Tuesday, May 5, 2015

NASKAH MC PERINGATAN NUZULUL QURAN


NASKAH MC PERINGATAN NUZULUL QURAN

Oleh: EMI KURNIAWATI

 

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 Bapak-bapak , Ibu-ibu dan segenap undangan yang berbahagia!

Dipagi yang cerah ini, marilah kita panjatkan puja , dan puji syukur kehadirat Allah SWT  yang telah melimpahkan rahmat  dan hidayah-Nya, sehingga kita dapat berkumpul di majlis ini dalam rangka memperingati  Nuzulul Quran.

Hadirin yang berbahagia!

Kita telah mengetahui bahwa  Al-Quran merupakan kumpulan dari beberapa firman Allah SWT, yang memuat  cerita-cerita para Nabi terdahulu dan sebagai sumber hukum yang ada di dunia ini. Untuk mengetahui sejarah singkat turunnya  Al-Quran serta pengaruhnya dalam kehidupan. Maka, nanti kita akan mendengarkan dengan seksama ceramah agama yang akan disampaikan oleh yang terhormat Al-Mukarom K.H  Saiful Anam dari Pemalang.

Hadirin yang berbahagia!

Marilah kita mulai acara pertama pada pagi hari ini dengan bacaan Basmalah. Melangkah acara kedua yaitu gemah wahyu illahi, yang akan disampaikan oleh Saudari Naima dengan Sari tilawah oleh Saudari Rafika. Dipersilahkan!

Acara ketiga, sambutan ketua penyelenggara yang akan disampaikan oleh Saudara Muhammad Nahar. Dipersilahkan!

Hadirin yang berbahagia!          

Tibalah saatnya, kita mendengarkan ceramah agama dalam rangka memperingati  Nuzulul Quran, yang akan disampaikan oleh yang terhormat  Al-Mukarom K.H  Saiful Anam. Dipersilahkan!

Hadirin yang berbahagia!

Agar acara kita hari ini mendapat ridho dari Allah SWT, maka marilah  kita berdo’a kepada Allah SWT, yang akan dipimpin oleh Ustadz Firdaus. Dipersilahkan!

Hadirin yang berbahagia!

Pada akhir acara ini saya mohon maaf, apabila ada tutur kata yang kurang berkenan dihati. Seperti kata pepatah tidak ada gading yang tidak retak.

Marilah kita tutup acara ini dengan bacaan Hamdalah.

Billahitaufiq walhidayah. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

               

 

SYARAT-SARAT GURU SUKSES DALAM MENGELOLA SISWA


SYARAT-SARAT GURU SUKSES DALAM MENGELOLA SISWA

 

Makalah

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah Manajemen Kesiswaan

Dosen Pengampu: Fatkuroji, M.Pd

 

 

 



 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh:

                                                 Emi Kurniawati           123311004

 

 

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG


2015


 

 

 

 




 


       I.            PENDAHULUAN

Kita telah memasuki suatu era yang dikenal dengan era globalisasi. Era ini dapat pula dipandang sebagai era pengetahuan karena pengetahuan akan menjadi landasan utama segala aspek kehidupan. Era pengetahuan merupakan suatu era dengan tuntutan yang lebih rumit dan menantang. Suatu era dengan spesifikasi tertentu yang sangat besar pengaruhnya terhadap dunia pendidikan dan lapangan kerja. Perubahan-perubahan yang terjadi selain karena perkembangan teknologi yang sangat pesat, juga diakibatkan oleh perkembangan yang luar biasa dalam ilmu pengetahuan, psikologi, dan transformasi nilai-nilai budaya. Dampaknya adalah perubahan cara pandang manusia terhadap manusia, cara pandang terhadap pendidikan, perubahan peran orang tua/guru/dosen, serta perubahan pola hubungan antar mereka.

Trilling dan Hood (1999) mengemukakan bahwa perhatian utama pendidikan di abad pengetahuan adalah untuk mempersiapkan hidup dan kerja bagi masyarakat. Tibalah saatnya menoleh sejenak ke arah pandangan dengan sudut yang luas mengenai peran-peran utama yang akan semakin dimainkan oleh pembelajaran dan pendidikan dalam masyarakat yang berbasis pengetahuan.

