Wednesday, March 18, 2015

MODUL PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
Makalah
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Manajemen Pendidikan dan Pelatihan
Dosen Pengampu:Dr. H. Fatah Syukur NC, M.Ag











Disusun Oleh:
Emi Kurniawati          123311004




FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2014


      I.          PENDAHULUAN
Modul merupakan salah satu bahan ajar dalam pelatihan, modul adalah media belajar dalam bentuk bahan cetak. Sebagai media cetak, modul  harus mampu memberi informasi yang mendukung dalam kegiatan pelatihan dan pembelajaran. Dalam pembuatan modul harus memperhatikan kedalaman, keluasan dan kecukupan uraian materinya. Artinya, modul harus memuat materi yang perlu dikuasai oleh peserta Diklat sesuai dengan standar kompetensi yang berlaku, selain itu modul juga didesain tidak hanya memperhatikan segi kebenaran materi, tetapi juga ketepatan komunikasi, tata saji, dan pedagogik. Penyajian uraian materi pada setiap modul ini harus jelas sehingga mudah dipahami dan dimengerti.
Hal yang harus diperhatikan dalam pengembangan modul adalah tingkat keterbacaan, yaitu mulai dari kosakata, kalimat, tata bahasa dan sebagainya. Keterbacaan modul ini dapat dilihat dari sistematika penyajian dan susunan paragraf, penggunaan kalimat, penggunaan kata dan istilah, kemudahan bahasa, kemenarikan bahasa. Selain itu, agar mudah dipelajari secara individu, modul hendaknya menjadi bahan belajar yang kominikatif.
Penyajian uaraian materi dalam modul hendaknya materinya relevan dengan tuntutan kompetensi atau tujuan pembelajaran.  Dengan kata lain, modul sebagai bahan belajar harus dapat memudahkan peserta Diklat. Selain itu, aspek lain yang harus diperhatikan dalam pengembangan modul adalah visualisasi modul. Pemberian visualisasi modul dimaksudkan untuk menjelaskan materi yang sulit, mempermudah pemahaman, mendorong minat peserta Diklat untuk belajar, memperkuat daya ingat dan menyederhanakan informasi yang sulit.
Untuk digunakan dalam pelatihan seharusnya dipilih kriteria modul yang baik. Dalam menulis modul juga perlu diperhatikan prinsip-prinsip dalam penulisan modul. Modul debagai bahan cetak juga tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan. Karena tidak semua media memiliki keuntungan saja pasti ada kekuranganya. Pemilihan modul yang baik dan yang berkualitas dapat memengaruhi keberhasilan peserta Diklat. Sehingga tujuan pelatihan dapat tercapai dengan baik dan peserta Diklat dapat memahami pelatihan dengan baik.

    II.          RUMUSAN MASALAH
A.    Apa pengertian dan fungsi modul Diklat?
B.    Bagaimana kriteria modul Diklat yang baik?
C.    Apa saja prinsip-prinsip dalam penulisan modul Diklat?
D.    Apa saja kelebihan dan kekurangan modul Diklat?
E.     Hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam membuat modul Diklat?

  III.          PEMBAHASAN
A.    Pengertian dan fungsi modul Diklat
1.     Pengertian Modul
Modul adalah bahan belajar yang dirancang sistemastis berdasarkan kurikulum tertentu  dan dikemas dalam bentuk satuan pembelajaran terkecil dan memungkinkan dapat dipelajari secara mandiri dalam satuan waktu tertentu..[1] Sedangkan pengertian dari modul diklat adalah alat bantu diklat yang digunakan dalam proses belajar mengajar berupa buku pegangan bagi instruktur maupun peserta diklat yang disusun secara sistematik, mencakup tujuan dan uraian materi diklat, latihan dan evaluasi terhadap peserta mengenai materi Diklat[2]. Modul biasanya berisi tentang:
a.      petunjuk belajar
b.     kompetensi yang akan dicapai
c.      isi materi
d.     informasi pendukung
e.      latihan-latihan
f.      petunjuk kerja
g.     evaluasi

Sebuah modul akan bermakna apabila peserta didik dapat dengan mudah mengunakannya. Dengan demikian modul harus menggambarkan kompetensi dasar yang akan dicapai oleh peserta didik, disajikan dengan menggunakan bahasa yang baik, menarik, dan dilengkapi dengan iluastrasi[3]. Modul sebagai bahan belajar cetak, yang secara dominan menggunakan bahasa tulis. Ragam bahasa yang digunakan hendaknya komunikatif dan interaktif. Jika bahasa yang dipakai kurang menarik dan sulit dicerna, tentu peserta akan bosan. Untuk menghindari pesan yang abstrak perlu digunakan visualisasi. Visualisasi memiliki peranan penting dan menentukan bagi pencapaian tingkat keberhasilan proses pembelajaran.
Visualisasi modul dapat dalam bentuk gambar, foto, lukisan, bagan, diagram, grafik, skema, flowchart,ilustrasi, kartun, dan tulisan hias. Selain itu, dapat dalam bentuk desain grafis, warna, ukuran, jarak, bentuk jenis huruf, dan lain lain. Bahkan pemberian gambar, bagan, diagram, grafik, skema, ilustrasi, dan lain lain dimaksudkan untuk memperjelas atau mendukung uarain materi modul. Artinya, pemberian visualisasi modul dapat mendukung atau mempermudah peserta Diklat dalam memahami setiap materi modul.[4]

