MODUL
PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
Makalah
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Manajemen
Pendidikan dan Pelatihan
Dosen Pengampu:Dr. H. Fatah Syukur NC, M.Ag
Disusun Oleh:
Emi Kurniawati 123311004
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2014
I.
PENDAHULUAN
Modul
merupakan salah satu bahan ajar dalam pelatihan, modul adalah media belajar
dalam bentuk bahan cetak. Sebagai media cetak, modul harus mampu memberi informasi yang mendukung
dalam kegiatan pelatihan dan pembelajaran. Dalam pembuatan modul harus
memperhatikan kedalaman, keluasan dan kecukupan uraian materinya. Artinya, modul harus
memuat materi yang perlu dikuasai oleh peserta Diklat sesuai dengan standar
kompetensi yang berlaku, selain itu modul juga
didesain
tidak hanya memperhatikan segi kebenaran materi, tetapi juga ketepatan
komunikasi, tata saji, dan pedagogik. Penyajian uraian materi pada setiap modul
ini harus jelas sehingga mudah dipahami dan dimengerti.
Hal yang
harus diperhatikan dalam pengembangan modul adalah tingkat keterbacaan, yaitu
mulai dari kosakata, kalimat, tata bahasa dan sebagainya. Keterbacaan modul ini
dapat dilihat dari sistematika penyajian dan susunan paragraf, penggunaan
kalimat, penggunaan kata dan istilah, kemudahan bahasa, kemenarikan bahasa.
Selain itu, agar mudah dipelajari secara individu, modul hendaknya menjadi
bahan belajar yang kominikatif.
Penyajian uaraian materi dalam modul hendaknya materinya relevan dengan
tuntutan kompetensi atau tujuan pembelajaran. Dengan
kata lain, modul sebagai bahan belajar harus dapat memudahkan peserta Diklat.
Selain itu, aspek lain yang harus diperhatikan dalam pengembangan modul adalah
visualisasi modul. Pemberian visualisasi modul dimaksudkan untuk menjelaskan
materi yang sulit, mempermudah pemahaman, mendorong minat peserta Diklat untuk
belajar, memperkuat daya ingat dan menyederhanakan informasi yang sulit.
Untuk
digunakan dalam pelatihan seharusnya dipilih kriteria modul yang baik. Dalam
menulis modul juga perlu diperhatikan prinsip-prinsip dalam penulisan modul.
Modul debagai bahan cetak juga tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan.
Karena tidak semua media memiliki keuntungan saja pasti ada kekuranganya.
Pemilihan modul yang baik dan yang berkualitas dapat memengaruhi keberhasilan
peserta Diklat. Sehingga tujuan pelatihan dapat tercapai dengan baik dan
peserta Diklat dapat memahami pelatihan dengan baik.
II.
RUMUSAN MASALAH
A.
Apa pengertian dan fungsi modul Diklat?
B.
Bagaimana kriteria modul Diklat yang baik?
C.
Apa saja prinsip-prinsip dalam penulisan modul Diklat?
D.
Apa saja kelebihan dan kekurangan modul Diklat?
E.
Hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam membuat
modul Diklat?
III.
PEMBAHASAN
A.
Pengertian dan fungsi modul Diklat
1. Pengertian Modul
Modul adalah bahan belajar yang dirancang
sistemastis berdasarkan kurikulum tertentu
dan dikemas dalam bentuk satuan pembelajaran terkecil dan memungkinkan
dapat dipelajari secara mandiri dalam satuan waktu tertentu..[1]
Sedangkan pengertian dari modul diklat adalah alat bantu diklat yang digunakan dalam proses
belajar mengajar berupa buku pegangan bagi instruktur maupun peserta diklat yang disusun secara
sistematik, mencakup tujuan dan uraian materi diklat, latihan dan evaluasi terhadap
peserta mengenai materi Diklat[2]. Modul biasanya berisi tentang:
a. petunjuk belajar
b. kompetensi yang akan dicapai
c. isi materi
d. informasi pendukung
e. latihan-latihan
f. petunjuk kerja
g. evaluasi
Sebuah modul akan bermakna apabila peserta
didik dapat dengan mudah mengunakannya. Dengan demikian modul harus
menggambarkan kompetensi dasar yang akan dicapai oleh peserta didik, disajikan
dengan menggunakan bahasa yang baik, menarik, dan dilengkapi dengan iluastrasi[3].
Modul sebagai bahan belajar cetak, yang secara dominan menggunakan bahasa
tulis. Ragam bahasa yang digunakan hendaknya komunikatif dan interaktif. Jika
bahasa yang dipakai kurang menarik dan sulit dicerna, tentu peserta akan bosan.
Untuk menghindari pesan yang abstrak perlu digunakan visualisasi. Visualisasi
memiliki peranan penting dan menentukan bagi pencapaian tingkat keberhasilan
proses pembelajaran.