Apabila kita analisa, kemerosotan pendidikan bukan diakibatkan oleh kurikulum tetapi oleh kurangnya profesionalisme guru dan keengganan belajar siswa. Profesionalisme sebagai penunjang kelancaran guru dalam melaksanakan tugasnya, sangat dipengaruhi oleh dua faktor besar yaitu faktor internal yang meliputi minat dan bakat dan faktor eksternal yaitu berkaitan dengan lingkungan sekitar, sarana prasarana, serta berbagai latihan yang dilakukan guru. Oleh karena itu didalam makalah ini akan dibahas terkait dengan syarat-sarat guru sukses dalam mengelola siswa yang meliputi professionalisme, integritas dalam mengajar, konsep ketrampilan, dan teknik dalam pembelajaran.

 

    II.            RUMUSAN MASALAH

A.    Bagaimana pengertian professional?

B.     Bagaimana integritas dalam mengajar?

C.     Bagaimana konsep ketrampilan, dan teknik dalam pembelajaran?

 

 

 

 III.            PEMBAHASAN

A.   Pengertian professional

Menurut UU RI No. 14/2005 pasal 1 ayat 4, Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. Profesional berarti persyaratan yang memadahi sebagai suatu profesi.

Pekerjaan profesional berbeda dengan pekerjaan lainnya, karena suatu profesi memerlukan keahlian dan ketrampilan khusus dalam melaksanakan profesinya. Dengan kata lan, pekerjaan yang bersifat profesional adalah pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh mereka yang khusus dipersiapkan untuk itu, dan bukan pekerjaan yang dikerjakan oleh mereka yang karena tidak dapat memperoleh pekerjaan lain.

Profesional berasal dari kata sifat yang berarti sangat mampu melakukan sesuatu pekerjaan, Supriyadi menyatakan bahwa profesional menunjuk pada dua hal. pertama, penampilan seseorang yang sesuai dengan tuntutan yang seharusnya, kedua, kinerja yang dituntut sesuai standar yang telah ditetapkan.

Jadi guru profesional adalah orang yang melakukan tugas profesi keguruan dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi tinggi dengan sarana menunjang berupa bekal pengetahuan yang dimilikinya sesuai standar yang telah ditetapkan.[1]

Guru sebagai tenaga profesional berperan dalam melaksanakan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu berkembangnya potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Ada lima ukuran seorang guru dinyatakan profesional. Pertama, memiliki kompeten pada siswa dan proses belajarnya. Kedua, secara mendalam menguasaui bahan ajar dan cara mengajar. Ketiga, bertanggung jawab memantau kemampuan belajar siswa. Keempat, mampu berfikir sistematis dalam melakukan tugas. Kelima, seyogyanya menjadi bagian dari masyarakat belajar di lingkungan profesinya.[2]

 

B.  Integritas dalam mengajar

Integritas berarti  mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan. Untuk itu sewajarnya profesionalitas guru, harus terkait dan dibangun di atas pondasi integritas melalui penguasaan kompetensi-kompetensi yang secara nyata dalam menjalankan dan menyelesaikan tugas-tugas dan aktivitasnya sebagai guru, sehingga guru dapat menghadapi arus globalisasi dengan efektif dan tanpa “ketidakberdayaan”. Integritas dapat memulihkan dan menuntun anak ke arah yang benar, integritas yang mampu membawa pembaharuan budi dalam diri setiap anak[3]. Integritaas guru dalam mengajar mencakup hal-hal sebagai berikut:

1.      Mengajarkan kejujuran

Dalam proses belajar mengajar sangat penting untuk mengajarkan kejujuran dan integritas peserta didik. Dalam hal ini dikarenakan selain menjadi media pengajar, guru juga harus bisa menjadikan peserta didik menjadi manusia pembangunan yang modern dan jujur berintegritas tinggi, maka dari itu sebagai pendidik guru harus memiliki keahlian khusus sebagai guru seperti apakah dia mampu memberikan bimbingan dalam membantu siswa mengatasi masalah dan kesulitan-kesulitannya, dan sebagainya. Selain itu mempunyai peranan penting dalam mempertahankan mental anak. Sehingga mereka dapat mempunyai sumbangan kepada perkembangan nasional dan kesejateraan negara, karena mendidik anak-anak berarti mendidik generasi muda bangsa untuk negaranya. Dalam hal ini guru mempunyai peran dalam mempertahankan kesehatan mental bangsa dengan pengetahuannya tentang tingkah laku manusia. Maka dari itu pendidik terutama guru harus memilki keahlian khusus untuk menjadi guru dan mempunyai integrasi tinggi dan berkepribadian baik.

Dalam hal ini maka guru harus bisa membaca psikologi anak didiknya. Untuk itulah hal yang paling utama diperhatikan dan untuk membantu guru dalam upaya mengajarakan kejujuran dan integritas peserta didiknya adalah memahami perasaan, alasan, dan tujuan anak berbohong atau melakukan sesuatu hal yang kurang baik agar dapat mencetak peserta didik yang berintegritas dan bermental sehat. Maka yang perlu diperhatikan adalah kondisi perasaan dan keadaan kesehatan mental anak didiknya

2.      Jujur dan Tulus

Menjadi guru bukan sekadar melakukan pekerjaan biasa, tetapi juga memenuhi panggilan hati dan melakukan perjalanan spiritual. Dalam perjalanan profesinya, seorang guru terus mengaitkan tiga hal, yakni diri sendiri dengan anak didik dan bidang pengetahuan/keterampilan yang diampunya. Yang  pertama, proses penemuan diri seorang guru dalam perjalanan panggilannya  adalah  proses  penemuan dan pengukuhan identitas serta integritas.

Setiap guru seharusnya menggali diri sendiri, menemukan identitasnya sendiri, dan mengembangkan gaya serta metode dan teknik mengajar yang sesuai dengan diri sendiri untuk menyinarkan aura terbaiknya yang bisa menerangi peserta didik. Penemuan dan kesadaran diri ini akan menjadi modal bagi guru untuk mempertahankan integritasnya dan menjadi dirinya sendiri secara utuh, sesuai harkat kemanusiaannya. Guru hendaknya bisa menjadikan dirinya sebagai model bagi para siswanya sehingga mereka bisa mengikuti perilaku terpuji yang ditunjukkan oleh guru-gurunya

Keteladanan seorang guru adalah segala yang dapat diberikan untuk keberhasilan anak didiknya. Inilah aktualisasi dari sosok seorang yang memiliki integritas tinggi, yang akan senantiasa berpikir dan memikirkan apa yang dapat diberikan untuk anak didiknya sebelum memikirkan apa yang akan didapat[4].

C.  Konsep, ketrampilan, dan teknik dalam pembelajaran

1.    Konsep pembelajaran

Menurut kamus besar bahasa indonesia, pembelajaran berarti proses, cara, perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup belajar. Pembelajaran menurut UU Sisdiknas No. 20/2003, bab 1 pasal 1 ayat 20 adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.

Terlepas dari perbedaan pengertian diatas, diantara kesemuanya terdapat titik kesamaan definisi yaitu pembelajaran adalah usaha sadar yang dilakukan oleh guru atau pendidik untuk membuat siswa atau peserta didik belajar (mengubah tingkah laku untuk mendapatkan kemampuan baru) yang berisi suatu sistem atau rancangan untuk mencapai suatu tujuan.[5]

2.    Ketrampilan dalam pembelajaran

Ketrampilan dalam mengajar adalah ketrampilan yang mutlak yang harus dimiliki oleh guru, beberapa ketrampilan mengajar yang harus dikuasai oleh guru adalah sebagai berikut:

a)   Ketrampilan bertanya dasar.