2.     Fungsi dari modul Diklat
Modul Diklat memiliki beberapa fungsi yang dapat menunjang keberhasilan pelatihan, modul Diklat tidak hanya berfungsi bagi peserta Diklat tetapi juga berfungsi bagi intruktur Diklat. Beberapa fungsi dari modul Diklat akan diuraikan sebagai berikut.
Fungsi modul Diklat bagi peserta Diklat yaitu:
a.      Modul diklat digunakan  sebagai bahan belajar dalam kegiatan pembelajaraan peserta Diklat. Dengan modul peserta Diklat diharapkan dapat belajar lebih terarah dan sistematis.
b.      Dengan menggunakan modul Dilat, peserta Diklat diharapkan dapat menguasai kompetensi yang dituntut oleh kegiatan pembelajaran yang diikutinya
c.       Modul berfungsi memberikan petunjuk belajar bagi peserta Diklat selama mengikuti Diklat
d.     Modul  berfungsi meningkatkan motivasi belajar peserta Diklat

Fungsi modul Diklat bagi instruktur Diklat yaitu:
Bagi instruktur, modul berfungsi sebagai acuan dalam menyajikan dan memberikan materi pembelajaran selama Diklat atau kegiatan pembelajaran berlangsung serta meningkatkan kreativitas pelatih dalam mempersiapkan pembelajaran.[5]

B.    Kriteria modul Diklat yang baik
Modul yang baik disusun sesuai dengan kebutuhan belajar dalam sebuah proses pembelajaran, yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.     Dapat dipelajari oleh peserta secara mandiri, tanpa bantuan atau seminimum mungkin bantuan dari widyaiswara (self instructional).
2.      Mencakup deskripsi dan tujuan mata diklat, standar kompetensi yang harus dicapai, kompetensi dasar, indikator keberhasilan peserta, metode, rangkuman, latihan-latihan, yang secara keseluruhan ditulis dan dikemas dalam satu kesatuan yang utuh (self contained).
3.     Dapat dipelajari secara tuntas, tidak tergantung pada media lain atau tidak harus digunakan bersama-sama dengan media lain (independent).
4.     Memuat alat evaluasi pembelajaran untuk mengukur tingkat kecakapan peserta terhadap modul (self assessed).
5.     miliki sistematika penyusunan yang mudah dipahami dengan bahasa yang mudah dan lugas, sehingga dapat dipergunakan sesuai dengan tingkat pengetahuan peserta diklat (user friendly)[6].


C.    Prinsip-prinsip dalam penulisan modul Diklat
Sebagai panduan pembelajaran mandiri, modul harus ditulis dengan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1.     Memenuhi 5 (lima) kriteria modul diklat yang baik.
2.     Modul yang disusun harus mengacu pada kurikulum Diklat dan digunakan dalam suatu program Diklat.
3.     Disusun secara rasional atas dasar analisis, sesuai dengan tingkat kompetensi yang harus dicapai oleh peserta diklat setelah menguasai modul.
4.     Memuat indikator keberhasilan agar peserta diklat dapat mengetahui secara jelas hasil belajar yang menjadi tujuan pembelajaran.
5.     Isi modul harus merupakan bahan yang terkini (up-to-date), sesuai dengan tuntutan perkembangan.
6.     Memuat contoh-contoh dan latihan-latihan yang relevan sehingga peserta diklat dapat menerapkan di lingkungan kerjanya.
7.     Sumber pustaka yang dipergunakan minimal 5 (lima) referensi, baik dalam bentuk buku atau karya tulis ilmiah, yang tahun penerbitannya tidak lebih 10 tahun sebelum modul ditulis;
8.     Acuan dalam bentuk peraturan dan perundangan harus merujuk pada peraturan dan perundangan yang berlaku.
9.      Ditulis oleh perorangan atau tim yang ditugaskan oleh pimpinan instansi, dengan anggota tidak lebih dari 2 (dua) orang yang kompeten dalam bidang yang ditulis.[7]

D.    Kelebihan dan kekurangan modul Diklat
Modul sebagai bahan ajar dalam Diklat juga mempunyai kelebihan dan kekurangan yang akan diuraikan  sebagai berikut:



1.     Kelebihan  modul Diklat
a.   Peserta didik dalam pelatihan dapat belajar dan maju sesuai dengan kecepatan masing-masing karena materi yang dirancang disesuaikan sesuai  kebutuhan sehingga peserta diharapkan materi dalam modul.
b.   Peserta didik dapat membaca dan mempelajari materinya secara mandiri.
c.   Peserta dapat berinteraksi aktif karena harus merespon pertanyaan dan latihan dalam modul.
d.   Modul merupakan media belajar cetak yang dapat di produksi dan di distribusikan dengan mudah.

2.     Kekurangan modul Diklat
a.      Biaya percetakan mahal apabila ingin menampilkan ilustrasi, gambar, atau foto yang berwarna warni dalam kualitas yang sangat tinggi.
b.     Pembagian unit-unit materi harus dirancang sedemikian rupa sehingga tidak terlalu panjang dan membosankan.
c.      Modul merupakan media cetak yang apabila tidak dirawat dengan baik akan rusak atau hilang[8].