Visualisasi modul dapat dalam bentuk
gambar, foto, lukisan, bagan, diagram, grafik, skema, flowchart,ilustrasi,
kartun, dan tulisan hias. Selain itu, dapat dalam bentuk desain grafis, warna,
ukuran, jarak, bentuk jenis huruf, dan lain lain. Bahkan pemberian gambar,
bagan, diagram, grafik, skema, ilustrasi, dan lain lain dimaksudkan untuk
memperjelas atau mendukung uarain materi modul. Artinya, pemberian visualisasi
modul dapat mendukung atau mempermudah peserta Diklat dalam memahami setiap
materi modul.[4]
2. Fungsi dari modul Diklat
Modul Diklat memiliki beberapa fungsi yang
dapat menunjang keberhasilan pelatihan, modul Diklat tidak hanya berfungsi bagi
peserta Diklat tetapi juga berfungsi bagi intruktur Diklat. Beberapa fungsi
dari modul Diklat akan diuraikan sebagai berikut.
Fungsi modul Diklat bagi peserta Diklat
yaitu:
a. Modul diklat digunakan sebagai bahan belajar dalam kegiatan
pembelajaraan peserta Diklat. Dengan modul peserta Diklat diharapkan dapat
belajar lebih terarah dan sistematis.
b. Dengan
menggunakan modul Dilat, peserta Diklat diharapkan dapat menguasai kompetensi
yang dituntut oleh kegiatan pembelajaran yang diikutinya
c. Modul berfungsi memberikan petunjuk belajar
bagi peserta Diklat selama mengikuti Diklat
d. Modul
berfungsi meningkatkan motivasi belajar peserta Diklat
Fungsi modul Diklat bagi instruktur Diklat
yaitu:
Bagi instruktur, modul berfungsi sebagai
acuan dalam menyajikan dan memberikan materi pembelajaran selama Diklat atau kegiatan
pembelajaran berlangsung serta meningkatkan kreativitas pelatih dalam
mempersiapkan pembelajaran.[5]
B.
Kriteria modul Diklat yang baik
Modul yang baik disusun sesuai dengan kebutuhan belajar dalam
sebuah proses pembelajaran, yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Dapat dipelajari oleh peserta secara mandiri, tanpa bantuan atau
seminimum mungkin bantuan dari widyaiswara (self instructional).
2. Mencakup deskripsi dan
tujuan mata diklat, standar kompetensi yang harus dicapai, kompetensi dasar,
indikator keberhasilan peserta, metode, rangkuman, latihan-latihan, yang secara
keseluruhan ditulis dan dikemas dalam satu kesatuan yang utuh (self
contained).
3. Dapat dipelajari secara tuntas, tidak tergantung pada media lain
atau tidak harus digunakan bersama-sama dengan media lain (independent).
4. Memuat alat evaluasi pembelajaran untuk mengukur tingkat kecakapan
peserta terhadap modul (self assessed).
5. miliki sistematika penyusunan yang mudah dipahami dengan bahasa
yang mudah dan lugas, sehingga dapat dipergunakan sesuai dengan tingkat
pengetahuan peserta diklat (user friendly)[6].
C.
Prinsip-prinsip dalam penulisan modul Diklat
Sebagai panduan pembelajaran mandiri, modul harus ditulis dengan
prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Memenuhi 5 (lima) kriteria modul diklat yang baik.
2.
Modul yang
disusun harus mengacu pada kurikulum Diklat dan
digunakan dalam suatu program Diklat.
3.
Disusun secara
rasional atas dasar analisis, sesuai dengan tingkat kompetensi yang harus
dicapai oleh peserta diklat setelah menguasai modul.
4.
Memuat
indikator keberhasilan agar peserta diklat dapat mengetahui secara jelas hasil
belajar yang menjadi tujuan pembelajaran.
5.
Isi modul harus
merupakan bahan yang terkini (up-to-date), sesuai dengan tuntutan
perkembangan.
6.
Memuat
contoh-contoh dan latihan-latihan yang relevan sehingga peserta diklat dapat
menerapkan di lingkungan kerjanya.
7.
Sumber pustaka
yang dipergunakan minimal 5 (lima) referensi, baik dalam bentuk buku atau karya
tulis ilmiah, yang tahun penerbitannya tidak lebih 10 tahun sebelum modul
ditulis;
8.
Acuan dalam
bentuk peraturan dan perundangan harus merujuk pada peraturan dan perundangan
yang berlaku.
9.
Ditulis oleh perorangan atau tim yang
ditugaskan oleh pimpinan instansi, dengan anggota tidak lebih dari 2 (dua)
orang yang kompeten dalam bidang yang ditulis.[7]
D.
Kelebihan dan kekurangan modul Diklat
Modul sebagai bahan ajar dalam Diklat juga
mempunyai kelebihan dan kekurangan yang akan diuraikan sebagai berikut:
1. Kelebihan
modul Diklat
a. Peserta didik dalam pelatihan dapat belajar
dan maju sesuai dengan kecepatan masing-masing karena materi yang dirancang
disesuaikan sesuai kebutuhan sehingga
peserta diharapkan materi dalam modul.
b. Peserta didik dapat membaca dan mempelajari
materinya secara mandiri.
c. Peserta dapat berinteraksi aktif karena
harus merespon pertanyaan dan latihan dalam modul.
d. Modul merupakan media belajar cetak yang
dapat di produksi dan di distribusikan dengan mudah.
2. Kekurangan modul Diklat
a. Biaya percetakan mahal apabila ingin
menampilkan ilustrasi, gambar, atau foto yang berwarna warni dalam kualitas
yang sangat tinggi.
b. Pembagian unit-unit materi harus dirancang
sedemikian rupa sehingga tidak terlalu panjang dan membosankan.
c. Modul merupakan media cetak yang apabila
tidak dirawat dengan baik akan rusak atau hilang[8].
E. Hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan
dalam membuat modul Diklat
Modul sebagai bahan belajar utama harus
memuat materi pembelajaran yang perlu dikuasai oleh peserta Diklat dan
memungkinkannya untuk mencapai kompetensi, oleh karena itu dalam pembuatan
modul Diklat perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Modul perlu memperhatikan kedalaman,
keluasan dan kecukupan uraian materinya. Artinya, modul harus memuat materi
yang perlu dikuasai oleh peserta Diklat sesuai dengan standar kompetensi yang
berlaku.
2. Modul didesain tidak hanya memperhatikan
segi kebenaran materi, tetapi juga ketepatan komunikasi, tata saji, dan
pedagogik. Penyajian uraian materi pada setiap modul ini harus jelas sehingga
mudah dipahami dan dimengerti.
3. Penyajian uaraian materi dalam modul
hendaknya materinya relevan dengan tuntutan kompetensi atau tujuan
pembelajaran.[9]
4. Penyajian materi pembelajaran dalam modul
sebaiknya dibagi menjadi beberapa kegiatan belajar yang menjadikan topik-topik
yang tidak terlalu luas atau terlalu dalam sehingga mudah dicerna oleh peserta
Diklat.
5. Pemberian contoh, ilustrasi, dan lain lain
dalam uraian materi modul harus sesuai atau relevan dengan uraian materi pada setiap
modul sehingga mudah dipahami.
6. Modul untuk menyampaikan sebuah materi
pembelajaran harus dengan menggunakan bahasa tertulis dan pola pembelajaran
dalam modul hendaknya pembelajaran yang bermakna dan mengaktifkan.
7. Penyajian materi modul harus dapat mendorong
keterlibatan peserta Diklat secara intelektual dan emosional pembelajaran.
8. Penyajian materi modul harus dapat
mendorong peserta Diklat untuk menemukan/mengontruksi sendiri konsep yang
sedang dipelajari melalui penafsiran yang dilakukan dengan berbagai tugas,
seperti melakukan observasi, diskusi, dan percobaan[10].
IV.
ANALISIS
Dalam
sebuah pelatihan atau pembelajaran biasanya memerlukan sebuah bahan ajar. Dalam
Diklat bahan ajar yang biasanya digunakan adalah modul Diklat. Modul Diklat
digunakan untuk peserta Diklat maupun untuk instrukur. Penggunaan modul Diklat
haruslah digunakan sebaik mungkin agar bermakna bagi peserta Diklat. Karena
pemahaman peserta Diklat terhadap modul berpengaruh pada keberhasilan pelatihan.
Kriteria
modul yang baik adalah apabila modul tersebut isi materinya bisa membuat
peserta Diklat merasa paham dan mengerti. Sebaiknya bahasa dalam modul dibuat
menarik dan perlu adanya pemberian visualisasi untuk memperjelas uraian materi.
Apabila isi materi sulit dipahami maka akan berpengaruh apada keberhasilan
pelatihan dari peserta Diklat. Bukan hanya dari isi materi saja yang mendapat
perhatian dalam modul Diklat, tetapi
juga tentang sistematika penulisannya juga perlu di atur dengan baik.
Isi modul biasanya dilengkapi dengan
latihan-latihan soal gunanya untuk mengetahui perkembangan peserta Diklat dalam
memahami materi Diklat tersebut. Selin sebagai bahan ajar bagi peserta Diklat,
modul juga berfungsi bagi intstruktur sebagai
acuan dalam menyajikan dan memberikan materi pembelajaran selama Diklat atau
kegiatan pembelajaran berlangsung serta meningkatkan kreativitas pelatih dalam
mempersiapkan pembelajaran.
Untuk bahan ajar modul Diklat ini
memiliki yaitu peserta didik dalam pelatihan dapat belajar dan maju sesuai dengan
kecepatan masing-masing karena materi yang dirancang disesuaikan sesuai kebutuhan sehingga peserta diharapkan materi
dalam modul, peserta didik dapat membaca dan mempelajari materinya secara
mandiri, peserta dapat berinteraksi aktif karena harus merespon pertanyaan dan
latihan dalam modul, modul merupakan media belajar cetak yang dapat di produksi
dan di distribusikan dengan mudah.
Modul yang berkualitas dapat
mempengaruhi keberhasilan peserta Diklat. Oleh karena itu, modul sebagai bahan
belajar cetak seharusnya dapat mengembangkan strategi dan ketrampilan belajar
peserta Diklat, ditata sesuai dengan kebutuhan peserta Diklat, berisi fitur,
tanda, atau simbol yang dapat memotivasi peserta Diklat, mendorong peserta
untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari, memberikan cukup
latihan yang dapat memajukan belajar, menuntut kegiatan membaca dan aktivitas
dan mengemas sajian yang dapat membantu untuk dapat belajar secara efisien.
Untuk bahan belajar cetak seperti modul
dalam Diklat juga harus disusun sedemikian rupa sehingga membuat peserta Diklat
belajar aktif. Teknik-teknik yang digunsksn untuk mengaktifkan peserta Diklat
adalah yang pertama harus merumuskan tujuan instruksional secara jelas, isinya
bukan saja berbentuk uraian, melainkan juga kegiatan latihan, perumusan
ringkasan, penyediaan soal atau tes, penggunaan huruf tebal dan huruf miring
pada judul bab, judul subbab, dan kata-kata kunci.