Bagaimanapun tujuan pendidikan, secara universal guru akan selalu menggunakan ketrampilan bertanya kepada siswanya. Cara bertanya untuk seluruh kelas, untuk kelompok, atau untuk individu, memiliki pengaruh yang sangat berarti. Menstruktur pertanyaan perlu juga diperhatikan. Pertanyaan yang disajikan guru diarahkan dan ditujukan pada pelajaran yang memiliki informasi yang relevan dengan materi pelajaran.

b)   Ketrampilan bertanya lanjut

Untuk mengklasifikasikan cara berfikir siswa dalam hubungan dengan pertanyaan lanjut, digunakan konsep terminologi dari Bloom, yaitu:

1)      Recall (mengingat kembali) adalah pertanyaan yang meminta siswa untuk mengingat kembali informasi yang telah diterima sebelumnya.

2)      Pemahaman (comprehension) menyangkut kemampuan siswa menyadap informasi, menginterpretasi arti dan memberikan saran-saran.

3)      Aplikasi, pertanyaan ini meminta siswa menggunakan abstraksasi dan generalisasi pada situasi tertentu.

4)      Analisis, pertanyaan ini meminta siswa untuk dapat memecahkan masalah sampai ke bagian-bagian kecil, untuk mempelajari bagaimana hubungan antara bagian-bagian itu.

5)      Sistesis, pertanyaan sintesis meminta siswa untuk membuat pikiran baru tentang konsep, perencanaan, atau percobaan.

6)      Evaluasi, pertanyaan evaluasi meminta siswa untuk membentuk keputusan atau menyatakan pendapat khususnya tentang kualitas.[6]

c)   Ketrampilan memberi penguatan(reinforcement)

Hal yang harus perlu diperhatikan dalam pemberian penguatan ialah guru harus yakin, bahwa siswa akan menghargainya dan menyadari akan respon yang diberikan guru. Empat prinsip yang harus diperhatikan oleh guru dalam memberi penguatan kepada siswa, yaitu hangat dan antusias, hindari penggunaan penguatan negatif, penggunaan bervariasi, dan bermakna.

d)  Ketrampilan mengadakan variasi

Ketrampilan mengadakan variasi dalam proses pembelajaran akan meliputi tiga aspek yaitu:

1)      Variasi dalam gaya mengajar

2)      Variasi dalam menggunakan media dan bahan pengajaran, serta

3)      Variasi dalam interaksi antara guru dengan siswa.

Apabila ketiga komponen tersebut dikombinasikan penggunaannya, maka akan meningkatkan perhatian siswa, membangkitkan keinginan, dan kemauan belajar. Ketrampilan mengadakan variasi ni lebih luas penggunaannya.

e)   Ketrampilan menjelaskan

Guru menggunakan istilah menjelaskan untuk penyajian lisan di dalam interaksi edukatif. Ketrampilan menjelaskan diperlukan dalam pengajaran pada hampir semua topik yang terdapat dalam kurikulum, menjelaskan tidak sekedar mengopi apa yang terdapat dalam silabus, melainkan lebih dari itu. Dalam menjelaskan perlu diperhatikan ciri-ciri atau karakteristik si penerima pesan, yaitu anak didik sebagai suatu kelompok.

f)    Ketrampilan membuka dan menutup pelajaran

Ketrampilan membuka adalah perbuatan guru untuk menciptakan siap mental dan menimbulkan perhatian anak didik agar terpusat pada apa yang akan dipelajari. Sedangkan menutup pelajaran adalah mengakhiri kegiatan inti pelajaran.

Komponen ketrampilan membuka dan menutup pembelajaran meliputi meningkatkan perhatian, menimbulkan motivasi, memberi acuan melalui berbagai usaha, membuat kaitan atau hubungan diantara materi-materi yang akan dipelajari dengan pengalaman dan pengetahuan yang telah dikuasai siswa, review dan mengevaluasi.[7]

g)   Ketrampilan mengelola kelas

Pengelolaan kelas adalah ketrampilan guru menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses interaksi edukatif. Guru menggunakannya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas untuk mencapai tujuan pengajaran secara efisien dan memungkinkan anak didik dapat belajar.