E.    Hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam membuat modul Diklat
Modul sebagai bahan belajar utama harus memuat materi pembelajaran yang perlu dikuasai oleh peserta Diklat dan memungkinkannya untuk mencapai kompetensi, oleh karena itu dalam pembuatan modul Diklat perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1.     Modul perlu memperhatikan kedalaman, keluasan dan kecukupan uraian materinya. Artinya, modul harus memuat materi yang perlu dikuasai oleh peserta Diklat sesuai dengan standar kompetensi yang berlaku.
2.     Modul didesain tidak hanya memperhatikan segi kebenaran materi, tetapi juga ketepatan komunikasi, tata saji, dan pedagogik. Penyajian uraian materi pada setiap modul ini harus jelas sehingga mudah dipahami dan dimengerti.
3.     Penyajian uaraian materi dalam modul hendaknya materinya relevan dengan tuntutan kompetensi atau tujuan pembelajaran.[9]
4.     Penyajian materi pembelajaran dalam modul sebaiknya dibagi menjadi beberapa kegiatan belajar yang menjadikan topik-topik yang tidak terlalu luas atau terlalu dalam sehingga mudah dicerna oleh peserta Diklat.
5.     Pemberian contoh, ilustrasi, dan lain lain dalam uraian materi modul harus sesuai atau relevan dengan uraian materi pada setiap modul sehingga mudah dipahami.
6.     Modul untuk menyampaikan sebuah materi pembelajaran harus dengan menggunakan bahasa tertulis dan pola pembelajaran dalam modul hendaknya pembelajaran yang bermakna dan mengaktifkan.
7.     Penyajian materi modul harus dapat mendorong keterlibatan peserta Diklat secara intelektual dan emosional pembelajaran.
8.     Penyajian materi modul harus dapat mendorong peserta Diklat untuk menemukan/mengontruksi sendiri konsep yang sedang dipelajari melalui penafsiran yang dilakukan dengan berbagai tugas, seperti melakukan observasi, diskusi, dan percobaan[10].

  IV.          ANALISIS
Dalam sebuah pelatihan atau pembelajaran biasanya memerlukan sebuah bahan ajar. Dalam Diklat bahan ajar yang biasanya digunakan adalah modul Diklat. Modul Diklat digunakan untuk peserta Diklat maupun untuk instrukur. Penggunaan modul Diklat haruslah digunakan sebaik mungkin agar bermakna bagi peserta Diklat. Karena pemahaman peserta Diklat terhadap modul berpengaruh pada keberhasilan pelatihan.
Kriteria modul yang baik adalah apabila modul tersebut isi materinya bisa membuat peserta Diklat merasa paham dan mengerti. Sebaiknya bahasa dalam modul dibuat menarik dan perlu adanya pemberian visualisasi untuk memperjelas uraian materi. Apabila isi materi sulit dipahami maka akan berpengaruh apada keberhasilan pelatihan dari peserta Diklat. Bukan hanya dari isi materi saja yang mendapat perhatian dalam modul Diklat, tetapi  juga tentang sistematika penulisannya juga perlu di atur dengan baik.
 Isi modul biasanya dilengkapi dengan latihan-latihan soal gunanya untuk mengetahui perkembangan peserta Diklat dalam memahami materi Diklat tersebut. Selin sebagai bahan ajar bagi peserta Diklat, modul juga berfungsi bagi intstruktur sebagai acuan dalam menyajikan dan memberikan materi pembelajaran selama Diklat atau kegiatan pembelajaran berlangsung serta meningkatkan kreativitas pelatih dalam mempersiapkan pembelajaran.
Untuk bahan ajar modul Diklat ini memiliki yaitu peserta didik dalam pelatihan dapat belajar dan maju sesuai dengan kecepatan masing-masing karena materi yang dirancang disesuaikan sesuai  kebutuhan sehingga peserta diharapkan materi dalam modul, peserta didik dapat membaca dan mempelajari materinya secara mandiri, peserta dapat berinteraksi aktif karena harus merespon pertanyaan dan latihan dalam modul, modul merupakan media belajar cetak yang dapat di produksi dan di distribusikan dengan mudah.
Modul yang berkualitas dapat mempengaruhi keberhasilan peserta Diklat. Oleh karena itu, modul sebagai bahan belajar cetak seharusnya dapat mengembangkan strategi dan ketrampilan belajar peserta Diklat, ditata sesuai dengan kebutuhan peserta Diklat, berisi fitur, tanda, atau simbol yang dapat memotivasi peserta Diklat, mendorong peserta untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari, memberikan cukup latihan yang dapat memajukan belajar, menuntut kegiatan membaca dan aktivitas dan mengemas sajian yang dapat membantu untuk dapat belajar secara efisien.
Untuk bahan belajar cetak seperti modul dalam Diklat juga harus disusun sedemikian rupa sehingga membuat peserta Diklat belajar aktif. Teknik-teknik yang digunsksn untuk mengaktifkan peserta Diklat adalah yang pertama harus merumuskan tujuan instruksional secara jelas, isinya bukan saja berbentuk uraian, melainkan juga kegiatan latihan, perumusan ringkasan, penyediaan soal atau tes, penggunaan huruf tebal dan huruf miring pada judul bab, judul subbab, dan kata-kata kunci.