V.
KESIMPULAN
Modul diklat adalah alat bantu
diklat yang digunakan dalam proses belajar mengajar berupa buku pegangan bagi
instruktur maupun peserta diklat yang disusun secara sistematik, mencakup
tujuan dan uraian materi diklat, latihan dan evaluasi terhadap peserta mengenai
materi diklat.Fungsi modul Diklat bagi peserta
Diklat yaitu digunakan sebagai bahan
belajar dalam kegiatan pembelajaraan peserta Diklat. Fungsi modul Diklat bagi
instruktur Diklat yaitu berfungsi sebagai acuan dalam menyajikan dan memberikan
materi pembelajaran selama Diklat atau kegiatan pembelajaran berlangsung serta
meningkatkan kreativitas pelatih dalam mempersiapkan pembelajaran.
Modul yang baik disusun sesuai
dengan kebutuhan belajar dalam sebuah proses pembelajaran, yang memiliki
ciri-ciri yaitu self
instructional, self contained ,self independent, assessed, user
friendy.Sebagai panduan pembelajaran
mandiri, modul harus ditulis dengan prinsip-prinsip diantaranya adalah memenuhi 5 (lima) kriteria modul diklat yang baik, modul
yang disusun harus mengacu pada kurikulum Diklat
dan digunakan dalam suatu program Diklat, disusun
secara rasional atas dasar analisis, sesuai dengan tingkat kompetensi yang
harus dicapai oleh peserta diklat setelah menguasai modul, memuat
indikator keberhasilan agar peserta diklat dapat mengetahui secara jelas hasil
belajar yang menjadi tujuan pembelajaran, isi
modul harus merupakan bahan yang terkini (up-to-date), sesuai dengan
tuntutan perkembangan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat modul Diklat diantaranya
adalah Modul perlu memperhatikan kedalaman, keluasan dan kecukupan uraian
materinya. Artinya, modul harus memuat materi yang perlu dikuasai oleh peserta
Diklat sesuai dengan standar kompetensi yang berlaku dan penyajian uraian
materi pada setiap modul ini harus jelas sehingga mudah dipahami dan
dimengerti.
Kelebihan modul Diklat yaitu peserta didik dalam
pelatihan dapat belajar dan maju sesuai dengan kecepatan masing-masing karena
materi yang dirancang disesuaikan sesuai
kebutuhan sehingga peserta diharapkan materi dalam modul, peserta didik
dapat membaca dan mempelajari materinya secara mandiri, peserta dapat
berinteraksi aktif karena harus merespon pertanyaan dan latihan dalam modul, modul
merupakan media belajar cetak yang dapat di produksi dan di distribusikan
dengan mudah. Sedangkan Kekurangan modul Diklat yaitu biaya percetakan mahal
apabila ingin menampilkan ilustrasi, gambar, atau foto yang berwarna warni
dalam kualitas yang sangat tinggi, pembagian unit-unit materi harus
dirancang sedemikian rupa sehingga tidak terlalu panjang dan membosankan, modul
merupakan media cetak yang apabila tidak dirawat dengan baik akan rusak atau
hilang.
VI.
PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat saya
buat, saya menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, kami mengharap kritik dan saran dari para
pembaca, guna perbaikan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi
kita semua. Amin...
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, Azhar, 2003, Media Pembelajaran,
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Majid,
Abdul, 2008, Perencanaan
Pembelajaran, Bandung: PT Rosda Karya.
Peraturan Kepala Lembaga Administrasi
Negara Nomor: 5 Tahun 2009 tentang Pedoman Penulisan Modul Pendidikan dan
Pelatihan, (Lemabaga Administrasi Negara: Jakarta, 2009.
Warsita, Bambang, 2011, PENDIDIKAN JARAK JAUH, perancangan,
pengembangan, implementasi Diklat, Bandung: PT Remaja Rosda Karya,
[1]
Bambang Warsita, PENDIDIKAN JARAK JAUH,
perancangan, pengembangan, implementasi Diklat, (Bandung: PT Remaja Rosda
Karya, 2011), hlm.111
[4]
Bambang Warsita, PENDIDIKAN JARAK JAUH,
perancangan, pengembangan, implementasi Diklat…..hlm.115
MODUL
PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
Makalah
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Manajemen
Pendidikan dan Pelatihan
Dosen Pengampu:Dr. H. Fatah Syukur NC, M.Ag
y
Disusun Oleh:
Emi Kurniawati 123311004
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2014
I.
PENDAHULUAN
Modul
merupakan salah satu bahan ajar dalam pelatihan, modul adalah media belajar
dalam bentuk bahan cetak. Sebagai media cetak, modul harus mampu memberi informasi yang mendukung
dalam kegiatan pelatihan dan pembelajaran. Dalam pembuatan modul harus
memperhatikan kedalaman, keluasan dan kecukupan uraian materinya. Artinya, modul harus
memuat materi yang perlu dikuasai oleh peserta Diklat sesuai dengan standar
kompetensi yang berlaku, selain itu modul juga
didesain
tidak hanya memperhatikan segi kebenaran materi, tetapi juga ketepatan
komunikasi, tata saji, dan pedagogik. Penyajian uraian materi pada setiap modul
ini harus jelas sehingga mudah dipahami dan dimengerti.