h)   Ketrampilan memimpin diskusi kelompok kecil

Diskusi kelompok kecil sangat bermanfaat untuk memberikan pengalaman pendidikan bagi anak didik yang terlibat didalamnya. Potensi yang berpengaruh terhadap partisipasi seperti saling memberi informasi, dapat mengeksplorasi gagasan, meningkatkan pemahaman baru terhadap hal-hal yang bermanfaat, meningkatkan keterlibatan anak didik dalam perencanaan, pengambilan keputusan, memperbaiki kerjasama kelompok, semuanya mempersiapkan anak didik untuk berpartisipasi secara efektif dalam kelompok untuk ketrampilan hari depan.

i)     Ketrampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan

Dalam mengajar kelompok kecil dan perorangan, guru bertindak sebagai operator dalam sistem tersebut. Hubungan interpersonal dan sosial dang mengorganisasikan adalah hal penting untuk mensukseskan  mengajar kelompok kecil dan perorangan. Guru harus memiliki ketrampilan melakukan hubungan antar pribadi. untuk itu ada ketrampilan yang diperlukan yaitu: ketrampilan mengadakan pendekatan secara pribadi, ketrampilan mengorganisasi, ketrampilan membimbing dan membatu.[8]

3.    Teknik pembelajaran

Diantara macam-macam teknik pembelajaran adalah sebagai berikut:

a)      Teknik pembelajaran kertas satu menit (one minute paper)

Teknik ini aslinya dikembangkan oleh Spencer Kagan dan diterapkan dalam pembelajaran kooperatif. Teknik pembelajaran ini merupakan teknik yang efektif untuk mengukur kemajuan pembelajaran para pesert didik, baik kemajuan dalam pemahaman terhadap bahan ajar maupun kemajuan dalam melakukan tanggapan terhadap bahan ajar.

b)      Teknik pembelajaran butir terjelas (clearest point)

Ini adalah suatu variasi dari teknik kertas satu menit. Dalam teknik ini, guru dapat memberikan waktu yang lebih longgar (relatif lebih lama) kepada para siswa untuk menjawab suatu pertanyaan, misalnya dengan mengajukan pertanyaan “apakah butir terjelas atau esensi utama dari pembelajaran hari ini?”. Atau  guru jutstru bertanya tentang hal-hal yang kurang jelas bagi siswa. Misalnya, mengajukan pertanyaan yang lebih khusus “apakah ada diantara kalian yang kurang jelas tentang konsep mol? (dalam mata pelajaran kimia), apakah ada yang kurang dipahami tentang sebab-sebab perang Diponegoro (dalam bidang sejarah), apa yang belum kalian pahami tentang mutasi genetik? (dalam bidang biologi)

c)      Teknik pembelajaran tanggapan aktiv (aktive response)

Teknik ini juga mirip dengan teknik-teknik diatas. Dalam hal ini, guru meminta kepada para peserta didik untuk melaporkan tanggapan mereka terhadap suatu fase tertentu dari bahan ajar, misalnya memberikan suatu penilaian terhadap bagian bahan ajar tertentu, contohnya dalam mata pelajaran biologi peserta didik diminta untuk memberikan tanggapan terhadap taksonomi vertebrata. Teknik ini juga merupakan teknik yang baik untuk meminta penilaian para siswa terhadap teori evalusi, misalnya membandingkannya dengan teori penciptaan, atau penilaian mereka terhadap apakah perlu membatasi pemakaian kertas dan plastik, jika perlu apa sebabnya, atau setujukan mereka terhadap pembangunan Pusat Listrik Tenaga Nuklir di Indonesia dan sebagainya.

d)     Teknik pembelajaran jurnal harian (daily journal)

Teknik ini memiliki manfaat yang lebih luas dibandingkan dengan teknik pembelajaraan yang diuraikan di atas. Namun sayang sekali teknik pembelajaran ini jarang digunakan. Pembelajaran dengan jurnal (journaling) adalah suatu praktik penulisan atau pencatatan pada sebuah kertas (atau halaman dari suatu buku jurnal) tentang kumpulan pemikiran, pemahaman dan penjelasan tentang sebuah gagasan atau konsep. buku jurnal biasanya tercetak berupa bundelan buku.

e)      Teknik pembelajaraan ringkasan (student summary)