    V.          KESIMPULAN
Modul diklat adalah alat bantu diklat yang digunakan dalam proses belajar mengajar berupa buku pegangan bagi instruktur maupun peserta diklat yang disusun secara sistematik, mencakup tujuan dan uraian materi diklat, latihan dan evaluasi terhadap peserta mengenai materi diklat.Fungsi modul Diklat bagi peserta Diklat yaitu digunakan  sebagai bahan belajar dalam kegiatan pembelajaraan peserta Diklat. Fungsi modul Diklat bagi instruktur Diklat yaitu berfungsi sebagai acuan dalam menyajikan dan memberikan materi pembelajaran selama Diklat atau kegiatan pembelajaran berlangsung serta meningkatkan kreativitas pelatih dalam mempersiapkan pembelajaran.
Modul yang baik disusun sesuai dengan kebutuhan belajar dalam sebuah proses pembelajaran, yang memiliki ciri-ciri yaitu self instructional, self contained ,self independent, assessed, user friendy.Sebagai panduan pembelajaran mandiri, modul harus ditulis dengan prinsip-prinsip diantaranya adalah memenuhi 5 (lima) kriteria modul diklat yang baik, modul yang disusun harus mengacu pada kurikulum Diklat dan digunakan dalam suatu program Diklat, disusun secara rasional atas dasar analisis, sesuai dengan tingkat kompetensi yang harus dicapai oleh peserta diklat setelah menguasai modul, memuat indikator keberhasilan agar peserta diklat dapat mengetahui secara jelas hasil belajar yang menjadi tujuan pembelajaran, isi modul harus merupakan bahan yang terkini (up-to-date), sesuai dengan tuntutan perkembangan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat modul Diklat diantaranya adalah Modul perlu memperhatikan kedalaman, keluasan dan kecukupan uraian materinya. Artinya, modul harus memuat materi yang perlu dikuasai oleh peserta Diklat sesuai dengan standar kompetensi yang berlaku dan penyajian uraian materi pada setiap modul ini harus jelas sehingga mudah dipahami dan dimengerti.
 Kelebihan  modul Diklat yaitu peserta didik dalam pelatihan dapat belajar dan maju sesuai dengan kecepatan masing-masing karena materi yang dirancang disesuaikan sesuai  kebutuhan sehingga peserta diharapkan materi dalam modul, peserta didik dapat membaca dan mempelajari materinya secara mandiri, peserta dapat berinteraksi aktif karena harus merespon pertanyaan dan latihan dalam modul, modul merupakan media belajar cetak yang dapat di produksi dan di distribusikan dengan mudah. Sedangkan Kekurangan modul Diklat yaitu biaya percetakan mahal apabila ingin menampilkan ilustrasi, gambar, atau foto yang berwarna warni dalam kualitas yang sangat tinggi, pembagian unit-unit materi harus dirancang sedemikian rupa sehingga tidak terlalu panjang dan membosankan, modul merupakan media cetak yang apabila tidak dirawat dengan baik akan rusak atau hilang.

  VI.          PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat saya buat, saya menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kami mengharap kritik dan saran dari para pembaca, guna perbaikan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin...





















DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Azhar, 2003, Media Pembelajaran, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Majid,  Abdul,  2008, Perencanaan Pembelajaran, Bandung: PT Rosda Karya.
Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor: 5 Tahun 2009 tentang Pedoman Penulisan Modul Pendidikan dan Pelatihan, (Lemabaga Administrasi Negara: Jakarta, 2009.
Warsita, Bambang, 2011,  PENDIDIKAN JARAK JAUH, perancangan, pengembangan, implementasi Diklat, Bandung: PT Remaja Rosda Karya,
http:// www.riyadi.blogspot.com/2012/06/pengertian-modul.html diakses 26/10/2014 pukul 11.04



[1] Bambang Warsita, PENDIDIKAN JARAK JAUH, perancangan, pengembangan, implementasi Diklat, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2011), hlm.111
[2] http:// www.riyadi.blogspot.com/2012/06/pengertian-modul.html diakses 26/10/2014 pukul 11.04
[3] Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran, (Bandung: PT Rosda Karya, 2008) hlm. 174
[4] Bambang Warsita, PENDIDIKAN JARAK JAUH, perancangan, pengembangan, implementasi Diklat…..hlm.115
 MODUL PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
Makalah
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Manajemen Pendidikan dan Pelatihan
Dosen Pengampu:Dr. H. Fatah Syukur NC, M.Ag