Hal yang
harus diperhatikan dalam pengembangan modul adalah tingkat keterbacaan, yaitu
mulai dari kosakata, kalimat, tata bahasa dan sebagainya. Keterbacaan modul ini
dapat dilihat dari sistematika penyajian dan susunan paragraf, penggunaan
kalimat, penggunaan kata dan istilah, kemudahan bahasa, kemenarikan bahasa.
Selain itu, agar mudah dipelajari secara individu, modul hendaknya menjadi
bahan belajar yang kominikatif.
Penyajian uaraian materi dalam modul hendaknya materinya relevan dengan
tuntutan kompetensi atau tujuan pembelajaran. Dengan
kata lain, modul sebagai bahan belajar harus dapat memudahkan peserta Diklat.
Selain itu, aspek lain yang harus diperhatikan dalam pengembangan modul adalah
visualisasi modul. Pemberian visualisasi modul dimaksudkan untuk menjelaskan
materi yang sulit, mempermudah pemahaman, mendorong minat peserta Diklat untuk
belajar, memperkuat daya ingat dan menyederhanakan informasi yang sulit.
Untuk
digunakan dalam pelatihan seharusnya dipilih kriteria modul yang baik. Dalam
menulis modul juga perlu diperhatikan prinsip-prinsip dalam penulisan modul.
Modul debagai bahan cetak juga tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan.
Karena tidak semua media memiliki keuntungan saja pasti ada kekuranganya.
Pemilihan modul yang baik dan yang berkualitas dapat memengaruhi keberhasilan
peserta Diklat. Sehingga tujuan pelatihan dapat tercapai dengan baik dan
peserta Diklat dapat memahami pelatihan dengan baik.
II.
RUMUSAN MASALAH
A.
Apa pengertian dan fungsi modul Diklat?
B.
Bagaimana kriteria modul Diklat yang baik?
C.
Apa saja prinsip-prinsip dalam penulisan modul Diklat?
D.
Apa saja kelebihan dan kekurangan modul Diklat?
E.
Hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam membuat
modul Diklat?
III.
PEMBAHASAN
A.
Pengertian dan fungsi modul Diklat
1. Pengertian Modul
Modul adalah bahan belajar yang dirancang
sistemastis berdasarkan kurikulum tertentu
dan dikemas dalam bentuk satuan pembelajaran terkecil dan memungkinkan
dapat dipelajari secara mandiri dalam satuan waktu tertentu..[1]
Sedangkan pengertian dari modul diklat adalah alat bantu diklat yang digunakan dalam proses
belajar mengajar berupa buku pegangan bagi instruktur maupun peserta diklat yang disusun secara
sistematik, mencakup tujuan dan uraian materi diklat, latihan dan evaluasi terhadap
peserta mengenai materi Diklat[2]. Modul biasanya berisi tentang:
a. petunjuk belajar
b. kompetensi yang akan dicapai
c. isi materi
d. informasi pendukung
e. latihan-latihan
f. petunjuk kerja
g. evaluasi
Sebuah modul akan bermakna apabila peserta
didik dapat dengan mudah mengunakannya. Dengan demikian modul harus
menggambarkan kompetensi dasar yang akan dicapai oleh peserta didik, disajikan
dengan menggunakan bahasa yang baik, menarik, dan dilengkapi dengan iluastrasi[3].
Modul sebagai bahan belajar cetak, yang secara dominan menggunakan bahasa
tulis. Ragam bahasa yang digunakan hendaknya komunikatif dan interaktif. Jika
bahasa yang dipakai kurang menarik dan sulit dicerna, tentu peserta akan bosan.
Untuk menghindari pesan yang abstrak perlu digunakan visualisasi. Visualisasi
memiliki peranan penting dan menentukan bagi pencapaian tingkat keberhasilan
proses pembelajaran.
Visualisasi modul dapat dalam bentuk
gambar, foto, lukisan, bagan, diagram, grafik, skema, flowchart,ilustrasi,
kartun, dan tulisan hias. Selain itu, dapat dalam bentuk desain grafis, warna,
ukuran, jarak, bentuk jenis huruf, dan lain lain. Bahkan pemberian gambar,
bagan, diagram, grafik, skema, ilustrasi, dan lain lain dimaksudkan untuk
memperjelas atau mendukung uarain materi modul. Artinya, pemberian visualisasi
modul dapat mendukung atau mempermudah peserta Diklat dalam memahami setiap
materi modul.[4]
2. Fungsi dari modul Diklat
Modul Diklat memiliki beberapa fungsi yang
dapat menunjang keberhasilan pelatihan, modul Diklat tidak hanya berfungsi bagi
peserta Diklat tetapi juga berfungsi bagi intruktur Diklat. Beberapa fungsi
dari modul Diklat akan diuraikan sebagai berikut.