Teknik ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam mendengaarkan secara aaktif (aktive listening). Setelah salah satu siswa secara sukarela menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru, guru meminta siswa lain untuk membuat ringkasan atau mengemukakan butir-butir penting dari tanggapan siswa yang menjawab pertanyaan pertama tadi. Dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk meringkas atau mengemukakan butir-butir penting dari jawaban temnya, akan memaksa siswa untuk berpartisipasi aktif dan mampu memberikan pemahaman kepada siswa bahwa pada haikaktnya suatu pembelajaran itu akan berlangsung dengan baik jika ada saling tukar pikiran antar para siswa.

f)       Teknik pembelajaran tanggapan terhadap demonstrasi (response to a demonstration)

Setelah guru melaksanakn presentasi pembelajaran atau suatu kegiatan demonstrasi, para siswa diminta untuk menuliskan suatu paragraf yang dimulai dengan kalimat , misalnya:

“saya pada hari ini telah belajar tentang.....”

“saya mulai bertanya-tanya tentang apa itu sebenarnya....”

“saya merasa kagum terhadap....”

Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk merefleksikan hal-ha apa saja yang baru dipelajari dari presentasi gurunya[9].

 

 IV.            KESIMPULAN

A.    Menurut UU RI No. 14/2005 pasal 1 ayat 4, Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. Profesional berarti persyaratan yang memadahi sebagai suatu profesi.

B.     Integritas berarti  mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan. Integritas dalam mengajar dapat di lakukan dengan mengajarkan kejujuran kepada peserta didik, serta mengajar jujur dan tulus.

C.     Menurut kamus besar bahasa indonesia, pembelajaran berarti proses, cara, perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup belajar , Ketrampilan dalam mengajar adalah ketrampilan yang mutlak yang harus dimiliki oleh guru, beberapa ketrampilan mengajar yang harus dikuasai oleh guru adalah ketrampilan bertanya dasar, ketrampilan bertaanya lanjut, ketrampilan memberi penguatan, ketrampilan mengadakan variasi, ketrampilan menjelaskan, ketrampilan mengelola kelas, Ketrampilan memimpin diskusi kelompok kecil, Ketrampilan memimpin diskusi kelompok kecil dan perorangan. Macam-macam teknik pembelajaran yaitu teknik pembelajaran kertas satu menit (one minute paper), teknik pembelajaran butir terjelas (clearest point), teknik pembelajaran tanggapan aktiv (aktive response), teknik pembelajaran jurnal harian (daily journal),

 

    V.            PENUTUP

Demikianlah makalah yang dapat kami buat, kami  menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kami mengharap kritik dan saran dari para pembaca, guna perbaikan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin.

DAFTAR PUSTAKA

Djamarah, Syaiful Bahri,  2010, Guru & anak didik: dalam interaksi edukatif, (Jakarta: Rineka Cipta.

Khanifatul, 2013, Pembelajaran Inovatif, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media

Suprihatiningrum, Jamil, 2014, Guru Profesional ; pedoman kinerja, kualifikasi, dan Kompetensi guru, Jogjakarta, Ar-Ruzz Media

Warsono dan hariyanto, 2014, Pembelajaran Aktif: Teori dan Asesmen, (Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA.



 

 

 

 

 



 




[1] Jamil Suprihatiningrum, Guru Profesional ; pedoman kinerja, kualifikasi, dan Kompetensi guru, (Jogjakarta, Ar-Ruzz Media, 2014), hlm 50-51
[2] Jamil Suprihatiningrum, Guru Profesional ; pedoman kinerja, kualifikasi, dan Kompetensi guru,…hlm 73
[5] Khanifatul, Pembelajaran Inovatif, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), hlm 14
[6] Syaiful Bahri Djamarah, Guru & anak didik: dalam interaksi edukatif, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), hlm 99-113
[7] Syaiful Bahri Djamarah, Guru & anak didik: dalam interaksi edukatif…hlm 117-139
[8] Syaiful Bahri Djamarah, Guru & anak didik: dalam interaksi edukatif …hlm 144-169
[9]Warsono dan hariyanto, Pembelajaran Aktif: Teori dan Asesmen, (Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA, 2014)  hlm.36