 








y



Disusun Oleh:
Emi Kurniawati          123311004




FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2014


      I.          PENDAHULUAN
Modul merupakan salah satu bahan ajar dalam pelatihan, modul adalah media belajar dalam bentuk bahan cetak. Sebagai media cetak, modul  harus mampu memberi informasi yang mendukung dalam kegiatan pelatihan dan pembelajaran. Dalam pembuatan modul harus memperhatikan kedalaman, keluasan dan kecukupan uraian materinya. Artinya, modul harus memuat materi yang perlu dikuasai oleh peserta Diklat sesuai dengan standar kompetensi yang berlaku, selain itu modul juga didesain tidak hanya memperhatikan segi kebenaran materi, tetapi juga ketepatan komunikasi, tata saji, dan pedagogik. Penyajian uraian materi pada setiap modul ini harus jelas sehingga mudah dipahami dan dimengerti.
Hal yang harus diperhatikan dalam pengembangan modul adalah tingkat keterbacaan, yaitu mulai dari kosakata, kalimat, tata bahasa dan sebagainya. Keterbacaan modul ini dapat dilihat dari sistematika penyajian dan susunan paragraf, penggunaan kalimat, penggunaan kata dan istilah, kemudahan bahasa, kemenarikan bahasa. Selain itu, agar mudah dipelajari secara individu, modul hendaknya menjadi bahan belajar yang kominikatif.
Penyajian uaraian materi dalam modul hendaknya materinya relevan dengan tuntutan kompetensi atau tujuan pembelajaran.  Dengan kata lain, modul sebagai bahan belajar harus dapat memudahkan peserta Diklat. Selain itu, aspek lain yang harus diperhatikan dalam pengembangan modul adalah visualisasi modul. Pemberian visualisasi modul dimaksudkan untuk menjelaskan materi yang sulit, mempermudah pemahaman, mendorong minat peserta Diklat untuk belajar, memperkuat daya ingat dan menyederhanakan informasi yang sulit.
Untuk digunakan dalam pelatihan seharusnya dipilih kriteria modul yang baik. Dalam menulis modul juga perlu diperhatikan prinsip-prinsip dalam penulisan modul. Modul debagai bahan cetak juga tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan. Karena tidak semua media memiliki keuntungan saja pasti ada kekuranganya. Pemilihan modul yang baik dan yang berkualitas dapat memengaruhi keberhasilan peserta Diklat. Sehingga tujuan pelatihan dapat tercapai dengan baik dan peserta Diklat dapat memahami pelatihan dengan baik.

    II.          RUMUSAN MASALAH
A.    Apa pengertian dan fungsi modul Diklat?
B.    Bagaimana kriteria modul Diklat yang baik?
C.    Apa saja prinsip-prinsip dalam penulisan modul Diklat?
D.    Apa saja kelebihan dan kekurangan modul Diklat?
E.     Hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam membuat modul Diklat?

  III.          PEMBAHASAN
A.    Pengertian dan fungsi modul Diklat
1.     Pengertian Modul
Modul adalah bahan belajar yang dirancang sistemastis berdasarkan kurikulum tertentu  dan dikemas dalam bentuk satuan pembelajaran terkecil dan memungkinkan dapat dipelajari secara mandiri dalam satuan waktu tertentu..[1] Sedangkan pengertian dari modul diklat adalah alat bantu diklat yang digunakan dalam proses belajar mengajar berupa buku pegangan bagi instruktur maupun peserta diklat yang disusun secara sistematik, mencakup tujuan dan uraian materi diklat, latihan dan evaluasi terhadap peserta mengenai materi Diklat[2]. Modul biasanya berisi tentang:
a.      petunjuk belajar
b.     kompetensi yang akan dicapai
c.      isi materi
d.     informasi pendukung
e.      latihan-latihan
f.      petunjuk kerja
g.     evaluasi

Sebuah modul akan bermakna apabila peserta didik dapat dengan mudah mengunakannya. Dengan demikian modul harus menggambarkan kompetensi dasar yang akan dicapai oleh peserta didik, disajikan dengan menggunakan bahasa yang baik, menarik, dan dilengkapi dengan iluastrasi[3]. Modul sebagai bahan belajar cetak, yang secara dominan menggunakan bahasa tulis. Ragam bahasa yang digunakan hendaknya komunikatif dan interaktif. Jika bahasa yang dipakai kurang menarik dan sulit dicerna, tentu peserta akan bosan. Untuk menghindari pesan yang abstrak perlu digunakan visualisasi. Visualisasi memiliki peranan penting dan menentukan bagi pencapaian tingkat keberhasilan proses pembelajaran.
Visualisasi modul dapat dalam bentuk gambar, foto, lukisan, bagan, diagram, grafik, skema, flowchart,ilustrasi, kartun, dan tulisan hias. Selain itu, dapat dalam bentuk desain grafis, warna, ukuran, jarak, bentuk jenis huruf, dan lain lain. Bahkan pemberian gambar, bagan, diagram, grafik, skema, ilustrasi, dan lain lain dimaksudkan untuk memperjelas atau mendukung uarain materi modul. Artinya, pemberian visualisasi modul dapat mendukung atau mempermudah peserta Diklat dalam memahami setiap materi modul.[4]

2.     Fungsi dari modul Diklat
Modul Diklat memiliki beberapa fungsi yang dapat menunjang keberhasilan pelatihan, modul Diklat tidak hanya berfungsi bagi peserta Diklat tetapi juga berfungsi bagi intruktur Diklat. Beberapa fungsi dari modul Diklat akan diuraikan sebagai berikut.
Fungsi modul Diklat bagi peserta Diklat yaitu:
a.      Modul diklat digunakan  sebagai bahan belajar dalam kegiatan pembelajaraan peserta Diklat. Dengan modul peserta Diklat diharapkan dapat belajar lebih terarah dan sistematis.
b.      Dengan menggunakan modul Dilat, peserta Diklat diharapkan dapat menguasai kompetensi yang dituntut oleh kegiatan pembelajaran yang diikutinya
c.       Modul berfungsi memberikan petunjuk belajar bagi peserta Diklat selama mengikuti Diklat
d.     Modul  berfungsi meningkatkan motivasi belajar peserta Diklat