Fungsi modul Diklat bagi peserta Diklat
yaitu:
a. Modul diklat digunakan sebagai bahan belajar dalam kegiatan
pembelajaraan peserta Diklat. Dengan modul peserta Diklat diharapkan dapat
belajar lebih terarah dan sistematis.
b. Dengan
menggunakan modul Dilat, peserta Diklat diharapkan dapat menguasai kompetensi
yang dituntut oleh kegiatan pembelajaran yang diikutinya
c. Modul berfungsi memberikan petunjuk belajar
bagi peserta Diklat selama mengikuti Diklat
d. Modul
berfungsi meningkatkan motivasi belajar peserta Diklat
Fungsi modul Diklat bagi instruktur Diklat
yaitu:
Bagi instruktur, modul berfungsi sebagai
acuan dalam menyajikan dan memberikan materi pembelajaran selama Diklat atau kegiatan
pembelajaran berlangsung serta meningkatkan kreativitas pelatih dalam
mempersiapkan pembelajaran.[5]
B.
Kriteria modul Diklat yang baik
Modul yang baik disusun sesuai dengan kebutuhan belajar dalam
sebuah proses pembelajaran, yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Dapat dipelajari oleh peserta secara mandiri, tanpa bantuan atau
seminimum mungkin bantuan dari widyaiswara (self instructional).
2. Mencakup deskripsi dan
tujuan mata diklat, standar kompetensi yang harus dicapai, kompetensi dasar,
indikator keberhasilan peserta, metode, rangkuman, latihan-latihan, yang secara
keseluruhan ditulis dan dikemas dalam satu kesatuan yang utuh (self
contained).
3. Dapat dipelajari secara tuntas, tidak tergantung pada media lain
atau tidak harus digunakan bersama-sama dengan media lain (independent).
4. Memuat alat evaluasi pembelajaran untuk mengukur tingkat kecakapan
peserta terhadap modul (self assessed).
5. miliki sistematika penyusunan yang mudah dipahami dengan bahasa
yang mudah dan lugas, sehingga dapat dipergunakan sesuai dengan tingkat
pengetahuan peserta diklat (user friendly)[6].
C.
Prinsip-prinsip dalam penulisan modul Diklat
Sebagai panduan pembelajaran mandiri, modul harus ditulis dengan
prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Memenuhi 5 (lima) kriteria modul diklat yang baik.
2.
Modul yang
disusun harus mengacu pada kurikulum Diklat dan
digunakan dalam suatu program Diklat.
3.
Disusun secara
rasional atas dasar analisis, sesuai dengan tingkat kompetensi yang harus
dicapai oleh peserta diklat setelah menguasai modul.
4.
Memuat
indikator keberhasilan agar peserta diklat dapat mengetahui secara jelas hasil
belajar yang menjadi tujuan pembelajaran.
5.
Isi modul harus
merupakan bahan yang terkini (up-to-date), sesuai dengan tuntutan
perkembangan.
6.
Memuat
contoh-contoh dan latihan-latihan yang relevan sehingga peserta diklat dapat
menerapkan di lingkungan kerjanya.
7.
Sumber pustaka
yang dipergunakan minimal 5 (lima) referensi, baik dalam bentuk buku atau karya
tulis ilmiah, yang tahun penerbitannya tidak lebih 10 tahun sebelum modul
ditulis;
8.
Acuan dalam
bentuk peraturan dan perundangan harus merujuk pada peraturan dan perundangan
yang berlaku.
9.
Ditulis oleh perorangan atau tim yang
ditugaskan oleh pimpinan instansi, dengan anggota tidak lebih dari 2 (dua)
orang yang kompeten dalam bidang yang ditulis.[7]
D.
Kelebihan dan kekurangan modul Diklat
Modul sebagai bahan ajar dalam Diklat juga
mempunyai kelebihan dan kekurangan yang akan diuraikan sebagai berikut:
1. Kelebihan
modul Diklat
a. Peserta didik dalam pelatihan dapat belajar
dan maju sesuai dengan kecepatan masing-masing karena materi yang dirancang
disesuaikan sesuai kebutuhan sehingga
peserta diharapkan materi dalam modul.
b. Peserta didik dapat membaca dan mempelajari
materinya secara mandiri.
c. Peserta dapat berinteraksi aktif karena
harus merespon pertanyaan dan latihan dalam modul.
d. Modul merupakan media belajar cetak yang
dapat di produksi dan di distribusikan dengan mudah.
2. Kekurangan modul Diklat
a. Biaya percetakan mahal apabila ingin
menampilkan ilustrasi, gambar, atau foto yang berwarna warni dalam kualitas
yang sangat tinggi.
b. Pembagian unit-unit materi harus dirancang
sedemikian rupa sehingga tidak terlalu panjang dan membosankan.
c. Modul merupakan media cetak yang apabila
tidak dirawat dengan baik akan rusak atau hilang[8].
E. Hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan
dalam membuat modul Diklat
Modul sebagai bahan belajar utama harus
memuat materi pembelajaran yang perlu dikuasai oleh peserta Diklat dan
memungkinkannya untuk mencapai kompetensi, oleh karena itu dalam pembuatan
modul Diklat perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Modul perlu memperhatikan kedalaman,
keluasan dan kecukupan uraian materinya. Artinya, modul harus memuat materi
yang perlu dikuasai oleh peserta Diklat sesuai dengan standar kompetensi yang
berlaku.
2. Modul didesain tidak hanya memperhatikan
segi kebenaran materi, tetapi juga ketepatan komunikasi, tata saji, dan
pedagogik. Penyajian uraian materi pada setiap modul ini harus jelas sehingga
mudah dipahami dan dimengerti.
