Perahu. Di lanjutkan lagi dengan ketakjuban penulis pada teropong-teropong yang
ada di Observatorium Bosscha. Dan juga alat-alat percobaan yang ada di Sundial
Puspa Iptek yang menjawab rasa penasaran ketika mendapat pelajaran di sekolah.
Dan di akhiri dengan wisata belanja di Cibaduyut.
D.
PESAN
Semoga
field study yang akan datang bisa lebih menyenangkan dan dapat mendatangi tempat
yang lebih banyak mengandung pengetahuan dan mendidik.