Fungsi modul Diklat bagi instruktur Diklat yaitu:
Bagi instruktur, modul berfungsi sebagai acuan dalam menyajikan dan memberikan materi pembelajaran selama Diklat atau kegiatan pembelajaran berlangsung serta meningkatkan kreativitas pelatih dalam mempersiapkan pembelajaran.[5]

B.    Kriteria modul Diklat yang baik
Modul yang baik disusun sesuai dengan kebutuhan belajar dalam sebuah proses pembelajaran, yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.     Dapat dipelajari oleh peserta secara mandiri, tanpa bantuan atau seminimum mungkin bantuan dari widyaiswara (self instructional).
2.      Mencakup deskripsi dan tujuan mata diklat, standar kompetensi yang harus dicapai, kompetensi dasar, indikator keberhasilan peserta, metode, rangkuman, latihan-latihan, yang secara keseluruhan ditulis dan dikemas dalam satu kesatuan yang utuh (self contained).
3.     Dapat dipelajari secara tuntas, tidak tergantung pada media lain atau tidak harus digunakan bersama-sama dengan media lain (independent).
4.     Memuat alat evaluasi pembelajaran untuk mengukur tingkat kecakapan peserta terhadap modul (self assessed).
5.     miliki sistematika penyusunan yang mudah dipahami dengan bahasa yang mudah dan lugas, sehingga dapat dipergunakan sesuai dengan tingkat pengetahuan peserta diklat (user friendly)[6].


C.    Prinsip-prinsip dalam penulisan modul Diklat
Sebagai panduan pembelajaran mandiri, modul harus ditulis dengan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1.     Memenuhi 5 (lima) kriteria modul diklat yang baik.
2.     Modul yang disusun harus mengacu pada kurikulum Diklat dan digunakan dalam suatu program Diklat.
3.     Disusun secara rasional atas dasar analisis, sesuai dengan tingkat kompetensi yang harus dicapai oleh peserta diklat setelah menguasai modul.
4.     Memuat indikator keberhasilan agar peserta diklat dapat mengetahui secara jelas hasil belajar yang menjadi tujuan pembelajaran.
5.     Isi modul harus merupakan bahan yang terkini (up-to-date), sesuai dengan tuntutan perkembangan.
6.     Memuat contoh-contoh dan latihan-latihan yang relevan sehingga peserta diklat dapat menerapkan di lingkungan kerjanya.
7.     Sumber pustaka yang dipergunakan minimal 5 (lima) referensi, baik dalam bentuk buku atau karya tulis ilmiah, yang tahun penerbitannya tidak lebih 10 tahun sebelum modul ditulis;
8.     Acuan dalam bentuk peraturan dan perundangan harus merujuk pada peraturan dan perundangan yang berlaku.
9.      Ditulis oleh perorangan atau tim yang ditugaskan oleh pimpinan instansi, dengan anggota tidak lebih dari 2 (dua) orang yang kompeten dalam bidang yang ditulis.[7]

D.    Kelebihan dan kekurangan modul Diklat
Modul sebagai bahan ajar dalam Diklat juga mempunyai kelebihan dan kekurangan yang akan diuraikan  sebagai berikut:



1.     Kelebihan  modul Diklat
a.   Peserta didik dalam pelatihan dapat belajar dan maju sesuai dengan kecepatan masing-masing karena materi yang dirancang disesuaikan sesuai  kebutuhan sehingga peserta diharapkan materi dalam modul.
b.   Peserta didik dapat membaca dan mempelajari materinya secara mandiri.
c.   Peserta dapat berinteraksi aktif karena harus merespon pertanyaan dan latihan dalam modul.
d.   Modul merupakan media belajar cetak yang dapat di produksi dan di distribusikan dengan mudah.

2.     Kekurangan modul Diklat
a.      Biaya percetakan mahal apabila ingin menampilkan ilustrasi, gambar, atau foto yang berwarna warni dalam kualitas yang sangat tinggi.
b.     Pembagian unit-unit materi harus dirancang sedemikian rupa sehingga tidak terlalu panjang dan membosankan.
c.      Modul merupakan media cetak yang apabila tidak dirawat dengan baik akan rusak atau hilang[8].