3. Penyajian uaraian materi dalam modul
hendaknya materinya relevan dengan tuntutan kompetensi atau tujuan
pembelajaran.[9]
4. Penyajian materi pembelajaran dalam modul
sebaiknya dibagi menjadi beberapa kegiatan belajar yang menjadikan topik-topik
yang tidak terlalu luas atau terlalu dalam sehingga mudah dicerna oleh peserta
Diklat.
5. Pemberian contoh, ilustrasi, dan lain lain
dalam uraian materi modul harus sesuai atau relevan dengan uraian materi pada setiap
modul sehingga mudah dipahami.
6. Modul untuk menyampaikan sebuah materi
pembelajaran harus dengan menggunakan bahasa tertulis dan pola pembelajaran
dalam modul hendaknya pembelajaran yang bermakna dan mengaktifkan.
7. Penyajian materi modul harus dapat mendorong
keterlibatan peserta Diklat secara intelektual dan emosional pembelajaran.
8. Penyajian materi modul harus dapat
mendorong peserta Diklat untuk menemukan/mengontruksi sendiri konsep yang
sedang dipelajari melalui penafsiran yang dilakukan dengan berbagai tugas,
seperti melakukan observasi, diskusi, dan percobaan[10].
IV.
ANALISIS
Dalam
sebuah pelatihan atau pembelajaran biasanya memerlukan sebuah bahan ajar. Dalam
Diklat bahan ajar yang biasanya digunakan adalah modul Diklat. Modul Diklat
digunakan untuk peserta Diklat maupun untuk instrukur. Penggunaan modul Diklat
haruslah digunakan sebaik mungkin agar bermakna bagi peserta Diklat. Karena
pemahaman peserta Diklat terhadap modul berpengaruh pada keberhasilan pelatihan.
Kriteria
modul yang baik adalah apabila modul tersebut isi materinya bisa membuat
peserta Diklat merasa paham dan mengerti. Sebaiknya bahasa dalam modul dibuat
menarik dan perlu adanya pemberian visualisasi untuk memperjelas uraian materi.
Apabila isi materi sulit dipahami maka akan berpengaruh apada keberhasilan
pelatihan dari peserta Diklat. Bukan hanya dari isi materi saja yang mendapat
perhatian dalam modul Diklat, tetapi
juga tentang sistematika penulisannya juga perlu di atur dengan baik.
Isi modul biasanya dilengkapi dengan
latihan-latihan soal gunanya untuk mengetahui perkembangan peserta Diklat dalam
memahami materi Diklat tersebut. Selin sebagai bahan ajar bagi peserta Diklat,
modul juga berfungsi bagi intstruktur sebagai
acuan dalam menyajikan dan memberikan materi pembelajaran selama Diklat atau
kegiatan pembelajaran berlangsung serta meningkatkan kreativitas pelatih dalam
mempersiapkan pembelajaran.
Untuk bahan ajar modul Diklat ini
memiliki yaitu peserta didik dalam pelatihan dapat belajar dan maju sesuai dengan
kecepatan masing-masing karena materi yang dirancang disesuaikan sesuai kebutuhan sehingga peserta diharapkan materi
dalam modul, peserta didik dapat membaca dan mempelajari materinya secara
mandiri, peserta dapat berinteraksi aktif karena harus merespon pertanyaan dan
latihan dalam modul, modul merupakan media belajar cetak yang dapat di produksi
dan di distribusikan dengan mudah.
Modul yang berkualitas dapat
mempengaruhi keberhasilan peserta Diklat. Oleh karena itu, modul sebagai bahan
belajar cetak seharusnya dapat mengembangkan strategi dan ketrampilan belajar
peserta Diklat, ditata sesuai dengan kebutuhan peserta Diklat, berisi fitur,
tanda, atau simbol yang dapat memotivasi peserta Diklat, mendorong peserta
untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari, memberikan cukup
latihan yang dapat memajukan belajar, menuntut kegiatan membaca dan aktivitas
dan mengemas sajian yang dapat membantu untuk dapat belajar secara efisien.
Untuk bahan belajar cetak seperti modul
dalam Diklat juga harus disusun sedemikian rupa sehingga membuat peserta Diklat
belajar aktif. Teknik-teknik yang digunsksn untuk mengaktifkan peserta Diklat
adalah yang pertama harus merumuskan tujuan instruksional secara jelas, isinya
bukan saja berbentuk uraian, melainkan juga kegiatan latihan, perumusan
ringkasan, penyediaan soal atau tes, penggunaan huruf tebal dan huruf miring
pada judul bab, judul subbab, dan kata-kata kunci.
V.
KESIMPULAN
Modul diklat adalah alat bantu
diklat yang digunakan dalam proses belajar mengajar berupa buku pegangan bagi
instruktur maupun peserta diklat yang disusun secara sistematik, mencakup
tujuan dan uraian materi diklat, latihan dan evaluasi terhadap peserta mengenai
materi diklat.Fungsi modul Diklat bagi peserta
Diklat yaitu digunakan sebagai bahan
belajar dalam kegiatan pembelajaraan peserta Diklat. Fungsi modul Diklat bagi
instruktur Diklat yaitu berfungsi sebagai acuan dalam menyajikan dan memberikan
materi pembelajaran selama Diklat atau kegiatan pembelajaran berlangsung serta
meningkatkan kreativitas pelatih dalam mempersiapkan pembelajaran.