E.    Hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam membuat modul Diklat
Modul sebagai bahan belajar utama harus memuat materi pembelajaran yang perlu dikuasai oleh peserta Diklat dan memungkinkannya untuk mencapai kompetensi, oleh karena itu dalam pembuatan modul Diklat perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1.     Modul perlu memperhatikan kedalaman, keluasan dan kecukupan uraian materinya. Artinya, modul harus memuat materi yang perlu dikuasai oleh peserta Diklat sesuai dengan standar kompetensi yang berlaku.
2.     Modul didesain tidak hanya memperhatikan segi kebenaran materi, tetapi juga ketepatan komunikasi, tata saji, dan pedagogik. Penyajian uraian materi pada setiap modul ini harus jelas sehingga mudah dipahami dan dimengerti.
3.     Penyajian uaraian materi dalam modul hendaknya materinya relevan dengan tuntutan kompetensi atau tujuan pembelajaran.[9]
4.     Penyajian materi pembelajaran dalam modul sebaiknya dibagi menjadi beberapa kegiatan belajar yang menjadikan topik-topik yang tidak terlalu luas atau terlalu dalam sehingga mudah dicerna oleh peserta Diklat.
5.     Pemberian contoh, ilustrasi, dan lain lain dalam uraian materi modul harus sesuai atau relevan dengan uraian materi pada setiap modul sehingga mudah dipahami.
6.     Modul untuk menyampaikan sebuah materi pembelajaran harus dengan menggunakan bahasa tertulis dan pola pembelajaran dalam modul hendaknya pembelajaran yang bermakna dan mengaktifkan.
7.     Penyajian materi modul harus dapat mendorong keterlibatan peserta Diklat secara intelektual dan emosional pembelajaran.
8.     Penyajian materi modul harus dapat mendorong peserta Diklat untuk menemukan/mengontruksi sendiri konsep yang sedang dipelajari melalui penafsiran yang dilakukan dengan berbagai tugas, seperti melakukan observasi, diskusi, dan percobaan[10].

  IV.          ANALISIS
Dalam sebuah pelatihan atau pembelajaran biasanya memerlukan sebuah bahan ajar. Dalam Diklat bahan ajar yang biasanya digunakan adalah modul Diklat. Modul Diklat digunakan untuk peserta Diklat maupun untuk instrukur. Penggunaan modul Diklat haruslah digunakan sebaik mungkin agar bermakna bagi peserta Diklat. Karena pemahaman peserta Diklat terhadap modul berpengaruh pada keberhasilan pelatihan.
Kriteria modul yang baik adalah apabila modul tersebut isi materinya bisa membuat peserta Diklat merasa paham dan mengerti. Sebaiknya bahasa dalam modul dibuat menarik dan perlu adanya pemberian visualisasi untuk memperjelas uraian materi. Apabila isi materi sulit dipahami maka akan berpengaruh apada keberhasilan pelatihan dari peserta Diklat. Bukan hanya dari isi materi saja yang mendapat perhatian dalam modul Diklat, tetapi  juga tentang sistematika penulisannya juga perlu di atur dengan baik.
 Isi modul biasanya dilengkapi dengan latihan-latihan soal gunanya untuk mengetahui perkembangan peserta Diklat dalam memahami materi Diklat tersebut. Selin sebagai bahan ajar bagi peserta Diklat, modul juga berfungsi bagi intstruktur sebagai acuan dalam menyajikan dan memberikan materi pembelajaran selama Diklat atau kegiatan pembelajaran berlangsung serta meningkatkan kreativitas pelatih dalam mempersiapkan pembelajaran.
Untuk bahan ajar modul Diklat ini memiliki yaitu peserta didik dalam pelatihan dapat belajar dan maju sesuai dengan kecepatan masing-masing karena materi yang dirancang disesuaikan sesuai  kebutuhan sehingga peserta diharapkan materi dalam modul, peserta didik dapat membaca dan mempelajari materinya secara mandiri, peserta dapat berinteraksi aktif karena harus merespon pertanyaan dan latihan dalam modul, modul merupakan media belajar cetak yang dapat di produksi dan di distribusikan dengan mudah.
Modul yang berkualitas dapat mempengaruhi keberhasilan peserta Diklat. Oleh karena itu, modul sebagai bahan belajar cetak seharusnya dapat mengembangkan strategi dan ketrampilan belajar peserta Diklat, ditata sesuai dengan kebutuhan peserta Diklat, berisi fitur, tanda, atau simbol yang dapat memotivasi peserta Diklat, mendorong peserta untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari, memberikan cukup latihan yang dapat memajukan belajar, menuntut kegiatan membaca dan aktivitas dan mengemas sajian yang dapat membantu untuk dapat belajar secara efisien.
Untuk bahan belajar cetak seperti modul dalam Diklat juga harus disusun sedemikian rupa sehingga membuat peserta Diklat belajar aktif. Teknik-teknik yang digunsksn untuk mengaktifkan peserta Diklat adalah yang pertama harus merumuskan tujuan instruksional secara jelas, isinya bukan saja berbentuk uraian, melainkan juga kegiatan latihan, perumusan ringkasan, penyediaan soal atau tes, penggunaan huruf tebal dan huruf miring pada judul bab, judul subbab, dan kata-kata kunci.