Modul yang baik disusun sesuai
dengan kebutuhan belajar dalam sebuah proses pembelajaran, yang memiliki
ciri-ciri yaitu self
instructional, self contained ,self independent, assessed, user
friendy.Sebagai panduan pembelajaran
mandiri, modul harus ditulis dengan prinsip-prinsip diantaranya adalah memenuhi 5 (lima) kriteria modul diklat yang baik, modul
yang disusun harus mengacu pada kurikulum Diklat
dan digunakan dalam suatu program Diklat, disusun
secara rasional atas dasar analisis, sesuai dengan tingkat kompetensi yang
harus dicapai oleh peserta diklat setelah menguasai modul, memuat
indikator keberhasilan agar peserta diklat dapat mengetahui secara jelas hasil
belajar yang menjadi tujuan pembelajaran, isi
modul harus merupakan bahan yang terkini (up-to-date), sesuai dengan
tuntutan perkembangan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat modul Diklat diantaranya
adalah Modul perlu memperhatikan kedalaman, keluasan dan kecukupan uraian
materinya. Artinya, modul harus memuat materi yang perlu dikuasai oleh peserta
Diklat sesuai dengan standar kompetensi yang berlaku dan penyajian uraian
materi pada setiap modul ini harus jelas sehingga mudah dipahami dan
dimengerti.
Kelebihan modul Diklat yaitu peserta didik dalam
pelatihan dapat belajar dan maju sesuai dengan kecepatan masing-masing karena
materi yang dirancang disesuaikan sesuai
kebutuhan sehingga peserta diharapkan materi dalam modul, peserta didik
dapat membaca dan mempelajari materinya secara mandiri, peserta dapat
berinteraksi aktif karena harus merespon pertanyaan dan latihan dalam modul, modul
merupakan media belajar cetak yang dapat di produksi dan di distribusikan
dengan mudah. Sedangkan Kekurangan modul Diklat yaitu biaya percetakan mahal
apabila ingin menampilkan ilustrasi, gambar, atau foto yang berwarna warni
dalam kualitas yang sangat tinggi, pembagian unit-unit materi harus
dirancang sedemikian rupa sehingga tidak terlalu panjang dan membosankan, modul
merupakan media cetak yang apabila tidak dirawat dengan baik akan rusak atau
hilang.
VI.
PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat saya
buat, saya menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, kami mengharap kritik dan saran dari para
pembaca, guna perbaikan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi
kita semua. Amin...
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, Azhar, 2003, Media Pembelajaran,
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Majid,
Abdul, 2008, Perencanaan
Pembelajaran, Bandung: PT Rosda Karya.
Peraturan Kepala Lembaga Administrasi
Negara Nomor: 5 Tahun 2009 tentang Pedoman Penulisan Modul Pendidikan dan
Pelatihan, (Lemabaga Administrasi Negara: Jakarta, 2009.
Warsita, Bambang, 2011, PENDIDIKAN JARAK JAUH, perancangan,
pengembangan, implementasi Diklat, Bandung: PT Remaja Rosda Karya,
[1]
Bambang Warsita, PENDIDIKAN JARAK JAUH,
perancangan, pengembangan, implementasi Diklat, (Bandung: PT Remaja Rosda
Karya, 2011), hlm.111
[4]
Bambang Warsita, PENDIDIKAN JARAK JAUH,
perancangan, pengembangan, implementasi Diklat…..hlm.115
[5]
Bambang Warsita, PENDIDIKAN JARAK JAUH,
perancangan, pengembangan, implementasi Diklat…..hlm.111
[6]
Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor: 5
Tahun 2009 tentang Pedoman Penulisan Modul Pendidikan dan Pelatihan,
(Lemabaga Administrasi Negara: Jakarta, 2009), hlm.4
[7]
Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor: 5
Tahun 2009 tentang Pedoman Penulisan Modul Pendidikan dan Pelatihan,
(Lemabaga Administrasi Negara: Jakarta, 2009), hlm.5
[9] Bambang Warsita, PENDIDIKAN JARAK JAUH,
perancangan, pengembangan, implementasi Diklat…..hlm.113
[10]
[10]
Bambang Warsita, PENDIDIKAN JARAK JAUH,
perancangan, pengembangan, implementasi Diklat…..hlm.115
[5]
Bambang Warsita, PENDIDIKAN JARAK JAUH,
perancangan, pengembangan, implementasi Diklat…..hlm.111
[6]
Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor: 5
Tahun 2009 tentang Pedoman Penulisan Modul Pendidikan dan Pelatihan,
(Lemabaga Administrasi Negara: Jakarta, 2009), hlm.4
[7]
Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor: 5
Tahun 2009 tentang Pedoman Penulisan Modul Pendidikan dan Pelatihan,
(Lemabaga Administrasi Negara: Jakarta, 2009), hlm.5
[9] Bambang Warsita, PENDIDIKAN JARAK JAUH,
perancangan, pengembangan, implementasi Diklat…..hlm.113
[10]
[10]
Bambang Warsita, PENDIDIKAN JARAK JAUH,
perancangan, pengembangan, implementasi Diklat…..hlm.115
No comments:
Post a Comment