    V.          KESIMPULAN
Modul diklat adalah alat bantu diklat yang digunakan dalam proses belajar mengajar berupa buku pegangan bagi instruktur maupun peserta diklat yang disusun secara sistematik, mencakup tujuan dan uraian materi diklat, latihan dan evaluasi terhadap peserta mengenai materi diklat.Fungsi modul Diklat bagi peserta Diklat yaitu digunakan  sebagai bahan belajar dalam kegiatan pembelajaraan peserta Diklat. Fungsi modul Diklat bagi instruktur Diklat yaitu berfungsi sebagai acuan dalam menyajikan dan memberikan materi pembelajaran selama Diklat atau kegiatan pembelajaran berlangsung serta meningkatkan kreativitas pelatih dalam mempersiapkan pembelajaran.
Modul yang baik disusun sesuai dengan kebutuhan belajar dalam sebuah proses pembelajaran, yang memiliki ciri-ciri yaitu self instructional, self contained ,self independent, assessed, user friendy.Sebagai panduan pembelajaran mandiri, modul harus ditulis dengan prinsip-prinsip diantaranya adalah memenuhi 5 (lima) kriteria modul diklat yang baik, modul yang disusun harus mengacu pada kurikulum Diklat dan digunakan dalam suatu program Diklat, disusun secara rasional atas dasar analisis, sesuai dengan tingkat kompetensi yang harus dicapai oleh peserta diklat setelah menguasai modul, memuat indikator keberhasilan agar peserta diklat dapat mengetahui secara jelas hasil belajar yang menjadi tujuan pembelajaran, isi modul harus merupakan bahan yang terkini (up-to-date), sesuai dengan tuntutan perkembangan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat modul Diklat diantaranya adalah Modul perlu memperhatikan kedalaman, keluasan dan kecukupan uraian materinya. Artinya, modul harus memuat materi yang perlu dikuasai oleh peserta Diklat sesuai dengan standar kompetensi yang berlaku dan penyajian uraian materi pada setiap modul ini harus jelas sehingga mudah dipahami dan dimengerti.
 Kelebihan  modul Diklat yaitu peserta didik dalam pelatihan dapat belajar dan maju sesuai dengan kecepatan masing-masing karena materi yang dirancang disesuaikan sesuai  kebutuhan sehingga peserta diharapkan materi dalam modul, peserta didik dapat membaca dan mempelajari materinya secara mandiri, peserta dapat berinteraksi aktif karena harus merespon pertanyaan dan latihan dalam modul, modul merupakan media belajar cetak yang dapat di produksi dan di distribusikan dengan mudah. Sedangkan Kekurangan modul Diklat yaitu biaya percetakan mahal apabila ingin menampilkan ilustrasi, gambar, atau foto yang berwarna warni dalam kualitas yang sangat tinggi, pembagian unit-unit materi harus dirancang sedemikian rupa sehingga tidak terlalu panjang dan membosankan, modul merupakan media cetak yang apabila tidak dirawat dengan baik akan rusak atau hilang.

  VI.          PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat saya buat, saya menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kami mengharap kritik dan saran dari para pembaca, guna perbaikan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin...





















DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Azhar, 2003, Media Pembelajaran, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Majid,  Abdul,  2008, Perencanaan Pembelajaran, Bandung: PT Rosda Karya.
Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor: 5 Tahun 2009 tentang Pedoman Penulisan Modul Pendidikan dan Pelatihan, (Lemabaga Administrasi Negara: Jakarta, 2009.
Warsita, Bambang, 2011,  PENDIDIKAN JARAK JAUH, perancangan, pengembangan, implementasi Diklat, Bandung: PT Remaja Rosda Karya,
http:// www.riyadi.blogspot.com/2012/06/pengertian-modul.html diakses 26/10/2014 pukul 11.04



[1] Bambang Warsita, PENDIDIKAN JARAK JAUH, perancangan, pengembangan, implementasi Diklat, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2011), hlm.111
[2] http:// www.riyadi.blogspot.com/2012/06/pengertian-modul.html diakses 26/10/2014 pukul 11.04
[3] Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran, (Bandung: PT Rosda Karya, 2008) hlm. 174
[4] Bambang Warsita, PENDIDIKAN JARAK JAUH, perancangan, pengembangan, implementasi Diklat…..hlm.115

[5] Bambang Warsita, PENDIDIKAN JARAK JAUH, perancangan, pengembangan, implementasi Diklat…..hlm.111
[6] Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor: 5 Tahun 2009 tentang Pedoman Penulisan Modul Pendidikan dan Pelatihan, (Lemabaga Administrasi Negara: Jakarta, 2009), hlm.4
[7] Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor: 5 Tahun 2009 tentang Pedoman Penulisan Modul Pendidikan dan Pelatihan, (Lemabaga Administrasi Negara: Jakarta, 2009), hlm.5
[8] Azhar, Arsyad, Media Pembelajaran, ( Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003), hlm. 38
[9] Bambang Warsita, PENDIDIKAN JARAK JAUH, perancangan, pengembangan, implementasi Diklat…..hlm.113
[10] [10] Bambang Warsita, PENDIDIKAN JARAK JAUH, perancangan, pengembangan, implementasi Diklat…..hlm.115
[5] Bambang Warsita, PENDIDIKAN JARAK JAUH, perancangan, pengembangan, implementasi Diklat…..hlm.111
[6] Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor: 5 Tahun 2009 tentang Pedoman Penulisan Modul Pendidikan dan Pelatihan, (Lemabaga Administrasi Negara: Jakarta, 2009), hlm.4
[7] Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor: 5 Tahun 2009 tentang Pedoman Penulisan Modul Pendidikan dan Pelatihan, (Lemabaga Administrasi Negara: Jakarta, 2009), hlm.5
[8] Azhar, Arsyad, Media Pembelajaran, ( Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003), hlm. 38
[9] Bambang Warsita, PENDIDIKAN JARAK JAUH, perancangan, pengembangan, implementasi Diklat…..hlm.113
[10] [10] Bambang Warsita, PENDIDIKAN JARAK JAUH, perancangan, pengembangan, implementasi Diklat…..hlm.115

No comments:

Post a Comment